Fasilitator Nikah Beda Agama: Menjadi Teman dan Tempat Konseling Pasangan Beda Agama

Kabar Utama2736 Views

Kabar Damai | Kamis, 10 Maret 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Melalui talkshow yang diselenggarakan oleh Radio Katolikana, cerita-cerita baik dalam rangka menjadi teman cerita dan konseling bagi pasangan beda agama dapat diperdengarkan, terlebih menikah beda agama masih menjadi hal yang tabu dan penuh pro serta kontra pula pastinya sehingga upaya untuk keluar dari permasalahan tersebut harus dicari bersama.

Menikah Beda Agama: Penyertaan Tuhan dan Pilihan Hidup

Vibriyanti, S.Si (MM), konselor dan founder Smartmumsid adalah satu dari sekian banyak orang yang kini menjadi pelaku nikah beda agama dan sudah menjalani nikah beda agama salama 10 tahun, ia muslim dan suaminya Kristen.

Berangkat dari kesulitan, mengalami kesulitan dalam menghadapi pernikahan beda agama kemudian berbekal informasi yang ada membuat ia memilih menjadi konselor guna mencari jalan keluar dari permasalahan seperti yang ia alami dengan pasangan serta  dengan didasari pada pengalaman kesulitan yang ia alaminya dahulu pula.

Menjadi konselor tentu bukanlah pekerjaan yang mudah, ia mengatakan banyak pertanyaan yang ditanyakan para pasangan beda agama yang datang kepadanya.

“Biasanya yang ditanyakan seputar restu orang tua, kedua tentang cara untuk mengurus surat-surat, prosedur, hal teknis hingga kesehatan mental. Itu hal yang paling sering ditanyakan kepadanya dalam melakukan konsultasi,” tuturnya.

Akan banyak tantangan ketika memilih untuk menikah beda agama. Terlebih jika pasangan tersebut terlalu mendengarkan tanggapan publik, tentu terkesan kontroversi dan membentur apapun, lingkungan akan bereaksi keras dengan kemauan yang telah dipilih. Namun yang menjadi penting adalah untuk tetap berlanjut dan menjawab berbagai ketakutan dari benturan dari masyarakat tersebut.

Baca Juga: Agung Waskitoadi: Negara Harus Fasilitasi Nikah Beda Agama

“Kami dari konselor akan menjadi support system bagi pasangan menikah beda agama. Menjadi teman dari mereka yang sedang mengalami tekanan batin dari permasalahan ini,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa dalam pernikahan beda agama, campur tangan Tuhan juga terdapat didalamnya. Hal ini juga pilihan yang harus dihargai pula tentunya.

“Sebetulnya fenomena menikah beda agama akan menjadi polemik dinegara kita karena latar belakang yang beragam  dari masyarakat kita, namun jika realitas kita harus berjodoh dan cinta dengan yang berbeda tentu itu juka bukan yang salah. Oleh karenanya, jangan judge kami karena ini pilihan kami,” bebernya.

Berani Tampil dan Bersuara

Dalam talkshow tersebut pula, turut hadir sebagai pembicara Ahmad Nurcholish, ia adalah akademisi, penulis buku serta aktivis yang bernaung dari organisasi kemanusiaan ICRP. Ia juga menjadi konselor nikah beda agama sejak 2004 lalu dan telah menikahkan lebih dari 1000 pasangan beda agama.

Dalam sesinya, ia bercerita bahwa selain karena didukung oleh ICRP dalam memulai kiprahnya menjadi konselor nikah beda agama juga karena sebuah pesan daring yang ia terima dari seorang wanita yang bercerita tentang penolakan dan kekerasan yang dialaminya karena pasangannya berbeda aga,a.

“Suatu waktu saya di email perempuan yang berada disebuah persembunyian yang saat itu menjalin asmara dengan beda agama namun tidak direstui dan dijodohkan. Namun karena sudah memiliki pilihan sendiri hingga dia sampai ditembak oleh sang ayah, tidak kena dan berhasil kabur serta bersembunyi selama dua bulan. Setelah bertemu, ia pulang ia berulang mengalami hal yang sama,” ceritanya.

Menjadi konselor nikah beda agama membuat Ahmad Nurcholish mengajak masyarakat agar menyadari bahwa fenomena ini adalah realitas dan sudah ada sejak lama. Selain itu, ia juga mengajak pasangan pelaku nikah beda agama untuk berani bersuara.

“Kalau dari masyarakat kita memang beragam tanggapannya, misalnya ketika viral postingan saya banyak yang kontra, namun ada pula yang memberikan dukungan. Oleh karena itu, saya mengajak yang sudah menjadi pelaku pernikahan untuk speak up,”.

“Karena jika kita selalu bersembunyi, tentu tidak akan memberikan dampak positif dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Oleh karenanya, suara mereka dapat menjadi realitas dan fakta bahwa memang ada yang seperti itu dan sudah ada sejak lama di Indonesia,” jelasnya.

Penulis: Rio Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *