by

Gembala yang Baik

Oleh Exsuperantia Rifai Andayani

Di tengah berbagai masalah yang menghimpit saat ini, terutama dampak pandemi Covid-19, membuat kemanusiaan kita terluka dan menyebabkan sulit bersosialisasi dan beraktivitas. Banyak manusia yang tergerus harkat dan martabat kemanusiaannya karena kesulitan ekonomi, kesulitan pekerjaan, serta kesulitan sosial lainnya. Banyak manusia saat ini Kehilangan kesadaran diri, bahkan mengalami stres, depresi yang akut, bahkan ada yang tidak terganggu kejiwaannya.

Manusia – manusia yang Kehilangan harkat dan martabat kemanusiaan ini bagaikan kawanan domba di padang rumput yang tersesat, tidak tahu lagi jalan untuk kembali menuju kandang sendiri. Bahkan ketika tiba di depan kandang, domba – domba itu tidak dapat membedakan pintu masuk dan jendela. Sungguh-sungguh domba-domba itu tersesat dan hilang orientasi.

Kita semua manusia dipanggil menjadi gembala untuk menolong domba-domba yang tersesat. Kita dipanggil menjadi gembala untuk memastikan bahwa semua kawanan domba selamat dari terkaman harimau dan hewan buas lainnya. Kita dipanggil menjadi gembala yang baik. Gembala yang baik mengenal semua kawanan dombanya, dan kawanan dombanya mengenal suara gembalanya dengan baik. Sehingga ikatan kuat tercipta di antara mereka, yakni gembala yang baik dan domba-dombanya.

Baca Juga : Senang Mlihat Orang Lain Bahagia

Kita semua di tengah komunitas, lingkungan pekerjaan, masyarakat kecil, dan masyarakat luas yang dipanggil menjadi gembala yang baik. Yaitu, gembala yang mampu menjamin keamanan yang terjadi, mampu memberi solusi, menolong yang harus ditolong, serta rela berkorban demi keselamatan mereka. Gembala yang baik tidak tergantung pada status sosial, jabatan, kekuasaan, atau harta benda. Gembala yang baik untuk siapa saja. Kemauan, kerelaan berkorban untuk menolong dan menyelamatkan sesama, sangat diperlukan menjadi gembala yang baik.

Kita semua dapat menjadi gembala yang baik sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki. Tuhan tahu bahwa bibit-bibit menjadi gembala yang baik ada dalam diri kita. Itulah jembatan Tuhan memanggil kita menjadi gembala yang baik. Yang menjadi soal adalah: apakah kita merespons dan mengiyakan panggilan Tuhan itu?

Saudara – saudara terkasih. Panggilan menjadi gembala yang baik sudah, sedang, dan akan berlangsung sepanjang hidup kita. Mungkin kemarin kita belum merasa terpanggil, saat ini pun kita dipanggil dan masa yang akan dipanggil tetap dipanggil. Mari kita buka hati, pikiran, dan perasaan kita. Suara, getaran dari Tuhan tak pernah berhenti. Mari kita rasakan dan tanggapi dengan baik.

Gereja Katolik secara khusus melakukan panggilan, memberi pesan kepada kita semua bahwa Tuhan menginginkan panggilan-Nya kepada kita menjadi gembala yang baik, kita bertanggung jawab dengan penuh suka cita berdasarkan kerelaan, keikhlasan berkorban untuk keselamatan sesama manusia.

Melalui panggilan Minggu, semoga kita merasakan panggilan Tuhan untuk menjadi gembala yang baik terhadap domba-domba yang tersesat untuk diselamatkan dunia akhirat. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Exsuperantia Rifai Andayani , Ditjen Bimas Katolik

Sumber: kemenag.go.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed