by

FELLOWSHIP

-Opini-185 views

Oleh Vincent Jaya Saputra

 

Berbicara persekutuan, biasanya orang berbicara tentang persekutuan sesama orang percaya dan berfokus bagaimana persekutuan memulihkan keluarga, bisnis, hubungan pribadi dan hubungan sesama.

Tapi pada kesempatan kali ini, saya ingin menghubungkan persekutuan dengan visi kerajaan Allah yang lebih besar. Karena saya percaya tujuan kita terlahir di dunia ini adalah untuk bersama-sama sebagai partner Allah membuat dunia ini menjadi lebih baik. Berarti sebagai orang percaya, saya tidak bisa lepas dari bertemu dengan orang-orang yang berbeda suku, agama dan keyakinan, dan ras dengan saya.

Banyak orang Kristen lebih mudah bergaul dengan orang yang sesuku, seagama dan seras daripada mencoba dengan sengaja bertemu dengan orang yang tidak sepaham apalagi yang beda keyakinan. Kesulitan ini bertambah derajatnya bila kita salah memahami konsep kekristenan.

Kekristenan bagi saya adalah lebih dari sekedar menuruti aturan-aturan agama yang kaku. Kekristenan bagi saya adalah berusaha mengenal Allah seperti Allah mengenal kita (Hos 6:3). Kekristenan adalah pemulihan hubungan intim dengan Allah (Yoh 17:3).

Baca Juga:  Amburadulnya Budaya Demokrasi Kita?

Memang untuk mengenal Allah, kita perlu mengetahui hukum-hukumNya tapi hukum itu hanyalah tutor atau guru yang membawa kita kepada Kristus (Gal 3:24). Agama tanpa hubungan akan melahirkan kaum Farisi dan Saduki yang mengira mereka membela Tuhan tapi kelakuannya tidak mencerminkan mereka mengenal Allah (Titus 1:6).

Hanya setelah memahami konsep kekristenan ini secara benar, saya bisa bebas untuk berkreasi bersama Allah (Ibr 1-2). Masalahnya saya  tidak bisa bergaul dengan orang beda suku, agama dan ras bila saya masih dibayang-bayangi oleh trauma masa lalu atau masih dikuasai ketakutan yang saya dengar dan dapatkan dari media massa, keluarga, atau lingkungan saya.

Saya juga alami ketakutan yang sama saat saya berhubungan dengan orang warna kulit beda dengan saya, dengan kelompok tertentu yang menggunakan agama melancarkan terorisme, dengan penguasa yang sering menyalahgunakan kekuasaan untuk memeras dan berlaku tidak adil, atau saat berhadapan dengan kemungkinan kekurangan uang akibat krisis.

Saya percaya seandainya saya masih membiarkan ketakutan menguasai saya, tidak mungkin Tuhan bisa memakai saya secara penuh menjalankan pelayanan rekonsiliasi (2 Kor 5:18).

Pemerintah Orde Baru yang meneruskan prinsip kolonialisme membentuk persepsi banyak orang keturunan bahwa mereka hanya bisa bertahan bila mereka hidup berkelompok dengan sesama warga keturunan dan fokus membangun ekonomi tanpa memedulikan ranah lain.

Orang Kristen membentuk persepsi bahwa keselamatan hanya terletak pada pemeluknya dan tidak melayani kebenaran bahwa keselamatan hanya didapatkan dari percaya akan Yesus dan menjadikanNya sebagai Tuhan, bukan dari agama Kristen.

Konsep pemisahan pelayanan mimbar dan pelayanan marketplace turut memperburuk keadaan. Saya sendiri belajar teologi bukan untuk melayani mimbar tapi untuk membekali saya mengenal lebih dalam firman Allah.

Ketakutan hanya bisa dikalahkan oleh kasih dan bila seseorang berkata dia mengasihi Allah tapi membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yoh 4:18-21).

Dasar firman inilah yang membuat saya berani menjawab panggilan Allah pada saya untuk membuka sekat-sekat yang menghalangi terwujudnya tegaknya kerajaan Allah (Gal 3:28).

Sebagai pengusaha, salah satu tugas saya adalah mengupayakan setiap departemen dalam perusahaan untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, mengorkestrasikan setiap departemen untuk bekerja mewujudkan visi perusahaan.

Berbekal pengalaman ini, saya menyadari bahwa dunia memerlukan orang-orang yang mau berfungsi sebagai penghubung antar pilar masyarakat. Mengentaskan kemiskinan sistemik misalnya tidak hanya membutuhkan uluran pelaku ekonomi tapi juga kontribusi pemuka agama, pendidik, ahli keluarga, pemerintah, media dan sentuhan pekerja kreatif mengupayakan solusi yang paling tepat.

Kemiskinan sistemik tidak bisa hanya diatasi dengan pendekatan ekonomi tapi juga pemulihan identitas diri dari pemuka agama, perubahan wawasan yang benar dan sehat dari pelaku pendidikan, pemulihan hubungan keluarga, penegakan aturan yang adil dari pemerintah, penyebaran berita baik yang menambah partisipasi dari pelaku media dan sentuhan kreativitas dari pekerja kreatif.

Mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur seperti yang diamanatkan sila kelima Pancasila membutuhkan kita sebagai orang Kristen untuk tidak membatasi fellowship kita dengan sesama orang Kristen atau tenggelam asyik melayani aktivitas gereja tapi kita perlu memperluas fellowship kita dengan orang berlainan suku, agama dan ras.

Kita seyogyanya tidak hanya memperhatikan sisi kerohanian tapi mengabaikan penguatan keluarga dan penguatan kesehatan ekonomi dan mentalitas masyarakat sekitar.

Saya sungguh berharap FGBMFI dapat bermetaforsis dari sekedar fellowship sesama orang Kristen menjadi organisasi yang bisa menyumbangkan energinya mewujudkan masyarakat adil makmur, bukan hanya sekedar CSR tapi juga menyehatkan masyarakat secara menyeluruh. [ ]

 

Vincent Jaya Saputra, Pengusaha dan Pengurus Indonesian Conference on Religion and Peace.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed