by

Filantropi Indonesia Kampanyekan Gerakan Berkurban Tanpa Plastik

Kabar Damai | Jumat, 9 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Filantropi Indonesia mengampanyekan gerakan berkurban tanpa sampah plastik. Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, juga mengajak masyarakat khususnya pegiat ataupun lembaga filantropi untuk bersama-sama mengurangi penggunaan sampah plastik pada Hari Idul Adha.

“Saat Idul Adha biasanya ada peningkatan volume sampah karena biasanya para panitia kurban membungkus daging kurban yang nantinya dibagikan ke masyarakat itu ke dalam kantong plastik. Nah ini yang membuat sampah plastik meningkat tajam juga,” tutur dia dalam agenda virtual bertajuk ‘Kurban Asik tanpa Sampah Plastik’, Kamis, 8 Juli 2021.

Dilansir dari laman ihram.co.id (8/7), Hamid menjelaskan, volume sampah plastik itu 5,4 juta ton per tahun. Masalah ini menjadi lebih kompleks selama pandemi Covid-19. Sebab dalam situasi itu, banyak yang belanja online dan sebagian besar belanjaan mereka dikemas dengan kantong plastik.

Belum lagi, lanjut Hamid, sampah medis yang juga menumpuk dan belum tertangani. Karena itu, Filantropi Indonesia melalui gerakan ‘Qurban Asik tanpa Sampah Plastik’ mendorong lembaga-lembaga filantropi khususnya yang berbasis keagamaan, seperti Baznas dan lembaga amil zakat, untuk terlibat dalam gerakan tersebut.

Baca Juga: Muhammadiyah, NU dan MUI Sarankan Shalat Idul Adha di Rumah, Pemerintah Larang Salat Idul Adha dan Takbiran di Masjid

“Kami mendorong agar kurbannya tidak lagi dikemas dalam kemasan plastik atau kantong plastik, tetapi menggunakan kemasan lain yang ramah lingkungan misalnya daun,” tutur dia.

Hamid juga menyadari, Idul Adha memberikan dampak yang positif pada aspek ekonomi dan sosial. Potensi ekonomi dari Idul Adha tergolong besar karena ada transaksi yang menghidupkan ekonomi dan meningkatkan gizi masyarakat.

“Kami berharap, keterlibatan lembaga filantropi selain memberikan dampak ekonomi dan sosial, tetapi juga meminimalisasi dampak negatifnya dalam bentuk sampah plastik dalam rangka mengatasi masalah plastik sekaligus meningkatkan dampak positif dari qurban yang menjadi bagian dari ritual keagamaan kita,” tandasnya.

Rayakan Idul Adha Tanpa Sampah Plastik

Pada 2009, Badan Pengawas Obat dan Makanan mengeluarkan peringatan public tentang bahaya kantong plastik kresek hitam. Kantong plastik merupakan jenis sampah yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alamiah.

Apalagi, kantong plastik kresek hitam merupakan hasil dari proses daur ulang plastik bekas pakai yang mengandung zat karsinogen dan berbahaya bagi kesehatan.

Kantong plastik kresek berwarna, terutama hitam kebanyakan merupakan produk daur ulang dan dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, limbah logam berat, kotoran hewan ataupun manusia.

Selain itu, dalam proses tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahayanya bagi kesehatan.

Dalam surat edaran, Pemprov DKI menjelaskan, panitia kurban diimbau untuk tidak menggunakan kantong plastik hitam atau kantong plastik sekali pakai sebagai wadah daging kurban, tetapi menggunakan alternatif pembungkus daging ramah lingkungan⁣ serta membawa wadah sendiri yang terbuat dari bahan ramah lingkungan saat mengambil hak atas hewan kurban⁣.

Anjurannya adalah besek yang terbuat dari bambu, besek dari daun kelapa, besek dari pandan, daun jati, daun pisang, atau bisa dengan box daging (wadah makanan). Bila tempat daging ini dibuang maka limbahnya bisa cepat terurai sehingga bahaya kerusakan alam terkurangi.

Kurban Asyik Tanpa Plastik

Data dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada tahun 2020 yang dikutip bogor-kita.com,  proyeksi pasar hewan kurban terbesar ada di Jabodetabek dengan permintaan 184.000 ekor sapi (41 persen) dan 673.000 ekor kambing-domba (36 persen).

Untuk daerah Jawa sendiri membutuhkan 273.000 ekor sapi dan 995.000 ekor kambing-domba. Secara nasional potensi ekonomi kurban Indonesia mencapai Rp20,5 triliun yang berasal dari 2,3 juta orang pekurban (shahibul qurban).

Dengan asumsi berat kambing-domba antara 20-80 kg, berat sapi antara 250-750 kg maka terdapat sekitar 117 ribu ton daging yang tersebar pada hari raya Idul Adha.

“Menyikapi hal tersebut, pada hari raya Idul Adha akan terjadi distribusi daging kurban secara massif di seluruh daerah tentunya berdampak pada meningkatnya jumlah kemasan sebagai pembungkus daging yang akan diberikan kepada masyarakat. Kantong plastik yang sangat familiar dan mudah diperoleh masyarakat akan membuat jumlah penggunaan sampah plastik sekali pakai melonjak tinggi dan berdampak pada pencemaran lingkungan,” ujar Ika Akmala selaku Officer Community & Volunterism Dompet Dhuafa melalui WhatsAppnya pada Jumat, 25 Juni 2021 lalu.

“Hal tersebut dikarenakan permasalahan yang amat klasik seperti kesadaran masyarakat yang masih minim terhadap bahaya timbunan sampah, sistem daur ulang sampah dan tampungan sampah di Indonesia yang belum memadai. Hal tersebut berakibat pada menumpuknya sampah di tempat penampungan akhir, pencemaran sungai yang berefek pada tersumbat nya saluran-saluran air sehingga terjadi pencemaran baik di tanah, air maupun udara dan menyebabkan banjir, pemanasan global serta menimbulkan masalah kesehatan pada manusia,”  tambah dia.

Indonesia memang tampak tak bergeming dengan posisi nya sebagai pencemar laut kedua terbesar di dunia. Terbukti dengan data brand audit yang diperoleh Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) dalam Gerakan World Clean up Indonesia, ditemukannya sampah jenis food packaging sebesar 63% yang mendominasi jenis sampah di pesisir pantai di 15 titik di Indonesia, berdasarkan material plastik nya terdapat 33% jenis PET dan 28% jenis LDPE.

Pada kondisi pandemic seperti saat ini, Ibu Sapta Saptarina dari Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa terjadi lonjakan sampah hingga 27-36 % di Indonesia. Upaya KLHK sejak 2019 telah mengeluarkan surat edaran nomor SE.2/PSLB3/PS/PLB.0/7/2019 tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha Tanpa Sampah kepada seluruh pemerintah daerah di Indonesia. Imbauan ini ditujukan kepada setiap kepala daerah agar melarang warganya menggunakan kantong plastik sebagai wadah daging kurban mendapatkan respons yang baik.

Upaya pemerintah ini tentu nya perlu didukung dan diwujudkan oleh Lembaga zakat bersama barisan relawannya yang memegang peranan penting sebagai garda terdepan dalam pemerataan distribusi daging qurban ke seluruh pelosok daerah.

Upaya Pelestarian Lingkungan

Momentum Idul Adha dengan segudang hikmahnya harapan nya secara sadar dapat direfleksikan dan diaktualisikan bersama-sama oleh multi pihak sebagai wujud syukur dan upaya saling mendukung untuk upaya-upaya pelestarian lingkungan khusus nya pengendalian sampah di berbagai daerah dengan mengganti kemasan daging kurban yang semula plastic sekali pakai menjadi kemasan ramah lingkungan.

“Gerakan Kurban Asik Tanpa Plastik dapat menjadi upaya dalam pengendalian sampah plastic saat hari raya dengan menggunakan kemasan ramah lingkungan di antara nya besek yang banyak di temukan di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat atau daerah sentra penghasil bambu lainnya, plepah pinang, daun pisang, daun jamblang dan lain-lain.

Selain mudah ditemukan disekitar kita, kemasan ramah lingkungan juga dapat terdaur ulang lebih cepat daripada plastik sekali pakai serta memiliki keamanan sebagai pengemas makanan karena tidak memiliki kandungan kimia,” terang Ika Akmala.

Hal yang diutarakan oleh Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, Rahmat Mato mengatakan, “Pada kurban tahun ini ada yang unik dari kita, kami akan mengedapankan penggunakan pakaging (pembungkus) kurban yang ramah terhadap lingkungan. Sehingga pada saat pendistribusian kami akan menggunakan besek. Besek yang digunakan merupakan pemanfaatan dari pemberdayaan ibu-ibu di sekitar lokasi distribusi kurban. Maka nilai dari green kurban tetap terjaga, pendistribusian tidak hanya di Sulawesi Selatan tapi juga mensasar Sulawesi Barat yakni Majene maupun Mamuju”.

Gerakan Kurban Asyik Tanpa Plastik bertujuan mengajak semua lapisan masyarakat dan semua pihak agar dapat mengambil peran aktif untuk mempraktekan dan memperluas edukasi terkait upaya-upaya penjagaan lingkungan dengan mendorong kekuatan local wisdom setiap daerah untuk alternatif kemasan-kemasan lokal yang lebih ramah lingkungan. Agar upaya berbagi tidak hanya untuk hari ini dan mustahik, akan tetapi juga untuk keberlangsungan bumi agar senantiasa berseri. [ihram.co.id/bogor-kita.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed