by

Generasi Milenial dan Pancasila, Kunci Indonesia Emas 2045

Kabar Damai | Minggu, 3 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Generasi milenial menjadi  motor penggerak bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Mereka merupakan aktor utama yang diharapkan dapat terus mengamalkan nilai luhur Pancasila sebagai falsafah bangsa, di tengah arus globalisasi.

Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Padjajaran, Prof Rina Indiastuti, pada sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

Di era perkembangan teknologi yang pesat, melansir laman nu.or.id (2/10), menurut Senior Media dan Kampanye Wahid Foundation Siti Kholisoh, Pancasila memuat nilai-nilai universal yang tidak akan tergantikan oleh algoritma teknologi. Warga bangsa tetap perlu menerapkan Pancasila sebagai landasan hidup, yang juga berfungsi sebagai benang persatuan.

Perempuan penerima beasiswa Multifaith Women Leadership di Deakin University itu menjelaskan, sejatinya milenial adalah Pancasila itu sendiri. Generasi milenial dinilai memiliki karakteristik yang khas dan sama dengan nilai-nilai pancasila. Milenial, menurut Olis, adalah generasi yang adaptif, begitu juga Pancasila yang mampu beradaptasi dengan segala perkembangan peradaban.

“Milenial memiliki pemikiran yang terbuka, tidak gampang melakukan stigmatisasi bahkan judgment kepada hal, orang, atau kelompok yang berbeda dengan pemahaman yang dilakukan. Ini juga karakter Pancasila, yang selalu mengedepankan keterbukaan dan dialog,” jelas Olis sapaan akrabnya kepada NU Online, Jumat, 1 Oktober 2021.

Baca Juga: Ideologi Pancasila Menjadi Pemandu Arah Bangsa

Kendati demikian, strategi penguatan dan implementasi nilai Pancasila pada seluruh lapisan masyarakat, terkhusus milenial perlu selalu dicanangkan. Pasalnya, Pancasila akan tetap gagah apabila setiap individu mampu mengamalkan nilai-nilainya sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara. Bukan hanya menjadi bacaan dan hafalan belaka.

“Sederhana tapi barangkali perlu serius. Anak muda atau milenial harus terlibat dalam upaya membangun relasi sosial sehat, setara dan tidak merugikan. Dengan begitu, anak muda menjadi generasi yang matang, generasi yg matang adalah harapan bangsa,” terang Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia tersebut.

 

Titik Berangkat Sekaligus Tujuan

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (RI), Nadiem Anwar Makarim pada Pidato Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2021 mengatakan bahwa Pancasila adalah titik berangkat sekaligus tujuan dari pembangunan yang kelak akan dilungsurkan kepada para pelajar Pancasila.

Sebagai penerus estafet pembangunan, kemerdekaan anak-anak Indonesia untuk mengembangkan potensinya adalah kunci dari kebangkitan dan kemajuan bangsa. Upaya melahirkan generasi pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis dapat dilakukan dengan memberikan kemerdekaan belajar.

Melahirkan generasi pelajar Pancasila, menurutnya, dapat kembali menyelaraskan pembangunan baik sumber daya alam, maupun manusia. Hal ini dijelaskannya lantaran upaya pembangunan yang terlihat hari ini lebih berfokus pada hasil akhir yang cenderung mengesampingkan intergrasi sosial budaya dan pelestarian lingkungan.

“Menyadari hal tersebut, inilah waktunya kita merancang keseimbangan baru yang mengedepankan kemajuan semua kelompok masyarakat dan memprioritaskan konservasi alam,” terang Menteri kelahiran 4 Juli 1984 tersebut.

 

Pancasila Perlu Direkatkan ke Generasi Milenial

Dalam momen berbeda, Dr Hadawiah Hatita menyampaikan bahwa Ideologi Pancasila harus direkatkan ke generasi milenial yang tantangannya lebih kompleks di masa depan. Usulan ini disampaikan akademisi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada Jumat, 1 Oktober 2021.

Menurut Hadawiah, dilansir dari  Koran-jakarta.com (2/10), ideologi Pancasila baik sejarah maupun upaya mempertahankannya harus diketahui dan dipahami generasi milenial. Tujuannya agar mereka tidak mudah terpengaruh pemahaman atau pengaruh luar yang ingin menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa, persatuan, dan kesatuan.

Maka, upaya penguatan ideologi Pancasila senantiasa disosialisasikan dari rumah tangga hingga tingkat paling atas atau pengambil kebijakan. Dari segi jenjang pendidikan, juga sudah harus diperkenalkan sedari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Dengan begitu, anak-anak dapat menangkal paham radikal, destruktif, dan teror.

Hal senada dikemukakan Koordinator Kajian dari Lembaga Studi Kebijakan Publik Sulsel, Salma Tajang. Menurut dia, generasi milenial adalah motor penggerak masa depan. Maka, mulai sekarang harus disegarkan pemahaman ideologinya. Tujuannya, agar perkembangan zaman tidak menggerus nilai-nilai budaya bangsa yang telah ada seiring dengan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pembekalan ideologi dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, seperti Jepang yang kemajuan teknologinya dan negaranya semakin maju, namun tidak meninggalkan ideologi dan budaya,” katanya

Sementara itu, mayoritas responden sebuah riset percaya Pancasila merupakan dasar negara yang ideal dan tidak perlu diubah. Ini merupakan hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

“Temuan secara umum, komitmen warga terhadap Pancasila sangat tinggi. Mayoritas warga mencapai 82 persen responden menilai Pancasila adalah rumusan terbaik dan tidak boleh diubah atas alasan apa pun untuk Indonesia yang lebih baik,” kata Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad,

Walaupun demikian, Saidiman melanjutkan ada 10 persen responden yang berpendapat, Pancasila merupakan buatan manusia. Maka, ada kemungkinan tidak sempurna dan dapat diubah.

“Saya kira kalau ada satu kelompok yang berusaha mengubah Pancasila, akan berhadapan dengan mayoritas warga. Delapan dari 10 orang tidak menginginkan perubahan Pancasila. Kira-kira demikian,” ujar Saidiman. [nu.or.id/Koran-jakarta.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed