by

Fahira Idris: Pancasila Ideologi Modern dan Visioner

Kabar Damai | Kamis, 15 April 2021

Jakarta | kabardamai.id | Meski dirumuskan dan ditetapkan lebih dari 75 tahun silam, sejatinya pancasila merupakan sebuah ideologi modern. Pancasila juga menjadi bukti nyata kecerdasan kualitas dan visionernya para pendiri bangsa ini dalam meneropong dan memprediksi tantangan zaman yang bakal dihadapi Indonesia saat ini dan di masa depan.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Fahira Idris menilai Pancasila merupakan Ideologi modern dan visioner. Bahkan menurutnya Pancasila diyakini mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini.

“Walau dirumuskan dan ditetapkan lebih dari 75 tahun silam, sejatinya Pancasila merupakan sebuah Ideologi modern”, ucapnya saat Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Kepulauan Seribu, Jakarta dikutip dari kasatara.id Rabu, (14/4).

Dalam laman BPIP, Fahira juga menyebut Pancasila menjadi bukti nyata kecerdasan kualitas dan visionernya para pendiri bangsa ini dalam meneropong dan memprediksi tantangan zaman yang bakal dihadapi Indonesia saat ini dan di masa depan.

“Berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia baik tantangan internal yang menghambat maupun tantangan global yang kompleks membutuhkan keteguhan ideologi”, ujarnya, seperti dikutip bpip.go.id (14/4).

Keteguhan ideologi ini, menurut Fahira,  bisa tertanam kuat jika Pancasila menjadi basis karakter semua anak bangsa terutama para pemimpin. Karakter pancasila menjadi kunci bagi Indonesia untuk mengurai semua tantangan yang dihadapi saat ini dan ke depan.

Fahira menyebut,  tanpa karakter yang kuat dan berakar, sebuah bangsa tinggal menunggu kehancuran. Karakter bukan hanya tanda sebuah negara eksis, tetapi juga ‘kendaraan’ bagi sebuah negara untuk melompat maju. Sebuah negara akan kokoh maju dan tidak terombang-ambing jika mempunyai karakter yang kuat.

“Misalnya saja, tantangan perkembangan ekonomi yang saat ini ditandai dengan penyatuan dalam perdagangan atau pasar bebas. Pasar bebas yang sama artinya dengan perebutan pasar, penuh dengan persaingan tidak sehat dan dipenuhi praktik-praktik ekonomi yang tidak berdimensi keadilan terutama karakter serakah yang dalam konteks ekonomi praktiknya nyatanya adalah penguasaan atas aset dan kesempatan (monopoli) yang mematikan kelompok pengusaha kecil”, terangnya memberi contoh.

 

Baca Juga : Rekrutmen Paskibraka Diperkuat dengan Pendidikan Ideologi Pancasila

 

Jika kita konsisten terapkan ekonomi Pancasila, maka tantangan-tantangan tersebut bisa kita retas. Muara ekonomi Pancasila itu mewujudkan pemerataan social, Jika kesenjangan dan ketimpangan ekonomi kecil maka kondisi ekonomi sebuah bangsa tidak akan mudah terguncang.

“Koperasi menjadi pondasi dan bekerja secara kooperatif menjadi implementasi. Dari sini akan lahir gelombang besar usaha rakyat baik di desa maupun di perkotaan. Usaha tersebut membuka lapangan kerja dan barang atau jasa yang diproduksi dibeli kembali oleh masyarakat sehingga semua sisi perputaran ekonomi dirasakan rakyat hasilnya,” tutupnya.

Masih Relevan untuk Satu Abad Mendatang

Sebelumnya, hasil survei Pusat Studi Pancasila UGM dan Indonesia Presidential Studies mengungkap bahwa Pancasila masih dapat digunakan sebagai ideologi negara dan dapat digunakan untuk membangun Indonesia satu abad ke depan. Pancasila dinilai masih eksis di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, mereka yang menganut pandangan Pancasila sebagai ideologi NKRI yang digunakan untuk menentukan identitas bangsa Indonesia jumlahnya jauh lebih besar dibanding mereka yang mendukung pandangan Pancasila adalah ideologi untuk mewujudkan negara-bangsa Indonesia berbasis agama mayoritas (Islam).

Survey dilakukan pada tanggal 11 – 25 Maret 2021. Survei Pandangan Publik Terhadap Pancasila: Pancasila Sebagai Ideologi NKRI vs Pancasila sebagai Ideologi Untuk Mewujudkan Negara Berbasis Islam dilakukan di 34 propinsi di Indonesia.

Kepala Pusat Studi Pancasila UGM, Drs. Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., mengatakan pokok dari kegiatan riset yang dilakukan ingin melihat persepsi publik terhadap Pancasila nantinya dan dikembangkan oleh siapa. Salah satunya pemerintah harus tetap memegang peranan kunci dan penting di dalam rangka menginterprestasikan.

Dalam riset ini, katanya, bisa dilihat bagaimana fokus masyarakat dalam melihat konteks menyetujui spirit reformasi dan demokrasi. Bagaimana kemudian perkembangan Pancasila di ruang publik saat ini, apakah kondusif untuk memperkuat konsolidasi demokrasi atau malah justru sebaliknya.

“Jadi, dari survei ini nanti sebenarnya memberi indikasi kemungkinan-kemungkinan kecenderungan-kecenderungan itu dan kedepan apa yang bisa kita harapkan dari perkembangan masyarakat kita,” paparnya.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed