by

Fahmi Salim: Semua Orang Islam Bertugas Melawan Islamofobia

Kabar Damai I Sabtu, 9 April 2022

 

Yogyakarta I kabardamai.id I Ketakutan terhadap Islam atau Islamofobia tak hanya marak di kalangan masyarakat Barat di Amerika dan Eropa, melainkan pula di Indonesia. Menghadapi serangan kelompok islamofobia, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fahmi Salim menyebut bahwa tugas semua muslim untuk menjelaskan dan menampilkan Islam yang tidak seperti mereka takutkan.

Dilansir dari laman PP Muhammadiyah, di Negara-negara Barat yang sekuler, terjadinya fenomena islamophobia menurutnya itu bukan suatu yang mengagetkan. Akan tetapi islamophobia di Negara dengan penduduk mayoritas Islam lebih mengkhawatirkan.

Melihat dari kacamatanya, Fahmi Salim menyebut bahwa terjadinya islamofobia menjadi arus besar di ruang publik diakibatkan arus informasi serampangan yang ditampilkan oleh media. Banyaknya akun anonim yang memproduksi konten informasi bagi publik yang mendiskreditkan Agama Islam.

“Ada semacam kebencian, narasi-narasi hate space atau ungkapan – ujaran kebencian,” tuturnya pada, Selasa (5/4) di acara Tausiyah Online yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI. Yogyakarta, dikutip dari muhammadiyah.or.id (7/4).

Menurutnya, terjadinya fenomena tersebut harus direspon oleh otoritas Agama Islam. Juru dakwah yang dimiliki harus up to date, melek literasi digital, dan senantiasa meningkatkan kualitas keilmuan.

Dalam konteks umat Islam Indonesia yang berjumlah mayoritas, kata Fahmi Salim, peran-peran untuk menangkal fenomena islamofobia seharusnya lebih bisa dimaksimalkan. Di mata dunia Islam, prosentase melimpah umat Islam yang dimiliki oleh Indonesia merupakan harapan.

Mengutip beberapa sumber, Fahmi Salim menyebut bahwa fenomena islamofobia ini tidak bisa dilepaskan dari agenda politik besar yang dilakukan oleh Negara-negara yang khawatir kedigdayaannya digeser oleh Islam atau Negara-negara dengan penganut Islam terbesar.

Baca Juga: Aktivis HAM Nilai UU Separatisme Prancis Legalkan Islamofobia

Dia menegaskan, bahwa untuk menghilangkan islamophobia tidak bisa diserahkan ke siapa-siapa. Melainkan islamophobia merupakan tantangan bagi semua umat Islam, dengan menampilkan Islam tengahan sebagai rahmat bagi seluruh alam berlandaskan al Qur’an dan Hadist.

Sikap atau perilaku yang membenci Islam telah disebutkan dalam Al Qur’an, kelompok ini selalu merasa terancam atas kehadiran Islam. Padahal jika mereka mengenal Islam lebih dalam akan menemukan, bahwa hadirnya Agama Islam di dunia adalah untuk memperbaiki.

“Dan sifat islahnya itu menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta”, tandasnya.

 

Hari Melawan Islamofobia

Pada medium Maret 2022 lalu masyarakat Muslim seluruh dunia merayakan Hari Internasional untuk Memerangi Islamafobia, tepatnya pada 15 Maret. Perayaan ini dilakukan untuk mengecam meningkatnya intoleransi dan diskriminasi terhadap Muslim dan minoritas lain di Barat, India dan bagian lain dunia.

Melansir warta republika.co.id (16/3), Penghargaan untuk mengumumkan 15 Maret sebagai hari untuk memerangi Islamofobia di seluruh dunia ditujukan kepada kepemimpinan Pakistan. Hal ini terjadi ketika negara tersebut mempresentasikan resolusi pada sesi ke-47 Dewan Menteri Luar Negeri OKI di Niamey, Niger, pada November 2020 dalam hal ini.

“Bertemu dengan Anggota Kelompok Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Diberi pengarahan tentang proposal OKI untuk mempresentasikan rancangan resolusi yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi #Islamofobia di bawah agenda Budaya Damai,” tulis Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Abdulla Shahid dalam akun Twitter resminya, dikutip di Pakistan Observer, Rabu, 16 Maret 2022.

Pakistan muncul sebagai aktor terkemuka di antara dunia Muslim untuk menyuarakan keprihatinan serius di berbagai forum dunia, mengenai Islamofobia dan meningkatnya diskriminasi terhadap Muslim di kalangan non-Muslim.

Perdana Menteri Imran Khan juga dipuji oleh banyak orang di seluruh dunia, karena menyuarakan keprihatinan di Majelis Umum PBB dan forum-forum lain mengenai meningkatnya ketidakamanan terhadap Muslim, dan penindasan terhadap Muslim di berbagai zona konflik.

 

Momentum Pembebasan Umat Islam dari Stigma Negatif

Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti berharap penetapan Hari Melawan Islamofobia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 15 Maret 2022, ditindaklanjuti. Menurutnya, keputusan itu merupakan momentum luar biasa yang bisa membebaskan umat Islam dari berbagai stigma negatif.

Hal itu disampaikan LaNyalla secara virtual dalam Muktamar X Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS) dengan tema ‘Merawat Nalar Kritis Mahasiswa Sebagai Salah Satu Upaya Menuju Indonesia Maju’, Selasa (29/3/2022).

“Keputusan Hari Melawan Islamofobia bagaikan membebaskan umat Islam dunia, dan Indonesia khususnya, dari himpitan yang selama ini dirasakan. Yaitu agenda setting untuk menciptakan ketakutan masyarakat dunia terhadap Islam. Dimana Islam di-stigma sebagai teroris, radikal juga intoleran,” ujarnya, dikutip dari sindonews.com (29/3).

Menurut  LaNyalla, Islam cenderung untuk dipisahkan dari spirit bernegara. Sampai puncaknya, ada kelompok yang berusaha membenturkan vis-à-vis Pancasila dengan Islam. Padahal tidak ada satu tesis pun yang menyatakan Islam bertentangan dengan Pancasila.

“Hal itu semua merupakan dampak dari propaganda Islamophobia. Tetapi saya prihatin dengan organisasi-organisasi Islam di Indonesia, yang menyambut dingin penetapan itu. Padahal seharusnya Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia menyambut dengan suka cita dan gembira,” terangnya.

Ditambahkannya, negara ini lahir atas jasa besar umat Islam. Sejarah mencatat kontribusi besar Islam dalam perjuangan kemerdekaan lahirnya bangsa ini tanpa mengesampingkan peran tokoh-tokoh nonmuslim. Hingga kemudian para pendiri bangsa bersepakat bahwa Dasar Negara ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti termaktub dalam Pasal 29 Ayat (1). Yaitu tertulis dengan jelas; ‘Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa’.

Bahkan di Ayat (2) tertulis: ‘Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu’. Ditegaskan LaNyalla, Pancasila menempatkan spirit Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam Sila Pertama, sebagai payung hukum dengan spirit teologis dan kosmologis dalam menjalankan negara ini.

“Maka sudah seharusnya dalam mengatur kehidupan rakyatnya, negara berpegang pada spirit Ketuhanan. Sehingga kebijakan apapun yang dibuat dan diputuskan, wajib diletakkan dalam kerangka etis dan moral serta spirit agama,” kata alumnus Universitas Brawijaya Malang itu. [Muhammadiyah/republika/sindonews]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed