Pengalaman Menumbuhkan Sikap Toleransi Dalam Berorganisasi Melalui Kegiatan ICRP

Opini131 Views

Oleh: Rif`atus Sholikhah

Tuntutan tentang sikap toleransi dan hidup secara damai harus dihadirkan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab realita Indoensia adalah negara yang memiliki masyarakat plural. Indonesia sebagai negara memiliki beragam suku, ras dan agama yang berbeda, serta masih banyak lagi perbedaan lainnya. Sehingga, dengan adanya persoalan intoleransi di masyarakat bukan hanya mengancam hubungan satu orang dengan orang lain, namun dapat mengancam kerukunan umat beragama, dan juga keutuhan bangsa Indonesia yang mempunyai beragam perbedaan. Terlebih lagi, maraknya intoleransi dalam masyarakat tidak jarang dibarengi dengan praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama, tentu saja akan berdampak buruk pada kehidupan berbagai pihak.

Melihat realitas yang ada di masyarakat tentu banyak sekali isu-isu intoleransi yang masih terjadi sampai saat ini. Meskipun demikian, banyak gerakan-gerakan untuk merajut toleransi, menjadi jembatan bagi semua masyarakat tentunya anak muda untuk bisa mempelajari artinya sebuah perbedaan satu sama lain. Toleransi sendiri diartikan sebagai sikap atau perilaku untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Lantas apa saja manfaat dari toleransi?

Banyak sekali manfaat yang didapat jika semua masyarakat menjalankan sikap toleransinya, seperti; menghindari perpecahan bangsa, mempererat hubungan individu dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi setiap orang, menghormati dan memahami keyakinan orang lain yang berbeda, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Sekarang banyak sekali organisasi yang sudah mengajarkan kepada masyarakat khususnya orang muda tentang toleransi dengan sesama. Salah satu contoh organisasi yang mengajarkan toleransi yaitu; ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) dengan mengusung berbagai program kegiatan untuk anak muda lintas agama di seluruh Indoensia.

ICRP adalah organisasi yang non sectarian, non profit, non pemerintah dan independen, didekasikan untuk mempromosikan dialog antar agama, demokrasi dan perdamaian di Indonesia. Dari organisasi inilah kurang lebih saya dapat memahami dan mempraktekkan langsung tentang toleransi yang diajarkan dalam kegiatan yang diadakan, seperti SKPLA ( Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama), dan Peace Train Indoenesia.

Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama (SKPLA)

Seperti yang diketahui SKPLA adalah satu dari banyaknya kegiatan yang diadakan oleh ICRP. Menjadi wadah belajar bagi orang muda agar dapat tampil sebagai pemimpin di organisasi, masyarakat, bangsa ataupun negara di waktu mendatang. Diadakan sebanyak 3 angakatan dengan jumlah peserta 30 orang. Pada angakatan ke-3 diikuti sebanyak 30 peserta dari 46 orang yang daftar, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Doc. ICRP

Tidak hanya memperlajari tentang ilmu kepemimpinan atau leadership, juga dikaitkan dengan toleransi antar sesama. Mengapa demikian? Sebab dari banyaknya peserta tidak hanya beragama Islam saja (seperti saya), melainkan dari berbagai latar belakang agama yang berbeda. Selain itu, di setiap akhir sesi pembelajaran ada forum atau ruang tersendiri bagi peserta untuk bisa saling mengenal dan mengobrol satau sama lain.

Baca juga: Indahnya Keberagaman dan Pentingnya Toleransi di Indonesia

Kita juga dibagi perkelompok yang berlatar belakang agama yang berbeda juga, kelompok dalam angkatan ke-3 ini bertemakan nama alat musik daerah, nama kelompok tersebut diberi nama Angklung, Bonang, Surdam, Kecapi, Tifa, dan Kolintang. Kebetulan saya masuk di kelompok Kolintang bersama 4 teman lainnya. Dari sini kita tidak hanya saling mengingatkan tugas yang telah diberikan, namun juga bekerjasama dan membangun solidaritas agar menjadi kelompok terbaik dari yang terbaik dalam setiap sesinya.

Di setiap pertemuan, pihak ICRP akan menghadirkan narasumber yang sangat luar biasa. Setiap narasumber tidak hanya memberikan materi tentang kepemimpinan saja, diselipkan juga pembahasan untuk dapat memahami dan mengetahui perbedaan. Memberikan pemahaman untuk saling bisa menjadi pemimpin yang menguatkan dan menyatukan dalam perbedaan tanpa memandang ras, suku, budaya, ataupun agama.

Ruang pertemuan yang diwadahi oleh organisasi seperti inilah, berguna untuk menjalin sebuah afiliasi yang menjawab prasangka negatif  dalam pandangan masyarakat awam terkait perbedaan. Jika sebuah afiliasi sudah terbangun maka kepercayaan dan sikap toleransi akan terbangun sendirinya, dengan begitu bisa menjadi pengikat satu sama lain dalam perbedaan dan menjadi pemersatu.

Peace Train Indonesia (Jombang)

Pada bulan Juli tahun 2022 tepatnya di tanggal 29-30, saya dan beberapa teman Prodi Studi Agama-Agama (SAA) UINSA diberi kesempatan untuk mengikuti Peace Train Indonesia (PTI). Kebetulan PTI kali ini sudah yang ke-14 kalinta diadakan, bertempat di Jombang, Jawa Timur. Kita ketahui bahwasannya ini adalah tempat lahir Gus Dur seorang tokoh penting bagi seluruh pemeluk agama di Indonesia. Sikap toleransinya begitu besar untuk seluruh umat beragama di Indonesia, sangat memberikan kenangan damai yang beliau ciptakan.

Doc. ICRP

Peserta PTI ke-14 terdiri dari berbagai macam latar belakang baik agama, daerah, budaya dan suku. Berjumpanya saya dengan teman-teman peserta dari Sabang sampai Merauke, tidak menghalangi jalinan pertemanan, meskipun pertama kali bertemu. Dalam kegiatan ini tidak hanya berkunjung ke rumah-rumah ibadah dan dijelaskan oleh pemuka agamanya saja, bagi saya ini adalah momen, dimana bisa menerapkan atau mengimplementasikan langsung sikap toleransi dengan peserta yang berbeda dengan saya.

Bagaimana tidak? Kita dari latar belakang yang berbeda dan beragam, namun memiliki tujuan yang sama yaitu; belajar kerukunan dan perdamaian dari kota kelahiran Gus Dur, sesuai dengan tema yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Dan tidak hanya itu saja, Subhanallah sekali mereka (Non-Islam) benar-benar menerapkan sikap toleransinya. Saat mendengar adzan mereka tidak lupa mengingatkan kepada kita (Muslim) untuk Salat. Selain itu, ketika kamar mandinya full orang, namun sudah waktunya Salat tetapi belum berwudhu, maka mereka akan mendahulukan kita bagaimanapun caranya.

Doc. ICRP

Sungguh luar biasa melihat mereka begitu indah dan takjub dalam menerapkan toleransinya. Semua peserta jika ada waktu untuk istirahat tidak hanya dipakai untuk tidur, leyeh-leyeh, atau lainnya. Namun mereka gunakan untuk berdiskusi atau bercerita satu sama lain, baik menceritakan tentang keluarga, kesukaannya apa, budaya atau adat istiadat di daerah masing-masing, bahkan agama yang mereka anut dari perspektif masing-masing.

Kegiatan berakhir bertepatan pada Hari Minggu, waktu ibadah bagi para jemaat GKI(Gereja Kristen Indonesia) dan temen-temen Kristen. Kita(Muslim) diperbolehkan melihat langsung ibadah mereka dengan memasuki gereja bersama-sama. Sungguh luar biasa sekali toleransi dari tuan rumah dan peserta, tidak hanya teori saja yang sudah diajarkan dalam bangku perkuliahan, namun juga bisa langsung mempraktekkan sikap toleransi yang kita miliki selama ini. Pengalaman luar biasa yang tidak pernah saya lupakan dalam mengikuti PTI ke-14, bertempat di Jombang, Jawa Timur.

Penulis: Rif`atus Sholikhah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *