by

FKUB Papua Berharap Pendekatan Kemanusiaan untuk Atasi Konflik

Kabar Damai I Senin, 7 Juni 2021

Jayapura I kabardamai.id I Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua berharap TNI-Polri melakukan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik di wilayah itu.

“Jangan darah dibalas dengan darah, karena itu tidak akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi di beberapa daerah di Papua,” kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua, Pendeta Lipius Biniluk, di Jayapura, Sabtu, 6 Juni 2021.

“Bila perlu anggota TNI-Polri yang bertugas di Papua menerapkan falsafah atau tradisi lelaki Jawa yang menyimpan senjatanya (keris) di belakang yang akan digunakan hanya bila situasi dianggap genting, ” kata dia dikutip dari republika.co.id (6/6).

Diakuinya bahwapara pimpinan agama saat ini mengapresiasi keputusan Presiden dan petinggi TNI-Polri yang menyerahkan tanggung jawab keamanan sepenuhnya kepada Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih.

Karena itu pihaknya berharap agar personel TNI-Polri yang saat ini bertugas di Papua diberdayakan sepenuhnya karena mereka lebih memahami budaya masyarakat.

Sebaliknya, kata dia, bagi personel yang berasal dari luar Papua, yang tidak mengerti budaya, terkadang terjadi kesalahpahaman bila melihat warga membawa panah dan senjata tradisional lainnya.

Ketua FKUB Papua itu juga mengapresiasi respons cepat Polri dalam mengungkap jaringan teroris di Merauke.Karena itu diharapkan masyarakat membantu dengan melaporkan bila ada yang mencurigakan di sekitar lingkungannya.

GAMKI Serukan Hal yang Sama

Sebelumnya, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) menyoroti langkah pemerintah yang mulai mengerahkan pasukannya karena warga sipil setempat akhirnya mengungsi karena khawatir dengan baku tembak antara aparat dengan KKB.

Kepala Departemen DPP GAMKI Bidang Pembangunan SDM Papua Bernard Rumpeday mengatakan, pemerintah perlu melakukan penyelesaian konflik dengan pendekatan dialog damai seperti yang dilakukan saat menyelesaikan konflik dengan GAM di Aceh pada tahun 2005 lalu.

Aktivis yang karib disapa Rumpeday ini mengatakan, sebaiknya TNI/Polri dan KKB segera menghentikan kontak senjata. Menurut Rumpeday, penghentian kontak senjata penting untuk menjaga keselamatan nyawa warga sipil yang tinggal di wilayah konflik.

Baca Juga: Ridlwan Habib: JAD Bangun Basis di Papua Sejak 2019

“Saat ini banyak warga, baik orang asli Papua dan pendatang di Intan Jaya, Puncak Ilaga, dan Ndugama yang telah mengungsi dan meninggalkan rumah mereka karena kuatir,” demikian kata Rumpeday saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu, 15 Mei 2021.

Selain itu, GAMKI meminta para pemimpin nasional dan elite politik untuk menjadi bagian penting dalam memperhatikan nasib warga sipil di wilayah konflik Papua.

Ia menyayangkan jika ada pernyataan elite yang terkesan memperkeruh konflik dengan pernyataan diksi yang mengesampaingkan hak asasi manusia.

Rumpeday kemudian menyinggung pernyataan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang meminta KKB Papua ditumpas dan tak segan menomorduakan hak asasi manusia.

Rumpeday kemudian menyinggung pernyataan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang meminta KKB Papua ditumpas dan tak segan menomorduakan hak asasi manusia.

“Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR di berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa MPR adalah rumah kebangsaan bersama, namun beliau justru tidak ada membahas nasib pengungsi yang ada di wilayah konflik di Papua,” sesal Rumpeday.

Rumpeday juga menyarankan kepada Bamsoet untuk duduk bersama dan melibatkan para wakil rakyat yang berasal dari tanah Papua. Dengan demikian, kata Rumpeday, politisi Golkar itu akan memahami konteks secara utuh terkait dengan persoalan Papua.

“Persoalan Papua harus diselesaikan dengan pendekatan kearifan lokal dan kemanusiaan. Penyelesaian dengan tindakan kekerasan hanya akan membuat konflik terjadi secara berlarut-larut,” pungkasnya. [republika/RMOL]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed