by

Gender Equality Bagi Laki-Laki dan Patriarki Yang Menghalangi

-Opini-20 views

Oleh : Raafi Herdiansyah

Maskulinitas merupakan konsep tentang peran sosial, perilaku, dan makna yang diberikan kepada laki-laki pada waktu tertentu. Dengan kata lain, maskulinitas ini bersifat tidak statis dan dapat mengalami perubahan makna sesuai dengan kondisi dan lingkungan. Sedari kecil kita selalu ditanamkan dan didikte mengenai bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan bersikap dan berperilaku.

Kata-kata seperti “Jadi Laki-laki kok cengeng” atau “Laki-laki harus bisa ngerjain semuanya dong, masa gitu aja ga bisa!” pasti sudah sering kita dengar hingga saat ini. Laki-laki seolah mempunyai kasta tertinggi dalam gender. Tuntutan besar seorang laki-laki untuk bersikap menimbulkan banyak dampak negatif seperti hubungan abusiveToxic Masculinity, hingga tindakan kriminal dan pelecehan.

Mengenai seorang laki-laki bersikap dan bertindak harus ditentukan oleh masing-masing individu, bukan oleh standar yang terbatas oleh dinding yang dinamakan maskulin dan feminim. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk menyalurkan semua hal yang mereka sukai selama tidak merugikan orang lain.

Diskriminasi seksual  atau gender seringkali didapatkan oleh laki-laki yang mempunyai sifat feminim, berperilaku lembut, dan pemalu. Perkataan dan sikap orang sekitar terus menjurus pada Toxic Masculinity. Budaya patriarki terus menyelimuti masyarakat dan tak kunjung usai. Memangnya mengapa jika laki-laki tidak pandai berkelahi dan memilih bermain boneka dengan teman-teman perempuannya ? apakah sangat merugikan masyarakat atau individu tertentu ?

Gender Equality bagi Laki-laki

Selama ini kita sering mendengar istilah “Gender Equality” yang sangat melekat pada perempuan. Lantas bagaimana dengan laki-laki ? merujuk pada pengertiannya, kesetaraan gender menekankan pada setaranya laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Melihat kata hak disana laki-laki juga seharusnya berhak mengeluarkan emosi  dan perasaan mereka. Tapi hal tersebut nyatanya malah sulit untuk didapatkan. Masyarakat akan menilai buruk terhadap laki-laki menangis dan mengeluh. Stereotip ini lah yang harus dihadapi dan dirubah.

Banyak seminar atau artikel di internet yang membahas isu gender, namun pembahasannya acapkali hanya melibatkan perempuan. Padahal isu ini bukan hanya isu perempuan tapi laki-laki juga. Kebanyakan orang apatis dengan hal ini. Mereka berfikir bahwa laki-laki dan perempuan punya “kotak” nya sendiri-sendiri dan tidak boleh melampaui standar masyarakat yang ditetapkan.

Mengutip dari magdalene.co dari seorang narasumber, Chika mengatakan bahwa gender tidak hanya menghargai hak-hak perempuan tetapi juga menilai nilai-nilai yang diajarkan patriarki. Menurutnya, banyak laki-laki yang masih belum sadar bahwa sistem patriarki juga merugikan bagi kaum laki-laki.

Kerugian patriarki bagi laki-laki ini sebenarnya sangat terlihat jelas, apalagi bagi pria  feminim dan koban “Toxic Masculinity” yang sering mendapat diskriminasi gender. Kita ambil contoh dalam bidang pekerjaan, ketika perempuan dapat menjadi anggota kepolisian atau pemadam kebakaran orang-orang akan amaze dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya karena berhasil mendobrak sistem yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh kaum laki-laki. Sebaliknya, jika laki-laki mempunyai pekerjaan dibidang FashionMake-up, atau Salon, orang-orang tak sabar ingin men-Judge laki-laki tersebut dengan kata-kata kasar dan berdalih serta berargumen dalam konteks agama. Padahal agama sendiri mengajarkan cinta kasih kepada sesama.

Maskulinitas Beracun Kebanyakan Berasal dari Laki-laki

Jika perempuan membenci perempuan lain, serta merendahkan diri untuk bisa dianggap berbeda dalam pandangan laki-laki disebut Internalized misogyny. Atau istilah kasarnya seorang “Pick Me Girl.” Laki-laki sebenarnya juga mempunyai sifat yang kurang lebih sama dengan istilah ini. Banyak laki-laki yang merasa lebih punya jiwa maskulin dan beranggapan lebih “Lakik!” dibanding yang lain.

Hal tersebut bisa dibuktikan dari pelaku “Toxic Maskulinity” yang kebanyakan seorang laki-laki. Mereka beranggapan bahwa laki-laki punya porsi istimewa dibanding perempuan. Dan jika tidak sesuai dengan standar maskulin yang mereka terapkan mereka akan mencoba untuk merendahkan lainnya dengan cara melakukan maskulinitas beracun. Banyak laki-laki yang mendukung budaya patriarki karena mereka merasa itu menguntungkan laki-laki dalam banyak hal terutama persaingan dengan wanita di segala aspek termasuk jenjang karir dan pendidikan.

Masalah gender memang suatu isu yang kompleks dan menyebabkan banyak perdebatan. Pola pikir dan pola asuh menjadi kunci dari segala perbedaan mengenai pandangan gender. Kita seharusnya bisa saling menghargai dan menghormati sesama apapun gendernya, seksulalitasnya, maupun cara pandangnya.

Raafi Herdiansyah, Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed