by

Etnis Tionghoa di Bumi Nusantara

Oleh Budhy Munawar Rachman

 

Judul Buku : Tionghoa & Budaya Nusantara

Penulis : Sumanto Al Qurtuby dan Tedi Kholiludin (eds.)

Penerbit : Nusantara Institute, Semarang, 2021

 

“Perjumpaan secara damai (peaceful encounter) kebudayaan Tionghoa–Nusantara atau integrasi masyarakat Tionghoa–Nusantara sudah berlangsung selama berabad-abad. Kelak, rezim politik kolonial Belanda dan pemerintah Orde Baru melalui beragam program, aktivitas, dan kebijakan politik diskriminatif-segregatif berusaha melenyapkan “jejak budaya” bangsa Tionghoa di bumi Nusantara. Buku yang digagas oleh Nusantara Institute ini merupakan bagian dari upaya untuk merekam jejak sejarah dan kebudayaan bangsa Tionghoa di Nusantara yang tidak banyak disadari atau diketahui oleh masyarakat luas. Dokumentasi akademik jejak budaya bangsa Tionghoa di Nusantara ini sangat penting karena banyak fakta keanekaragaman tradisi dan budaya kontemporer bangsa Indonesia di berbagai bidang–dari kuliner dan busana hingga kesenian dan arsitektur bangunan dan bahkan keagamaan–yang sejatinya dipengaruhi oleh–atau diadaptasi dari–kebudayaan bangsa Tionghoa yang sudah lama eksis di Tanah Air”

Sumanto Al Qurtuby

Pendiri dan Direktur Nusantara Institute

Orang-orang Cina atau Tionghoa berperan besar dalam babak sejarah nusantara Indonesia. Jauh sebelum Belanda datang, catatan sejarah Cina di Indonesia begitu panjang dan lebar. Tak habis ketika dirunut tak tuntas ketika dikupas. Bongkahan sejarah terus menerus digali, interpretasi pun menjadi multi. Patut kita telusuri, lantaran itu semua merupakan kekayaan sejarah dan budaya yang ada di Indonesia.

Orang-orang Tionghoa datang ke Indonesia berdagang, kemudian membaur, tukar menukar, saling-silang lewat perkawinan kemudian menetap, yang terjadi  kemudian seolah Cinaisasi atas Indonesia sebagaimana Islamisasi  atas nusantara, tak heran jika muncul istilah golongan Indo-Cina, bangsa keturunan, atau peranakan. Pada pra kolonial mereka datang berdagang tanpa membentuk ikatan monopoli dagang secara formal maupun institusional seperti apa yang dilakukan oleh VOC Belanda atau Pemerintah Hindia Belanda. Namun ekesistensi kehidupan mereka sepanjang kolonial  mampu bertahan dan bersaing walupun banyak tekanan lewat peraturan  pada masa permerintah VOC maupun Hindia Belanda.

Baca Juga: 7 Pejuang Keturunan Tionghoa Ini Berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia

Mereka juga berupaya bagaimana membangun hubungan komunikasi sosial agar diterima kerajaan-kerajaan Indonesia, melakukan dan menciptakan tata cara transaksi dan sistem pembayaran dagang dengan kaum pribumi. Lebih jauh dari itu, bagaiamana mereka bisa tetap hadir di nusantara untuk bercampur dan membaur. Dengan demikian, Tionghoa pada gilirannya bukan lagi outsider dalam struktur sejarah dan budaya nusantara, namun turut menentukan arah perjalanan Indonesia.

Keragaman Budaya Indonesia

Buku “Tionghoa & Budaya Nusantara” yang tebalnya 406 halaman ini, menghimpun sejumlah tulisan dengan ragam perspektif. Namun secara umum, buku ini membahas tentang keragaman budaya Indonesia, dan salah satu keragaman budaya yang memiliki ciri khas adalah budaya Peranakan Tionghoa. Selama berabad-abad akulturasi budaya Tiongkok di Nusantara berproses sedemikian rupa hingga melahirkan simbiosis mutualistis.

Tionghoa, dalam dialek Hokkien berarti “Bangsa Tengah”, dalam bahasa Mandarin ejaan Pinyin, kata ini dibaca “zhonghua” merupakan sebutan lain untuk orang-orang dari suku atau ras Tiongkok di Indonesia. Kata ini juga dapat merujuk kepada orang-orang keturunan Tionghoa yang tinggal di luar Republik Rakyat Tiongkok seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Taiwan.

Wacana Tionghoa (Zhonghua atau Cung Hwa), setidaknya sudah dimulai sejak 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Tiongkok untuk terbebas dari kekuasaan dinasti serta membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat. Kata ini pertama kali diperkenalkan Sun Yat Sen secara luas. Seperti diketahui, Sun Yat Sen merupakan tokoh Revolusi Tiongkok dengan mendirikan Republik Tiongkok (Zhonghua Minguo) pada 1911, setelah menggulingkan Dinasti Qing dengan kaisar terakhir Pu Yi. Kemenangan Revolusi Tiongkok ini memberi inspirasi terhadap perjuangan dan kebangkitan nasional di Indonesia.

Masyarakat Tionghoa sering dikaitkan dengan mitos naga, salah satu hewan dalam mitos yang dipercaya oleh masyarakat Tionghoa. Ketika mereka dari Tiongkok berimigrasi ke Nusantara, mereka juga membawa kepercayaan ini. Naga dianggap memiliki kekuatan menentukan kapan dan di mana hujan turun. Terkadang, naga diyakini hidup di bawah bumi dan muncul ke dunia pada bulan kedua sistem penanggalan imlek untuk menurunkan hujan serta halilintar sebagai penanda datangnya musim semi. Masyarakat Tionghoa meyakini kekuatan dari sang naga yang dapat mendatangkan keberuntungan, keberhasilan, kebijakan, berkah, kekuatan hingga kekuasaan. Pada perkembangan berikutnya, orang-orang Tiongkok kerap menggunakan istilah ‘keturunan naga’ sebagai identitas mereka (h. 2).

Skinner—sebagaimana dikutip oleh Achmad Sunjayadi dalam buku ini—membagi wilayah asal orang-orang Tionghoa yang datang ke Nusantara yaitu orang Hokkian berasal dari provinsi Fukien, orang Tiochiu dari sebelah selatan asal orang Hokkian, orang Hakka dari pedalaman Kwangtung, orang Kanton dari sebelah barat orang Hakka dan selatan Tiongkok. Orang Hokkian memiliki kemampuan berdagang dan menyebar di wilayah Jawa bagian timur dan tengah, Pantai Barat Sumatra dan Indonesia bagian timur. Orang Tiochiu menyebar di luar Jawa, seperti Pantai Timur Sumatra, Kepulauan Riau, barat Kalimantan (Pontianak). Mereka biasanya bekerja di perkebunan.

Lalu orang Hakka yang menyebar di barat Kalimantan untuk bekerja di pertambangan emas. Sejak akhir abad ke-19 mereka datang ke wilayah Jawa bagian barat karena tertarik pada pertumbuhan kota Batavia dan Priangan. Sementara itu orang Kanton menyebar di Sumatra. Mereka bekerja di pertambangan di Bangka, Sumatra bagian tengah, Kalimantan bagian selatan,  Kalimantan bagian timur. Namun, ada pula yang menyebar di wilayah timur dan tengah Jawa. Jumlah mereka jauh lebih kecil daripada kelompok orang Tionghoa lainnya. Meskipun dilihat secara jumlah jauh lebih kecil, orang Kanton datang dengan modal besar serta keterampilan untuk bertukang dan berusaha dalam industri. Orang Kanton menempatkan dirinya di kota-kota di Indonesia sebagai tukang yang mahir, pekerja mesin, pemilik toko besi atau industri kecil. Mereka juga bekerja sebagai pengurus restoran atau hotel.

 

Migrasi ke Berbagai Benua Sejak Abad ke-15

Migrasi besar-besaran orang-orang Tionghoa ke berbagai penjuru dunia dimulai ketika abad ke-15. Ketika itu, kondisi daratan Tiongkok tidak henti-hentinya diisi dengan peperangan karena pasang-surut pergantian dinasti. Ditambah lagi, ketika itu daratan Tiongkok juga kerap kali dilanda bencana alam. Hal ini menyebabkan warga Tionghoa memutuskan untuk nekat meninggalkan negara mereka meski hanya berbekal buntalan pakaian. Mereka bermigrasi ke berbagai benua mulai dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Australia. Kini hampir di setiap negara dapat ditemukan kawasan pecinaan. Hal ini memang karena warga Tionghoa telah berdiaspora ke berbagai penjuru dunia.

Etnis Tionghoa di Indonesia terdiri atas beragam suku, akan tetapi mereka semua menggabungkan diri dalam wadah kesatuan etnis Tionghoa. Kebudayaan etnis Tionghoa sendiri telah berasimilasi dengan kebudayaan Indonesia, namun corak khas dari kebudayaan etnis Tionghoa yang bersumber dari kebudayaan China tetap melekat erat.

Budaya berdagang adalah hasil karya, cipta, dan rasa manusia dalam kegiatan jual beli, yakni di mana penjual menawarkan produk yang dijualnya kepada pembeli. Dalam hal ini, budaya meliputi kaidah-kaidah, nilai-nilai, ajaran, teori, dan aturan aturan yang membentuk dan terwujud dalam perilaku manusia. Hopeng, Hongsui dan Hokki. Ketiga nilai tradisional Tionghoa ini sangat berpengaruh baik dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi di manapun mereka berada.

Ketiga nilai ini merupakan kepercayaan dan mitos yang diyakini orang Tionghoa dalam menjalankan kehidupan dan berbagai usaha yang mereka tekuni.

Hopeng adalah cara untuk menjaga hubungan baik dengan relasi bisnis. Bagi orang Tionghoa, hubungan dengan relasi sangat penting. Sebagian besar usaha orang Tionghoa berasal dari keluarga atau teman-teman dekat.

Oleh karena itu, dapat dimengerti mengapa dalam berdagang pengusaha Tionghoa selalu bermitra dengan anggota keluarga dan sahabat-sahabatnya. Kepercayaan terhadap hongsui adalah kepercayaan pada faktor-faktor alamiah yang menunjang nasib baik dan buruk manusia. Hongsui menunjukkan bidang atau wilayah yang sesuai dengan keberuntungan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun peruntungan perdagangan. Sementara Hokki masih memiliki kaitan dengan unsur hongsui.

Hokki merupakan peruntungan nasib baik. Para pengusaha Tionghoa memegang suatu konsep pengelolaan resiko yang dilandasi dengan melakukan suatu pengelolaan nasib atau takdir melalui hongsui, sehingga terlihat bahwa hokki ini tidak terpaku pada sikap fatalistik. Hokki lebih dipersepsikan bagaimana menyiasati nasib agar selalu mendapat nasib baik dan keuntungan.

Etos kerja masyarakat Tionghoa adalah etos yang luar biasa. Sejak kecil warga keturunan di Indonesia selalu diajarkan untuk tahu diri karena mereka merupakan kaum minoritas, sehingga dalam bertindak tidak boleh terlalu menonjol atau berlebihan meminta bantuan kepada orang lain. Dalam pekerjaan, masyarakat Tionghoa harus mampu menguasai banyak jenis pekerjaan, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling sulit.

 

Modal Orang Tionghoa

Mereka menanamkan suatu ideologi bahwa setiap usaha atau pekerjaan tidak selalu permanen, seperti layaknya roda berputar, suatu saat di atas, lain waktu di bawah. Modal bagi masyarakat Tionghoa bukan berupa uang saja, tapi juga berupa keterampilan, semangat, dan kepercayaan dari relasi, yang kesemuanya itu akan membuahkan suatu hasil. Ajaran Konfusianisme atau Khonghucu sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku dagang atau bisnis masyarakat Tionghoa.

Keberadaan orang Tionghoa di Maluku, misalnya, ternyata harus dikaitkan pertama-tama dengan cengkeh sebagai komoditi perdagangan internasional sejak awal-awal tahun Masehi. Artinya jejak orang Tionghoa sebenarnya merupakan jejak pertama untuk menulis secara komprehensif sejarah ekonomi  di Maluku yang terkait dengan perubahan model usaha dan kerja masyarakat lokal dari suatu pola subsisten ke mekanisme pasar. Tatanan yang berubah itu telah mendorong migrasi antarpulau sebagai suatu faktor pendorong perubahan sosial secara masive di Maluku. Dalam hal ini orang Tionghoa turut memperkenalkan teknologi perhubungan laut dan sistem navigasinya di mana bintang menjadi penunjuk arah pelayaran yang masih digunakan sampai saat ini oleh banyak pelaut atau nelayan tradisional di Maluku. (h. 67)

Pada sisi lainnya pembauran etnik Tionghoa dengan masyarakat setempat di Maluku turut membawa perubahan tatanan sosial-budaya. Selain memperkenalkan sarana dan model-model ekonomi, orang Tionghoa juga turut memperkenalkan budaya busana yang sampai saat ini masih dipakai, misalnya kain-kebaya putih dan keterampilan merenda atau merajut, sistem “ika konde” (membuat kuncir rambut kaum perempuan) dengan pengharumnya “bunga manor China” (bunga melati).

Perubahan sosial-budaya yang sangat signifikan sampai saat ini justru terjadi pada level keagamaan, di mana etnis Tionghoa yang beragama Kristen, dalam sistem organisasi Gereja Protestan Maluku (GPM) dilembagakan sebagai Jemaat mandiri yaitu Jemaat Khusus Hok Im Tong (HIT) GPM masing-masing Jemaat Khusus GPM HIT Ambon, Jemaat Khusus GPM HIT Dobo, Jemaat Khusus GPM HIT Saparua. Dalam Peraturan Pokok GPM tentang Jemaat, disebut bahwa Jemaat Khusus GPM HIT ini seluruhnya adalah warga gereja yang berasal dari etnis Tionghoa. Hal itu menjadi bukti bahwa eksistensinya diakui dalam sistem keagamaan atau kegerejaan bahkan keberadaan itu membawa dampak perubahan tertentu dalam eklesiologi GPM.

Demikianlah. Kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu pembentuk dan bagian integral yang tidak terpisahkan dari kebudayaan nasional Indonesia sekarang ini. Kebudayaan Tionghoa di Indonesia, walau berakar dari budaya leluhur namun telah bersifat lokal dan mengalami proses asimilasi dengan kebudayaan setempat lainnya.

 

Pegang Teguh Ajaran Agama dan Pertahankan Tradisi Budaya

Dalam hal agama, sebagian besar masyarakat etnis Tioghoa menganut agama Buddha, Tridharma, dan agama Khonghucu. Ada juga yang beragama Katolik dan Kristen. Belakangan ini jumlah etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam bertambah. Masyarakat Tionghoa yang tinggal sebagai warga negara indonesia keturunan dalam kehidupan sosialnya terbukti memiliki karakteristik sosial yang religius. Semua itu dibuktikan etnik Tionghoa memegang teguh ajaran-ajaran agamanya dan selalu mempertahankan tradisi kebudayaannya.

Karakter lain yang dapat kita lihat adalah dari segi etos kerja yang tinggi. Hal tersebut yang menjadikan orang tionghoa menjadi banyak yang sukses dalam berbagai hal. Dari mulai perdagangan, mengatur usaha, mengelola usaha. Maka dari itu orang Tionghoa di Indonesia mempunyai banyak relasi dari kalangan pegawai, pengusaha, sampai kalangan buruh.

Masyarakat etnis Tionghoa yang tinggal menetap sebagai warga negara Indonesia keturunan dalam kehidupan sosialnya terbukti memiliki karakteristik sosial yang religius. Semua itu dibuktikan etnis Tionghoa memegang teguh ajaran-ajaran agamanya dan selalu mempertahankan tradisi kebudayaannya.

Karakter yang dapat dilihat dari masyarakat etnis Tionghoa adalah dalam etos kerja yang tinggi itu menjadikan masyarakat etnis Tionghoa sukses dalam segala hal. Maka tidak heran jika masyarakat etnis Tionghoa mempunyai banyak usaha industri, dan mempunyai banyak pegawai, pengusaha, sampai kalangan buruh. Semua itu dapat dibuktikan dari aspek ekonominya.

Sebagai salah satu komunitas besar yang telah dianggap suku di Indonesia, Tionghoa memiliki kontribusi bagi pembangunan bangsa, bukan saja di bidang ekonomi, namun kini telah merambah sosial-kultural. Stigma yang telah diciptakan Orde Baru selama kurang lebih 32 tahun telah mengultuskan Tionghoa sebagai salah satu suku yang eksklusif dan tertutup, dan kebanyakan tidak membaur dengan penduduk asli di sekitarnya. Gambaran tersebut sebenarnya keliru, sebab sejak pertama kali bermigrasi dari Tiongkok, nuansa asimilasi telah terbentuk dengan bercampur baurnya beragam budaya antara Tiongkok, Arab, Melayu, dan budaya dari suku-suku lokal.

Budaya Tionghoa tidak saja telah mempengaruhi perkembangan teknik produksi dan budi daya berbagai komoditas seperti gula, padi, arak, tiram, udang, garam, dan lain-lain, juga membawa pengaruh besar pada perkembangan sistem kongsi, teknik kemaritiman, perdagangan, dan sistem moneter di Jawa. Melihat besarnya pengaruh itu membuat Lombard tiba pada kesimpulan, bahwa laiknya pengaruh India terhadap kebudayaan Asia Tenggara, ia menyebut adanya kontinum budaya Tionghoa meresapi mentalitas orang Jawa.

Pada masa Presiden Joko Widodo, praktis problem diskriminasi regulasi terhadap etnis Tionghoa telah berakhir. Catatan kemajuan kebudayaan Indonesia yang imun dari prasangka rasialisme setidaknya mulai tergambar dengan naiknya seorang beretnis Tionghoa, Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI.

 

Akulturasi Melalui Proses Damai

Akhirnya, kebudayaan asing tersebut terserap dalam kebudayaan sendiri tanpa dihilangkan ciri khas kebudayaan sendiri. Proses akulturasi berlangsung dalam waktu yang lama. Sebuah kebudayaan yang masuk melalui proses damai, akan lebih mungkin diakulturasi dengan cepat oleh budaya setempat. Ada banyak sekali kasus akulturasi di Indonesia, khususnya terhadap kebudayaan Tionghoa.

Mengutip Sumanto Al Qurtuby, buku yang digagas oleh Nusantara Institute ini merupakan bagian dari upaya untuk merekam jejak sejarah dan kebudayaan bangsa Tionghoa di Nusantara (atau Indonesia). Sengaja memakai kata “Nusantara” karena dulu, secara konseptual legal-formal, nama “Indonesia” belum “lahir”. Dokumentasi akademik jejak budaya bangsa Tionghoa di Nusantara ini sangat penting karena cukup banyak fakta keanekaragaman tradisi dan budaya kontemporer bangsa Indonesia di berbagai sektor yang sejatinya dipengaruhi oleh–atau diadaptasi dari–kebudayaan bangsa Tionghoa yang sudah eksis sejak lama.

Saat ini, diperlukan bacaan yang memberikan pemahaman bagi kita semua bagaimana akulturasi, toleransi dan kebangsaan Indonesia tidak hanya menjadi satu slogan yang politis. Buku ini sedikit di antara buku-buku yang mencoba menjelaskan kebhinekaan budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia. Buku ini bermanfaat dan turut memberi kontribusi positif bagi upaya pencerdasan anak bangsa dalam memahami warisan leluhur dan sejarahnya sendiri, khususnya tentang sejarah kebudayaan Tionghoa di Nusantara.

 

Dr. Budhy Munawar Rahman, Cendikiawan Muslim, Pengajar STF Driyarkara Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed