by

Film “Layla M.” Islamophobia dan Radikalisme Dua Persimpangan dalam Dunia Gadis Muslim

Kabar Damai I Minggu, 16 Mei 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pada tahun 2016, Walikota Cannes menetapkan pelarangan penggunaan burkini, pakaian renang perempuan yang menutupi bagian tubuh yang dianggap sebagai aurat, di pantai-pantai kota setempat. Keputusan itu terbit setelah dikukuhkan oleh pengadilan Nice, Prancis. Kelompok Islam dan pembela hak-hak sipil mengecam pelarangan itu. Namun pengadilan beranggapan ketetapan itu legal dan sudah final. Pelarangan burkini di Perancis adalah satu dari sekian banyak narasi Islamophobia yang sedang marak di Eropa.

Diskriminasi dalam fenomena Islamophobia dirasakan oleh Layla, protganis utama dalam film Layla M. (2016). Layla adalah muslimah usia 18 tahun dari keluarga kelas menengah keturunan Maroko di Belanda.

Layla adalah satu dari sekian banyak muslimah Eropa yang marah karena ruang keislamannya ditindas kelompok mayoritas. Merasa ada suatu hal yang tidak beres, jiwa Layla terpanggil untuk mempelajari Islam lebih dalam. Ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok fundamentalis Islam.

Tokoh yang diperankan Nora El Koussour ini memang berkepribadian kritis dan punya kepekaan sosial yang tinggi. Seperti saat ia menunjukan rasa solidaritasnya pada korban kekerasan di daerah konflik Timur Tengah. Sebagai ungkapan kepeduliannya ia berfoto mengenakan niqab lalu menambahkan tulisan yang mengecam tindakan keji terhadap umat muslim. Pun ketika mendapat diskriminasi dari aparat, Layla melawannya karena salah satu temannya dalam anggota persaudaraan muslimah diminta membuka niqabnya.

Baca Juga: Memahami Akar dan Meredakan Permasalahan Islamofobia di Dunia

Namun, perlawanan kepada sistem yang dihadirkan Layla seperti ini justru mendapat penolakan dari keluarganya di rumah. Terutama ayahnya, keluarga hanya berharap kalau Layla tumbuh menjadi remaja Belanda seperti pada umumnya, tidak terlibat dengan hiruk-pikuk agama sebab itu membuat lingkungannya risih. Layla merasa terkucilkan. Ia mendapati sebuah ironi: hidup dalam keluarga yang beragamakan Islam, namun hanya dirinya seorang yang begitu aktif mengekspresikan keislamannya.

Terlebih, ruang ekspresi beragama bagi minoritas seperti Layla amat ditekan. Di saat yang bersamaan, singkat cerita, Layla bertemu secara online dengan seorang pria bernama Abdel. Mereka hanya berkomunikasi melalui Skype. Percakapan mereka diisi oleh topik keresahan dalam memperjuangkan agama Islam. Seperti yang bisa diduga: Layla jatuh cinta. Layla pun dinikahi secara diam-diam oleh Abdel. Layla kabur dari rumah karena sudah tidak betah. Layla ikut suaminya pergi ke Jordan.

Lembaga kebijakan publik nonpartisan New America melaporkan bahwa Wanita yang bergabung dengan ISIS berada pada jumlah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Satu dari tujuh orang Barat yang terlacak menjadi militan adalah wanita. Meski tidak ikut berperang, mereka tetap punya peran yang dijalankan seperti menikah dengan jihadis yang berada di garis terdepan dan terkadang menjadi semacam aparat untuk menegakan peraturan atau hukum milik ISIS.

Pada Maret 2015, diperkirakan 10% rekrutan kelompok negara Islam tersebut adalah wanita yang telah meninggalkan Eropa, Amerika Utara dan Australia untuk bergabung di kota yang berada dalam kendali ISIS : Raqqa dan Mosul.

Intitute Strategic for Dialogue (ISD) yang berbasis di London dengan hasil studi berjudul “Till Martyrdom Do Us Part”, melihat bagaimana wanita dan remaja perempuan direkrut, bagaimana mereka berperan serta cara mereka melawan ancaman. ISD melacak lebih dari serratus perempuan barat di berbagai platform daring seperti Twitter, Facebook, Tumblr. Perempuan dapat terdorong bergabung dengan ISIS karena mereka merasa dikucilkan, dianiaya, atau mereka merasa marah atau sedih terhadap gagalnya kebijakan internasional dalam mengatasi konflik.

Adapula yang terdorong oleh idealismenya mendirikan negara khilafah, ruang kepimilikan yang sangat tinggi terhadap kelompok persaudaraan perempuan atau membayangkan kehidupan mewah yang akan mereka miliki jika bergabung dengan ISIS. Hasil studi juga menjelaskan bahwa menderita depresi, kebutuhan finansial tercukupi, mengenyam pendidikan dan terasingkan secara kehidupan sosial, semua itu adalah faktor-faktor yang bisa membuat mereka yang direkrut. Begitupula simpati pada kepercayaan ortodoks, radikalisme dan aksi teror.

Tapi tidak dengan Layla. Utopianya pupus semenjak ia dan Abdel menetap di Jordan. Situasi sekitarnya terasa semakin janggal. Terutama dengan urusan suaminya beserta agenda kelompok ekstrimisnya. Lelaki yang dulu begitu hangat memeluknya makin hari makin dingin sambil menatap layar laptop mengedit video jihadis berorasi. Layla mulai ditekan oleh usaha-usaha Abdel yang patriakal.

Puncaknya ketika Abdel tengah sibuk melakukan pekerjaan jihadnya, ia muntab karena Layla pergi ke tempat penampungan korban konflik. Layla ditampar dan dimaki, hingga terluka hati perempuan muda itu. Demi memenuhi tanggung jawab pada tugas sekaligus membuat Layla tidak meninggalkan rumah, seorang berbadan besar yang membawa senjata diperintahkan untuk menjaga pintu depan rumah mereka selama Abdel berada di luar.

Layla pun hanya bisa berdiam diri sambil menangis. Ia meratap nasibnya yang nahas. Semua pengharapan indah atas pernikahannya pupus. Setelah beberapa hari, akhirnya Abdel tiba di rumah dalam keadaan yang berbeda. Janggut dan jambang yang dianggap sunnah ia pangkas habis. Kepala gundulnya ia biarkan terbuka tanpa peci yang biasa menutupi.

Sesuatu yang tidak beres ditangkap oleh intuisi Layla. Ia menghambur ke pelukan suaminya. Menangis dan mengutuk lelaki yang amat ia cintai. Abdel hanya bilang kalau ia amat mencintai Layla. Abdel memberikan paspor dan telepon untuk Layla. Abdel mengucapkan selamat tinggal kepada Layla.

Layla kini sedang berjalan di Bandara. Ia baru saja memberi kabar Ibunya sampai seorang petugas menahannya. Layla kini diinterograsi dalam suatu ruangan. Layla ditanya soal keterlibatannya dengan aksi teror suaminya. Petugas bertanya apakah Abdel masih hidup atau tidak. Layla menjawabnya dengan air mata yang berlinang dari mata kiri bergantian mata kanan.

Gambar lalu berakhir menampilkan sebuah teks: kepulangan perempuan muda seperti Layla M. masih menjadi isu yang kontroversial di seluruh Eropa. Banyak anak muda yang dulu sudah meninggalkan rumah, kini mencari grasi dan pengakuan. Masing-masing negara di seluruh Eropa memiliki respon penanganan yang berbeda-beda.

Dikutip dari CNN Indonesia, pemerintah memutuskan tak memulangkan ratusan WNI eks ISIS ke Indonesia. Hal ini diputuskan dalam rapat kabinet yang digelar tertutup oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah kementerian di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2). Mahfud MD, Menteri Menko Polhukam berujar bahwa Pemerintah tidak ada rencana memulangkan teroris, bahkan tidak akan memulangkan Foreign Terrorist Fighter (FTF) ke Indonesia.

Dari data terbaru, kata Mahfud, terdapat 689 WNI eks ISIS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Suriah dan Turki. Sebelumnya disebutkan ada 660 WNI. Mahfud mengatakan, keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan keamanan bagi ratusan juta penduduk di Indonesia. Berarti sampai saat ini, ada 689 Layla lain yang sedang berlinang air dari mata kirinya lalu mata kanannya.

Film Layla M. dapat disaksikan melalui kanal streaming Netflix.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed