by

Edukasi Rasisme pada Remaja sebagai Pengembangan Paham Perdamaian

-Opini-47 views

Oleh: Nurur Rifqotul Maulidah

Makna perdamaian berisikan berbagai arti di dalamnya. Akan tetapi, hal yang sering diperdebatkan demi perdamaian hanyalah agama. Bagaimana dengan keberagaman lainnya? Seperti etnis, suku, maupun warna kulit dan bentuk wajah. Bukan sekedar ulasan biasa yang hanya marak dengan gemparnya fenomena berlatar belakang agama. Terlebih lagi masuknya berbagai paham modern yang dapat membolak balikan emosi serta perasaan manusia terhadap kejadian yang terjadi.

Peliknya permasalahan ketika perbedaan yang tidak dinginkan terjadi. Kemudian menyulut perdebatan serta hal-hal yang berujung pada perpecahan. Puncak dari perpecahan itupun berpotensi tidak berujung ketika pihak yang bersangkutan hanya memilih meyakini apa yang ingin diketahui tanpa menelaah lebih jauh perkara yang terjadi. Hanya terdapat dua perkara terpenting yang menjadi dasar untuk menjalin kehidupan bersama. Pertama, pembangunan lingkungan terkait interaksi antar individu.

Poin ini tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor dari luar maupun dalam. Bisa saja timbul karena kelalaian terhadap sesuatu atau tidak mementingkan adanya perbaikan terhadap konflik yang ada. Kedua, pencegahan terhadap timbulnya cekcok, kesalahpahaman, maupun perebutan hak. Hal semacam ini sering kali kita temukan baik dilingkungan sendiri maupun di tempat yang hanya dapat kita akses dari media sossial. Selebihnya adalah bagaimana manusia mulai menerima yang tidak serupa dengannya dalam berbagai aspek.

Pembahasan ini bukan mengenai agama melainkan hal-hal yang lebih manusia secara ilmiah. Seperti sekumpulan suku yang memiliki kelestarian bentuk tubuh yang berbeda. Paham ini dikenalkan dengan sebutan rasisme. Di mana seseorang, kelompok, bahkan sistem pemerintahan member perilaku yang tidak adil atau diskriminasi. Tedapat sekelompok yang bisanya berada dalam golongan minoritas akan mendapatkan ketidak nyamanan dengan hal tersebut.

Penegasan terhadap sikap yang ekstrem ini membuat banyak dampak yang merugikan. Pasalnya sikap menolak terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan bentuk visual yang nampak memang selalu sulit di terima. Terlebih lagi jika sikap seperti ini terus diletarikan kepada keturunan. Tidak diragukan lagi bila mana generasi yang akan datang akan lebih sensitif dengan hal-hal yang berbau perbedaan. Kesetimpangan yang berujung pada pertikaian memang sering terjadi.

Baca Juga: Sekolah Pluralisme Sebagai Wujud Persatuan dan Kesatuan

Di mana masing-masing pihak akan merasa ketidak adilan ada di sisi mereka. Tentunya dalam permasalahan ini kerugian akan lebih dirasakan oleh minoritas dimana ciri khas tertentu dari dirinya akan dituduh sebagai akar dari permasalahan. Adanya perbedaan yang terlihat akan memberikan kesan bahwa sanya sesuatu tidak akan terus bertahan pada tepatnya. Pemikiran akan berubah. Begitupun dengan sudut pandang orang-orang yang sering berkomentar negatif tentang titik-titik ketidak setaraan.

Dimulai dari zaman penjajahan, zaman revolusi kemudian terus berkembang menjadi instiusi dan terus menerus mengalir pada pola pikir yang sempit beberapa masyarakat. Pola ini tidak akan berhenti sampai kepada generasi yang akan datang kecuali adanya penerapan pembelajaran tentang keberagamaan terhadap mereka.

Edukasi mengenai keberagaman ini memiliki banyak tujuan. Damai sendiri dihadirkan untuk menjangkau arti yang lebih luas tentang hidup berdampingan tanpa adanya hal yang timpang. Banyak hal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda mulai dari usia dini hingga remaja. Pada fase itu mereka akan terus berkembang secara fisik maupun pola pikir. Mengenal dunia luar dan memperhatikan sekeliling. Bagaimana orang-orang disekitarnya memperlakukan orang lain yang berbeda dengan mereka.

Terlebih lagi soft learn ini akan sangat kuat dan berkesan dibanding hal-hal yang memang mutlak pembelajaran yang didapatkan sebagai pelajar maupun siswa. Karakter seorang remaja akan terbentuk dengan berbagai macam implementasi yang digambarkan keluarga dan lingkugan sekitar. Sikap rasisme tersendiri bukanlah merupakan haluan saat seseorang merasakan keanehan saat menjumpai orang lain yang tidak sama dengan dirinya. Rasisme merupakan sebauh indikasi negatif yang mengucilkan serta memberikan batasan-batasan terhadap mereka untuk mencapai ketidaksetaraan.

Pembatas tersebut sangatlah transparan terhadap para korban rasisme. Mereka akan merasakan terpojok dan sulit bergerak untuk beraktivitas maupun mendapatkan hak mereka itu sendiri. Hal yang tidak diragukan bahwa sanya perbuatan rasisme biasanya didapatkan pada wilayah dengan eksisnya minoritas. Dalam kehidupan sosial perbuatan rasis sangat kental terjadi dalam lingkup komunitas aktif seperti tempat kerja atau sekolah.

Tentu saja Bullying berkedok candaan seringkali menjadi alasan. Kebanyakan para pelaku rasisme cenderung membenarkan perlakuan mereka atas dasar yang tidak masuk akal. Hal ini kemudian akan terus mempengaruhi lingkungan itu sendiri. Fenomena-fenomena semacam inilah yang menjadi salah satu alasan untuk mengenalkan pembelajaran rasisme terhadap anak sejak dini.

Edukasi mengenai rasisme terhadap remaja bukanlah hal yang tabu ataupun sensitif jika dibawakan dan disajikan dengan baik. Pembalajaran ini dapat dimulai dengan langkah-langkah kecil seperti tindakan rasisme mupakan hal yang akan melukai orang lain.

Bersikap empati dan toleran kepada semua manusia adalah hal dasar untuk menjadi manusia yang baik. Perbedaan individu bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan hal yang harus disadari bahwa sanya manusia terlahir dalam berbagai jenis dengan keunikannya masing-masing. Poin selanjutnya adalah bagaimana mengenali tindakan-tindakan rasisme itu sendiri di lingkungan kita. sikap intoleran pada lingkungan muncul karena adanya reaksi yang berlebihan terhadap hal yang dinilai menyimpang karena perbedaan yang dimiliki.

Pasalnya tindakan ini juga berlaku pada pencerminan tingkah laku terhadap orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Pemberian edukasi mengenai rasisme adalah sebuah proses untuk menerima dan berbaur. Menilai bahwa perbedaan juga berhak mendapatkan apa yang juga kita dapatkan.

 

Nurur Rifqotul Maulidah, Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed