Eksistensi Pela Gandong dalam Menjaga Keharmonisan Masyarakat di Maluku

Kabar Utama153 Views

Kabar Damai I Rabu, 24 Maret 2021

 

Jakarta I kabardamai.id I Indonesia merupakan negara yang puspa-ragam, namun mampu bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan suku, budaya, adat istiadat, agama, ras,  gender, strata sosial dan golongan aliansi politik sangat jelas melekat dalam diri masyarakat Indonesia.

Kawasan Timur Indonesia menyediakan contoh budaya yang mungkin lebih dapat dipahami sebagai  bagian dari sebuah peninggalan masyarakat Austronesia yang lebih tua ketimbang sebuah peninggalan karakter budaya India yang lebih baru (Andaya,   353:1993).

Salah satu kebudayaan lokal di Indonesia Timur adalah Pela Gandong. Budaya Pela Gandong merupakan identitas, Ruhulessin (2005) sebagai model perdamaian, Ritiauw (2016) sebagai jati diri, etnis Maluku yang dalam perjalanan sejarah masih tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Dalam tulisannya berjudul “Eksistensi Pela Gandong sebagai Civic Culture dalam Menjaga Harmonisasi Masyarakat di Maluku”, Yakob Godlif Malatuny dan Samuel Patra Ritiauw menyebut, Pela   Gandong terjadi  dari suatu proses interaksi  budaya  antara dua atau lebih negeri (desa) yang berbeda latar belakang budaya, dan menghasilkan citra subjektif perilaku masyarakat dari generasi ke generasi.

Menurut peneliti Universitas Pattimura ini, Pela Gandong adalah sebuah produk budaya yang terjalin kokoh dalam perjalanan sejarah Maluku hingga kini.  Produk budaya yang menjadi sejarah  tersebut mencerminkan sebuah transmisi.

Kedua peneliti itu menyebut, Eksistensi pela gandong yang merupakan civic culture dan warisan bagi  jujaro-mungare (baca=muda-mudi) Maluku yang wajib dijaga dan dilestarikan,  sehingga  bisa menjadi modal atau pijakan dalam pembangunan dan selalu terjalin hubungan yang harmonis. Melihat potensi konflik yang ada, nampaknya memang sangat masuk akal apabila  kemudian  Maluku  hancur seperti tragedi pada 1999-2000.

Ikatan Pela Gandong yang dibanggakan untuk mengikat persaudaraan, terbukti tidak mampu menahan egoisme kelompok, Sulistiyono (2005: 9). Hal ini dapat menyiratkan bahwa bangsa kita   belum tahu bagaimana  seharusnya  memandang perbedaan yang ada, bagaimana menghormati, dan bagaimana mengatasi konflik yang akan timbul, karena tidak pernah ada mekanisme untuk belajar menghadapinya di dunia nyata, Misbach (2006, hlm. 4).

“Padahal, Pela Gandong, merupakan budaya yang benar-benar mencerminkan pola hubungan yang harmonis yang baik. Oleh karena itu, masyarakat di Maluku perlu menyadari bahwa selain  derasnya  arus  modernisasi, beragamnya komunitas yang berada di Maluku, dan  potensi  konflik  yang  ada  saat  ini,  saya  merasa rasa pela gandong dapat berperan sebagai peredam yang mampu mengurangi gejolak sosial yang bernuansa primordial,” ulas Yakob dan Samuel di Sosio Didaktita, 5 (2) 2018 lalu.

Baca juga : Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Hakekat Budaya Pela Gandong

Menyarikan dari tulisan yakob dan Samuel, secara  filosofi,  pela  bukan  sekedar  ber-hubungan  yang  dimaknai  sebagai  ikatan  geneo-logis. Namun  lebih  dari  pada  itu  merupakan  ikatan sosial yang melintasi batas-batas kesukuan maupun  agama  (Islam  atau  Kristen)  dari  tiap-tiap desa/negeri yang berPela. Lokollo (1997:5) mengatakan Pela-gandong ialah perserikatan antara  satu negeri di pulau-pulau Ambon-Lease dengan satu atau beberapa negeri lain di  Pulau Seram.

Perserikatan didasarkan pada hubungan persaudaraan  sekandung  sejati, dengan isi dan tata laku perserikatan yang diatur dalam perjanjian baik lisan maupun tulisan, di mana para pihak berjanji untuk tunduk kepada perjanjian dimaksud sebagai dasar hukum bagi implementasinya dari waktu ke waktu.

Berdasarkan hasil wawancara mereka dengan salah satu tokoh masyarakat dan sejarawan asal Maluku Bapak Sem Touwe [April, 2017] menjelaskan bahwa:

“Pela adalah hubungan antara satu atau dua atau tiga negeri di Maluku yang terjadi karena ada peristiwa sejarah yang dialami oleh masyarakat negeri itu, atau pela itu sumpah dan janji atau  ikatan perjanjian antar negeri-negeri.

Pela terbagi atas tiga yakni Pela Darah, pela ini terjadi karena adanya peperangan, Pela Tampa Sirih,  terjadi karena sebuah peristiwa sejarah yang pernah dialami misalnya pela antara orang Batu  Merah dan Orang Paso, dan Pela Gandong, hubungan antara negeri satu dengan negeri yang lain karena ada hubungan geneo-logi atau pertalian darah”.

Pendapat di atas, sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Pattikayhatu, (2005:2-3) pada dasarnya,  ada  tiga  jenis  pela,  yaitu  (1)  pela keras, (2) pela  gandong  atau bungsu  (baca; bongso)  (3) pela tempat  (baca;  tampa)  sirih. Pela  keras  (baca;  karas) bermula karena adanya peristiwa besar tertentu, biasanya berkaitan dengan perang, seperti pertumpahan darah, pertempuran yang  tidak berakhir, atau bantuan luar biasa yang diberikan oleh satu desa kepada desa  lain.

Pela  Gandong, didasarkan pada ikatan keturunan keluarga; yaitu, satu atau beberapa suku/marga di desa-desa yang berbeda mengklaim memiliki leluhur yang  sama. Pelatampa sirih dihasilkan setelah peristiwa kecil, seperti untuk memulihkan kedamaian, setelah ada pertikaian kecil atau setelah satu negeri memberi bantuan kepada negeri lain.

Dalam implementasinya, hakikat  Pela Gandong dapat terlihat dari lagu-lagu/kapata daerah Maluku yang sering dinyayikan misalnya;

Judul Lagu: Gandong  Gandong,

la mari gandong. Mari jua ale o Beta mau bilang ale Katong dua satu gandong Hidup ade deng kaka Sungguh manis lawang e Ale rasa beta rasa Katong dua satu gandong.

Reff.

Gandong e sio gandong e … Mari beta gendong, beta gendong ale jua, Katong dua cuma satu gandong e Satu hati satu jantong e

DNA bagi Orang Maluku

Pela gandong yang merupakan civic culture terus melekat dalam sanubari orang Maluku dan dipraktekan sepanjang hidup mereka. Nilai-nilai penting dalam pela gandong  telah menjadi  DNA  bagi orang Maluku, sehingga terus memberi  perintah bagaimana mereka harus bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pela gandong.

Namun, yang tidak kalah penting bahwa pela gandong  sarat akan nilai-nilai sakral yang bernada pesan damai, sehingga mesti diwariskan dan mengarusuatamakan bagi generasi muda melalui pendidikan di Maluku.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Sem Touwe [April, 2017] menjelaskan  bahwa:

“Pada budaya Pela gandong tertanam nilai-nilai perdamaian sejati yang harus dapat diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, sekolah harus dapat menjadi lembaga pewarisan nilai-nilai  perdamaian dalam bingkai “hidup orang basudara” sehingga kelak kita menghasilkan civic culture yang lebih berbasis pada nilai-nilai persaudaraan orang Maluku.”

Eksistensi pela gandong sebagai salah satu keunggulan budaya bangsa penting diwariskan kepada generasi Maluku sehingga tujuan bangsa dalam mewujudkan civic culture/budaya kewarga-negaraan  dapat direalisasikan dengan baik, dan yang pada gilirannya dapat membantu masyarakat untuk dapat membangun kehidupan yang lebih baik dalam irama “hidup orang basudara”.

Hidup orang basudara dalam konsep pela gandong sesungguhnya mengisyaratkan akan hidup saling cinta, menghargai, menghormati, menjaga tanpa membedakan suku, agama, ras, budaya,  status sosial, status ekonomi di dalam masyarakat.  Hal ini telah berdampak pada ber-kembangnya bangunan harmonisasi masyarakat Maluku yang  berbasis pada nilai-nilai budaya pela gandong.

Karena itu, nilai-nilai pela gandong/civic culture menjadi mutlak diinternalisasikan melalui pendidikan sebagai lembaga pewarisan nilai-nilai budaya bangsa. [ ]

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 5 (2), 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *