by

Film Pendek LGBT Pemenang Piala Citra

Kabar Damai | Minggu, 11 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Dunia perfilman di Indonesia terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu. Turut hadir sineas-sineas kreatif tidak hanya dalam keahlian tentang cara dan teknik membuat film namun juga ide kreatif yang tidak hanya sekedar menampilkan sisi hiburan namun juga memberikan edukasi atau pesan cerita yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka ialah sebuah film pendek yang mendapatkan penghargaan terbaik Festival Film Indonesia 2020. Film tanpa kata-kata yang mengangkat isu transgender ini di sutradarai oleh Putri Sarah Melia dan produser Jose Prabowo.

Baca Juga : The Letters: Sebuah Biopik Tentang Mother Teresa

Dipandu oleh Dena Rachman, berikut ini perbincangan Jose dan Putri Sarah dalam Beby Talk berikut ini.

 

Jose Prabowo: Menyuarakan Sesuatu yang Susah Didengar

Jose menyatakan diawal penyusunannya film ini dilatarbelakangi oleh kurangnya referensi atas alur dari referensi karya yang akan dibuat. Sehingga memutuskan untuk membuat sendiri.

“Film ini diangkat dari penulis naskah, sutradara dan produser adalah seorang dosen. Kita melatih mahasiswa kita ditahun pertama membuat film tanpa kata-kata. Tapi kita melihat tidak banyak referensi yang dapat dilihat oleh anak-anak kita sehingga yuk kita bikin sendiri aja,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa ide atas film pendek yang dibuat juga diambil atas unsur kedekatan mahasiswa trans kemudian turut memperkaya inspirasi atas karya itu sendiri.

“Setelah proses panjang, kita menemukan tema kematian yang tidak terlalu general namun dapat bercerita apa kira-kira yang berbeda tentang kematian itu sendiri. Akhirnya, sutradara kita mengingat bahwa salah satu mahasiswanya adalah seorang trans, itu yang menjadi perbincangan dan isu yang kita angkat sehingga tercipta cerita jemari ini. Selanjutnya kita menggodog dan juga meriset perias jenazah,” terangnya.

Jose mengakui,  mendatangi sebuah rumah duka dan bertemu seorang perias jenazah. Ngobrol dan memperlihatkan bagaimana ia merias jenazah dari yang bentuknya menakutkan akhirnya menjadi cantik dan ganteng. Itulah yang sangat kuat mendorongnya membuat filem tersebut.

Lebih jauh, Jose memaparkan sempat ada rasa khawatir dalam proses penggarapan film yang memenangkan piala citra pada tahun 2020 ini.

“Semua dimulai dari kita bertiga. Produser, penulis naskah dan sutradara. Hal pertama yang kita takutkan diawal ialah karena ini isu sensitif yang berasal dari mahasiswanya saudara kita dan kematian ini terinspirasi dari agama saya juga di Khatolik. Kalau meninggal akan berpakaian yang mana. Bagaimana persepsi orang terdekat kita yang agamanya berbeda dan membahas isu yang sensitif, yang dibayangkan bukan reaksi penonton tapi reaksi keluarga kita dulu,” akunya.

Kedua, kata dia  adalah reaksi crew yang akan diinvite, “mereka memiliki masalah enggak dengan isu ini. Karena kita tidak ingin crew merasa takut, tidak relate dengan ini baru setelah itu barulah semuanya oke,” paparnya.

Kepada Dena Rachman, Jose mengungkapkan rencananya kedepan atas karya-karya lain yang ingin digarapnya kemudian.

“Pembelajaran yang kita terima adalah ada suatu kondisi yang sebenarnya tabu tapi penting untuk dibicarakan. Kedepannya aku ingin membuat film yang menyuarakan sesuatu yang susah didengar oleh orang lain dan perlu untuk diungkapkan,” ungkapnya.

 

Putri Sarah Amalia: Advokasi Kecil, Tapi Sering

Senada dengan Jose, Putri Sarah Amalia yang merupakan sutradara dalam film ini menyatakan jika film ini berlatarbelakang karena sebuah ketidakadilan yang kerap ditemui dalam kehidupan bermasyarakat.

“Film ini berangkat dari keresahan kita, awalnya secara konsep memang kita buat tentang kematian. Lantas kita berangkat dari peristiwa di Yogyakarta yang meninggal tapi tidak bisa dikebumikan hanya karena berada ditempat yang mayoritas, sehingga harus memotong salibnya agar bisa dimakamkan. Mengalah pada society,” katanya

Putri juga menambahkan tentang kegeramannya tentang konsep mayoritas dan minoritas yang kerap diungkapkan oleh khalayak ramai.

“Hidup seolah-olah selalu ada mayoritas dan minoritas yang sebenarnya kita ingin ini sama saja, setara. Karena yang ingin ditampilkan adalah sisi kemanusiaan,” tambahnya

Berhubungan dengan tanpa adanya dialog dalam film yang disutradainya, Putri mengungkapkan sebagai bentuk representasi dari kelompok yang tidak dianggap dan tidak didengar suaranya.

“Kenapa film ini tidak ada dialognya karena orang-orang dalam kelompok minoritas seperti ini, boro-boro untuk berbicara. Ini menjadi sebuah tantangan juga, bagaimana penyutradaraan film tanpa dialog tapi dapat menjadi hiding something,” jelasnya.

Terakhir, Putri mengungkapkan hingga dapat mendapatkan penghargaan dan dekat dengan kehidupan. Film ini turut diadvokasikan dalam lingkup kecil, namun dilakukan secara sering.

“Film ini banyak diputar dari kampus ke kampus, dari lokasi kebudayaan dan komunitas. Untuk membangun paradigma secara besar susah, tapi yang terpenting intens mendistribusikan ini dijalur yang kecil tapi sering,” tutupnya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed