Exemplary Interfaith Award 2023: Bukti Nyata Praktik Toleransi di Singapura

Kabar Utama160 Views

Kabar Damai | Minggu, 20 Agustus 2023

Singapura | kabardamai.id | Singapura merupakan Salah satu negara di Asia tenggara yang memberikan cerminan toleransi yang tinggi kepada khalayak luas. Hal ini dapat secara gamblang terlihat dari banyaknya agama Dan kepercayaan yang tumbuh dan saling berdampingan satu sama lain. Sikh, Yahudi, dan Zoroastrianisme merupakan beberapa diantara 10 komunitas agama terpopuler di Singapura. Keharmonisan kehidupan beragama inilah yang menjadi Salah satu faktor pendukung terlaksananya program “Exemplary Interfaith Award” yang dihelat di Sand Exhibition and Convention Centre, Singapura pada 29 Juli 2023 lalu. Program penghargaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap figur-figur yang telah bekerja dan mengabdi dalam sektor lintas-agama untuk membangun dan mewujudkan perdamaian di Negeri Singa tersebut. Program Exemplary Interfaith Award 2023 tersebut diselenggarakan oleh Jamiyah Singapore, sebuah organisasi non-profit berbasis Islam yang dari tahun ke tahun melayani kebutuhan masyarakat Singapura, dan memberikan kontribusi dalam kerja-kerja perdamaian.

 

Salah satu rangkaian acara dalam program tersebut adalah ASEAN Youth Forum on Interfaith Harmony. Rangkaian acara ini merupakan usaha dari Jamiyah Singapore untuk memberikan ruang dialog bagi para orang muda untuk berbagi pengalaman mereka melakukan usaha-usaha untuk mewujudkan perdamaian. Selain itu, orang muda juga diharapkan untuk dapat menjadi inspirasi di komunitasnya masing-masing untuk memajukan pergerakan perdamaian. Ketertarikannya untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi membuatnya kerap Kali diundang dalam berbagai forum Lintas Iman di seluruh dunia. “Penting untuk membawa komunitas-komunitas Lintas Agama untuk bersama-sama membangun kepedulian bagi planet kita”, pungkasnya.

 

Baca Juga: PKPLA Menapaki Jejak Katolik di Tanah Jawa dengan Jelajahi Museum Misi Muntilan

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Harkirtan Kaur, aktivis perdamaian yang merupakan delegasi dari Indonesia sebagai salah satu panelis dalam acara tersebut. Harkirtan menceritakan tentang bagaimana dirinya sebagai seorang Sikh yang tergolong sebagai kamu ‘minoritas’ kerap kali dikira sebagai orang yang beragama lain. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang eksistensi Sikhisme di Indonesia membuat banyaknya informasi-informasi ‘simpang siur’ yang beredar di masyarakat tentang definisi dari Sikhisme sendiri. Namun demikian, Harkirtan menjelaskan pentingnya hadir sebagai bagian dari kaum ‘Minoritas’ ditengah masyarakat untuk mendefinisikan dan merepresentasikan komunitasnya. “Untuk menjernihkan kesalahpahaman dan informasi yang simpang siur ditengah masyarakat, maka kita sebagai bagian dari komunitas yang kerap kali digolongkan sebagai ‘minoritas’ harus memiliki keberanian untuk tampil Dan mengekspresikan identitas yang kita miliki”, ujar Harkirtan.

 

Selain itu, Muhammad Haris Jiman, mahasiswa keturunan Melayu asal Thailand turut berbagi pengalamannya dalam usaha-usaha mewujudkan perdamaian di kalangan orang muda. Haris bercerita tentang bagaimana ia memperkenalkan diri dan identitasnya sebagai seorang berdarah Melayu-Thailand dan beragama Islam ditengah masyarakat Thailand yang mayoritas menganut ajaran Buddha. Haris mengungkapkan bahwa untuk menarik perhatian orang muda dalam isu-isu perdamaian, kita harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang menarik dan digandrungi oleh orang muda.

 

Sesi diskusi yang dikemas secara ringan semakin menarik dengan kehadiran seorang moderator, Darren Mak, yang merupakan seorang penggiat di Jamiyah Singapore yang beretnis Tionghoa dan beragama Islam. Darren yang juga merupakan golongan ‘minoritas’ mencerminkan perilaku toleransi masyarakat Singapura, tidak hanya pada spektrum agama, tetapi juga etnis dan kultural. Keikutsertaan orang muda dalam forum-forum Lintas Iman merupakan sebuah bukti nyata bahwa orang muda memiliki peran yang sangat penting dalam pemeliharaan keberagaman dan mewujudkan perdamaian. Tidak hanya itu, kreativitas orang muda dapat membawa dampak yang sangat signifikan terhadap tingkat toleransi suatu bangsa.

 

Penulis: Harkirtan Kaur, Secretary and Legal Staff ICRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *