by

Fundamentalisme: No Other Name!

-Opini-233 views

Oleh Albertus Patty

Salah satu hambatan terbesar dalam dialog antar agama adalah hambatan teologis, lebih tepat datang dari doktrin agama yang menciptakan teologi yang menciptakan relasi polaristik antar umat beragama: kami Vs mereka atau Terang Vs Gelap! Doktrin yang terutama. Doktrin menentukan dan menyortir nilai-nilai Kitab Suci. Bukan nilai-nilai kebajikan Kitab Suci yang menentukan doktrin.

Doktrin yang polaristik itulah yang kemudian dijadikan lensa untuk membaca dan menginterpretasikan ayat-ayat suci. Efeknya, orang bisa menyitir ayat-ayat suci tanpa berupaya menggali konteks dan sejarah mengapa ayat suci tersebut muncul. Orang seenaknya saja mengutip ayat tersebut lalu menggunakannya untuk menjawab konteks masa kini yang sama sekali jauh berbeda.

Situasi di atas itulah yang diuraikan oleh Krister Stendhal, Professor emeritus dari Harvard Divinity School. Saat doktrin lebih menguasai cara kita memahami ayat-ayat suci maka pesannya menjadi sangat berbeda. Stendhal memberi contoh dalam pembahasan Kisah Rasul 4:12. Dalam ayat itu, Petrus berkata begini:

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain (No Other Name) yang diberikan kepada manusia yang olehNya kita dapat diselamatkan.”

Kelompok konservatif atau fundamentalis Kristen sering menggunakan ucapan Petrus ini untuk menjustifikasi kepongahan rohani yang menciptakan relasi polaristik antar umat beragama. Kata-kata Petrus ini dijadikan pembenaran bahwa tidak ada keselamatan pada agama lain.

Oleh karena itu, bagi orang seperti ini, tugas orang Kristen bukan berdialog dengan umat lain. Bukan juga menghormati ajaran agama lain. Bagi Kelompok ini, tugas orang Kristen adalah meyakinkan mereka yang berbeda tentang satu-satunya jalan keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. No other name!

Saat ucapan Petrus diinterpretasikan tanpa memperhitungkan konteks sejarahnya, orang pun akan terjerumus dalam sikap yang merendahkan dan mendelegitimasikan agama lain. Ucapan Petrus menjadi pemompa semangat ‘triumphalisme’, yaitu kepongahan dan kesombongan rohani. Orang merasa diri paling benar. Keyakinan umat lain dianggap sesat. Tidak memiliki akses keselamatan. Tembok dan sekat antar umat diperlebar. Egoisme dan primordialisme diperkuat. Kohesi sosial antar manusia menjadi rapuh dan berantakan. Agama kehilangan kemanusiaannya!

Baca Juga : Menjadi Fundamentalis Positif

Kalau begitu apa makna dari ucapan Petrus di atas? Stendhal mengungkapkan bahwa sesungguhnya Petrus mengucapkan kata-katanya dalam rangka menjawab pertanyaan pemimpin-pemimpin Yahudi serta Tua-tua dan ahli-ahli Taurat (Kisah Rasul 4:7). Pertanyaannya adalah: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian (baca: menyembuhkan orang yang lumpuh) itu?”

Ini pertanyaan ‘tricky’ yang menjebak. Sesungguhnya para pemimpin Yahudi dan para ahli Taurat curiga berat bahwa Petrus melakukan mujizat kesembuhannya itu dengan kemampuan sihirnya. Intinya mereka menuduh Petrus sebagai tukang sihir! Ini sama saja mengatakan bahwa Petrus adalah manusia sesat, penista agama. Layak dihukum berat!

Bagaimana Petrus menjawab tudingan itu? Bila diparaphrase jawaban Petrus kira-kira ini:” O aku sendiri tidak mampu melakukan keajaiban yaitu penyembuhan terhadap orang lumpuh itu. Itu bukan kemampuanku sendiri. Mujizat itu terjadi karena pertolongan Dia (baca: Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain……..”

Jadi, kata Krister Stendahl (1992), Petrus menyampaikan ucapannya dalam kerendahanan hati :” Bukan aku yang hebat, bukan aku yang menyelamatkan atau menyembuhkan, tetapi Tuhan Yesus…” Petrus sedang memuji Tuhan setinggi-tingginya. Ini sebuah doxology! Dan yang penting, Petrus tidak berbicara tentang keselamatan dalam agama-agama lain. Petrus sedang tidak menghina atau mendelegitimasikan agama lain. Tidak ada maksud buruk itu. Petrus hanya memuji Tuhan. “Bukan Aku, tetapi Dia!”

Oleh karena itu, kata Stendhal, ucapan Petrus itu tidak boleh digunakan untuk merendahkan keyakinan umat lain apalagi diucapkan dalam semangat kepongahan diri atau dengan spirit kesombongan rohani. Ingat, Ucapan Petrus itu disampaikan dalam spirit kerendahan hati. Kesalahan interpretasi bisa membuat Petrus berubah menjadi manusia pongah nan sombong!

Pdt. Dr. Albertus Patty, Pendeta Gereja Kristen Indonesia, Aktivis Libtasagama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed