by

Eksploitasi Perempuan dalam Film Selesai, Bukti Indonesia Butuh Lebih Banyak Sutradara Perempuan

Kabar Damai I Senin, 23 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Di tengah kesadaran masyarakat global tentang kesetaraan, film ini hadir dengan kisah perselingkuhan yang secara gamblang mengobjekifikasi dan mengeksploitasi perempuan secara seksual.

Film Selesai karya Tompi menjadi topik viral di Twitter dalam beberapa waktu terakhir ini. Dihujani kritik dari mulai masyarakat sampai kritikus ternama, film Selesai kini menuai pandangan buruk dari masyarakat.

Mengangkat isu perselingkuhan, cerita film Selesai cukup mudah dimengerti dan mungkin relevan bagi mereka yang pernah berada di hubungan yang tidak jujur. Perselingkuhan antara Broto (Gading Marten) dengan Anya (Anya Geraldine), terjadi di tengah hubungan rumah tangganya bersama Ayu (Ariel Tatum).

Sebagai istri yang sudah lelah, Ayu ingin untuk berpisah dan menggugat cerai. Namun perceraian terancam gagal karena kehadiran ibu dari Broto yang kini tinggal bersama mereka. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi penghuninya, kini terasa seperti mimpi buruk dengan kemarahan yang tiada habisnya.

Sepanjang cerita, karakter-karakter dalam film ini terasa seperti kehilangan arah dengan banyaknya hal yang terjadi di rumah tersebut. Namun, tidak ada karakter yang lebih menderita dari Ayu. Sebagai seorang istri, Ayu harus bertahan di hubungan yang menyiksa emosional dan menderita, akibat kesalahan orang lain.

Disutradarai dan ditulis oleh laki-laki, film ini menggambarkan perempuan sebagai objek yang menjadi sumber masalah dan pelaku dari kejahatan yang tidak mereka lakukan.

Film ini dilihat dari kacamata dan diperuntukkan bagi laki-laki misoginis yang tak mengamini hak asasi manusia. Pasalnya, sebagai perempuan, saya tak mendapatkan nilai apapun dari film ini selain peran kaum kita sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki.

Pengambilan gambar yang banyak menyoroti payudara, pinggang, pinggul, dan bokong pemeran utama Ayu (diperankan Ariel Tatum) dan pemeran pendukung Anya (diperankan Anya Geraldine), hanyalah satu dari banyaknya aspek bermasalah dalam film ini.

Pertama, saat perselingkuhan terungkap hal pertama yang dikatakan oleh karakter Ayu adalah sumpah serapah yang menyalahkan Anya. Walaupun Anya juga salah, tapi perselingkuhan tidak terjadi bila Broto bisa setia dengan hubungan pernikahannya.

Perempuan Selalu Salah

Lagi-lagi, ketika berbicara soal perselingkuhan, beban yang diberikan kepada perempuan seringkali lebih besar. Perempuan dianggap menjadi penggoda utama dan alasan seorang laki-laki memilih untuk tidak setia.

Padahal alasan utama laki-laki berselingkuh bisa macam-macam, untuk kasus Broto adalah kelelahan yang dirasakannya karena memiliki istri yang dominan. Lagi-lagi beban diberikan kepada perempuan yang hanya menjadi dirinya sendiri dan mengekspresikan keinginannya.

Karakter Ayu sebagai istri yang mau memutuskan, bisa memimpin rumah tangga, dan punya pendirian sendiri menjadi alasan rumah tangga rusak. Apakah perempuan harus selalu menjadi penurut dan tidak boleh memegang kendali atas rumah tangga untuk dapat dicintai sepenuhnya? Bagi Broto mungkin begitu, terbukti dari alasan Broto memilih Anya karena ia penurut dan lembut.

Kedua, Ayu adalah objek seksual dari karakter Bambang, seorang supir yang juga adalah kekasih dari Pekerja Rumah Tangga, Yuni.

Baca Juga: Apa Itu Childfree? Pilihan untuk Menikah Tanpa Memiliki Anak

Ayu yang digambarkan berpenampilan menarik dan anggun menjadi alasan Bambang terangsang dan melampiaskan hasrat seksualnya. Ayu digambarkan sedang berdiri di halaman belakang dan menerima telepon. Tapi bagi Bambang apa yang dia lihat begitu menggairahkan.

Tidak bisa menahan nafsunya, Bambang menjadikan Ayu sebagai objek masturbasinya dan sebagai alasan Bambang tidak ingin berhubungan seksual dengan Yuni. Apakah nafsu dapat menghilangkan rasa hormat kepada perempuan, baik kepada yang dijadikan objek dan kepada yang benar-benar dicintai?

Ketiga, Ayu harus menderita sepanjang cerita dan ketika dia ingin memutuskan sesuatu yang dapat membebaskannya dari penderitaan, banyak faktor yang melarangnya. Ayu adalah menantu idaman bagi ibu dari Broto, sehingga Broto tidak bisa mengambil risiko untuk bercerai dan menyakiti perasaan ibunya.

Menjadi korban dari hubungan rumah tangga yang rusak, Ayu pun diserang Broto dan dituduh menjadi penyebab dari segalanya. Beban sakit hati, pertaruhan harga diri, dan kekerasan emosional harus ditanggung sendiri oleh Ayu atas kesalahan yang dilakukan oleh Broto.

Isu gangguan kesehatan mental yang diangkat dan berperan penting pada hidup Ayu pun dipandang sebagai kegilaan, bukan sebagai sebuah isu yang bisa menjadi edukatif. Pada akhirnya, film Selesai masih punya banyak pekerjaan rumah karena semua permasalahan yang ada di film ini tidak benar-benar selesai.

Lewat film ini, kita juga mendapatkan pekerjaan rumah utama yang harus diselesaikan. Kapan kita berhenti mewajarkan gambaran perempuan dalam media lewat sudut pandang laki-laki dan sistem patriarki?

Indonesia butuh lebih banyak sutradara perempuan untuk memberikan sudut pandang baru dan menyampaikan suara mereka melalui karya seni. Dengan memberikan perspektif baru dari sudut pandang kaum hawa, perempuan dalam film tak melulu terjebak dalam stereotipe karakter lemah yang butuh penyelamat.

Industri perfilman di Jepang juga butuh hal yang sama. Setelah melewati fase transformasi, kini ada banyak sutradara perempuan di Negeri Sakura. Namun tetap ada anggapan perempuan di industri film sulit untuk tetap bekerja dan punya karier yang panjang karena pada akhirnya akan sibuk mengurus rumah tangga setelah berkeluarga.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed