by

Fanatisme Beragama dan Ancaman Persaudaraan Insani

Kabar Damai I Selasa, 24 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Fanatisme merupakan bentuk ancaman dalam berbagai bangsa di dunia, tidak hanya dalam aspek agama namun juga sosial dan lain sebagainya, ditunjukkan dengan berbagai cara seperti persekukusi, kekerasan hingga ekstrimisme serta  terorisme dan lain sebagainya.

Prof. Azyumardi Azra, CBE melalui webinar yang diselenggarakan oleh platform Cak Nur Society menjelaskannya secara gamblang, Senin (23/8/2021). Diawal pemaparannya, ia menjelaskan bahwa fanatisme, ekstrimisme dan radikalisme bahkan sektarianisme terjadi tidak hanya pada satu agama. Semuanya melekat pada semua agama dan keyakinan. Bahkan aliran spiritualitas juga memiliki problem yang sama, dimana para pengikutnya bersikap ekstrem dan merasa paling benar.

“Gejala-gejala ini dapat berkembang karena fanatisme agama yang juga faktor-faktor ekonomi dan sosial lainya. Fanatisme adalah fraksis keagamaan yang menganggap dirinya sendiri yang baik. Fanatisme ini menolak fraksi dalam agamanya sendiri, apalagi dari luar,”.

“Itu menyebabkan etno religius fanatisme rasism yang menganggap rasnya yang paling sempurna, yang lain tidak asli, tidak murni dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Lebih jauh, selain menjelaskan tentang spesifik fanatisme, ia juga menjelaskan tentang beberapa aspek serupa lainnya.

“Selanjutnya, ekstrimisme adalah ujung dari pusat yang tingkatannya paling tinggi, oleh karena itu bersifat jauh dan berlebihan. Ekstrimisme juga biasa digunakan dalam konteks agama dan politik yang dianggap jauh dari pandangan mainstrim masyarakat pada umumnya,” jelasnya tentang ekstrimisme.

Lebih jauh, ia turut menambahkan tentang radikalisme dan fanatisme. Menurutnya, radikalisme lebih tinggi dari ekstrimisme yang mempengaruhi sifat fundamental sesuatu, perubahan yang berjangka jauh, menyeluruh dan menyerukan perubahan secara menyeluruh baik itu revolusi politik dan sosial. Radikalisme keagamaan adalah aksi-aksi kekerasan yang ekstrim atas nama agama, bentuknya misalnya membawa bom dan lain sebagainya.

Sedangkan, fanatisme, ekstrimisme dan radikalisme ada dalam semua agama. Fanatisme memilik sejarah yang panjang sesuai dengan peradaban kehidupan manusia. Apalagi dimana modern saat ini semakin kompleks karena didukung oleh berbagai aspek dan juga media sosial yang masif membaguskan agamanya sendiri dan menjelekkan agama lain.

Baca Juga: Hadapi Virus Radikalisme: Kelompok Moderat Harus Lebih Lantang Bersuara

Hal ini disebabkan karena beberapa hal, misalnya melebihkan secara berlebihan sesuatu berdasarkan agama, fanatisme juga bisa muncul karena adanya pemahaman eksatologis didalam agama, tentu selain itu fanatisme dalam aliran yang disebabkan pandangan yang berbeda dari setiap agama. Selain itu juga disebabkan karena fanatik terhadap kepemimpinan ulama.

“Di Indonesia kita beruntung, prinisip kita tidak berdasarkan pada fanatisme tapi pancasila. Oleh karena itu yang mempermasalahkan tentang agama dan pancasila adalah orang-orang yang keblinger,” tegasnya.

Ia kembali menambahkan, dampak bagi kehidupan insani dalam hal berbagai aspek yang telah dibahas dapat terjerumus dalam kecenderungan yang mempercayai dan meyakini bahwa Tuhan adalah maha pemarah dan pendendam kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus diselamatkan menurut cara sendiri menurut orang-orang fanatis.

Oleh karenanya, ia memberikan beberapa cara agar hal-hal diatas dapat diminimalisir.

“Cara memulihkan agar fanatisme dan ekstrimisme dan radikal dalam seseorang dapat minimal dikurangi adalah dengan cara penguatan trialog atau dialog intra agama, antar  agama dan dialog umat beragama dan pemerintah,” bebernya.

Dialog intra agama penting karena perdebatan dan atau permusuhan dalam suatu agama justru lebih sengit daripada masalah diluar agamanya sendiri. Dialog intra agama ini penting dilakukan oleh semua agama karena biasanya banyak yang tidak terbiasa karena dialog yang panjang yang kemudian susah untuk diakomodasi.

Selanjutnya adalah dialog antar agama, menurutnya beberapa tahun terakhir dialig antar agama menyurut.  Padahal, ini penting karena gesekan antar agama juga masih sering ditemukan.

Selanjutnya, dialog agama dan pemerintah. Tidak harus melulu tentang dialog teologis namun juga isu-isu lainnya. Dengan pemerintah, dialog yang diperlukan misalnya sosial dan pemberdayaan masyarakat dan lainnya.

Terakhir, menurut pemaparannya ia menjelaskan dan menawarkan tentang cara yang dapat dilakukan guna mengatasi fanatisme yang terjadi.

“Untuk mengatasi fanatisisme juga dapat dilakukan dengan middle path, middle away atau Islam Wasathiyah atau melalui tiga lokus pendidikan,”.

“Pertama menekankan dalam keluarga untuk beragama yang lapang, juga sekolah sebagai lembaga pendidikan juga harus menekankan anak didiknya untuk tidak fanatik dan juga lokus pendidikan sosial masyarakat yang juga penting dalam rangka mengatasi fanatisme ini,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed