by

Etika dan Nilai Kemanusiaan Kunci Kemajuan Ruang Digital Indonesia

Kabar Damai | Selasa, 12 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo menyebut merajut etika dan nilai kemanusiaan merupakan kunci kemajuan ruang digital Indonesia.

Dilansir dari laman BPIP, menurut Romo Benny,  hal tersebut adanya keprihatinan bahwa Indonesia diklaim oleh Microsoft sebagai negara yang tidak sopan dalam bermedia sosial. Meskipun demikian ia menegaskan pernyataan Microsoft tersebut tidak benar kenyataannya pengguna internet Indonesia yang berjumlah lebih kurang 202.600.000 jiwa itu sangat sopan dan beradab.

Ia menambahkan bahwa seluruh bangsa Indonesia seharusnya dapat menjadikan Penelitian dari Microsoft tersebut sebagai titik refleksi apakah sejauh itu warganet Indonesia bersikap tidak sopan dan merusak?

Sebegitu jauhkah kita menjauhi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tertanam dalam Pancasila dan lebih memilih ideologi kematian? Begitu dalamkah kita kehilangan kemanusiaan dan terjebak pada hoaks, berita kebencian dan permusuhan?

Romo Benny juga menjelaskan bahwa supaya tidak berlarut larut diam dalam Ideologi kematian tersebut maka kita perlu menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan yang tercakup pada Pada Pancasila  kita juga harus mampu menjadikan Pancasila sebagai  gugus insting yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar berelasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Mengkampanyekan Nilai Kemanusiaan dan Keberagaman Melalui Karya

“Kita yang bijak dan paham mengenai tidak bermanfaatnya ujaran kebencian, berita buruk dan hoaks  jangan mengalah kepada mereka yang mengedepankan kekerasan dan hoaks sebagai hal yang mereka percaya, rebut kembali ruang digital dengan nilai nilai kemanusiaan yang bersumber dari Pancasila”, paparnya saat menjadi narasumber pada webinar dengan tema “Netizen Indonesia tidak Beradab”? Sabtu, 9 Oktober 2021.

Merajut kembali etika dan nilai kemanusiaan merupakan kunci kemajuan ruang digital Indonesia  masyarakat Indonesia harus dapat mewujudkan Pancasila sebagai Living and Working Ideology dengan mengisi ruang publik dan ruang digital Indonesia  dengan logos (ilmu) pathos (empati dan rasa) serta etos (cara kerja) tentang Pancasila.

Jika  tiga hal itu dapat saling menyatu dan hidup nyata dalam proses berkegiatan maka niscaya nilai nilai luhur kemanusiaan maka Pancasila  dapat benar benar dilaksanakan dan dibumikan dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia.

 

Ikatan Empati dan Kebersamaan Seharusnya Makin Kuat

Sebelumnya, Romo Benny juga menyebut di era digital dan globalisasi ini ikatan empati dan kebersamaan seharusnya semakin kuat. Hal tersebut lantaran informasi makin tidak terikat ruang dan waktu.

“Perkembangan teknologi di era digital ini bukan justru membuat keterasingan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang makin meningkat, kecepatan informasi ini diharapkan dapat membawa manusia makin menjadi cepat mengerti mengenai perkembangan informasi di sekitarnya hingga membuat ikatan empati dan kebersamaan sesama anggota  masyarakat makin meningkat”, ucapnya saat menjadi narasumber pada seminar peran Generasi Muda dalam Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila melalui Media di Gedung Rektorat Universitas Nusa Cendana  Kupang Nusa Tenggara Timur Kamis, (7/10).

Ia juga memaparkan keterasingan terhadap nilai kemanusiaan terjadi karena globalisasi lebih menitik beratkan pada kecepatan penyebaran informasi, bukan kedalaman  isi dan manfaat informasi tersebut.

“Informasi yang dibagi pada saat dan era ini cenderung mengabaikan kepantasan, kedalaman dan kebenaran, hal ini membuat manusia menjadi  makhluk satu dimensi yang  mengagungkan Informasi instan yang isinya mengabaikan norma dan nilai”, paparnya dikutip dari bpip.go.id (10/10).

Masyarakat, imbuh Benny,  juga cenderung tidak melakukan penyaringan atas berita yang didapatkan agar selalu terlihat aktual,hal ini menyebabkan banyak masyarakat terjebak dalam menyebarkan banyak berita bohong, hoax dan tidak bermanfaat yang berujung pada survey Microsoft yang menyebutkan bahwa warganet indonesia adalah warganet dengan nilai kesopanan terendah di dunia.

Dirinya juga mengungkapkan cara memperbaiki masalah adalah dengan menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan yang tercakup pada Pada Pancasila dimulai dengan Mengarusutamakan nilai keluarga dalam media massa, media sosial, dan televisi.

“Kita juga harus dapat memenuhi ruang ruang publik dengan berita dan informasi bernuansa positif yang mampu meningkatkan rasa kebersamaan dan bangga terhadap keberagaman yang kita miliki hal ini niscaya dapat menjadi jawaban terhadap issue dan informasi negatif yang cenderung merusak dan mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia,” tandasnya.

Ia juga mendorong pemuda yang menjadikan Pancasila sebagai gugus insting yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar dan berelasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Hal ini dibuktikan dengan menambah kecerdasan literasi dengan selalu senantiasa menelaah dan menyaring menggunakan kecerdasan dan logika berpikir tentang informasi yang mereka terima,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama sebagai narasumber Herman Josis Mokalu atau Yosi Project Pop mengatakan untuk menghadapi berbagai macam masalah di dunia maya, khususnya yang dapat merusak rasa persatuan dan kesatuan di Indonesia adalah perlu keyakinan dari generasi muda bahwa mereka juga berhak serta berkewajiban untuk dapat melakukan pembaruan positif terhadap Atmosfer dunia maya di Indonesia yang kaya akan kekerasan, bully serta hoaks.

“Kita tidak perlu menunggu usia tua untuk turut andil dan berperan dalam menjaga negara yang sangat dicintai ini karena jika kita benar benar mencintai Negara tempat kita hidup dan tinggal kita akan selalu mau berusaha untuk berkontribusi positif bagi Negara ini,” terangnya. [bpip.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed