by

Edukasi Moderasi Beragama Perlu Terus Didengungkan

Kabar Damai  | Senin, 1 November 2021

Buntet | kabardamai.id | Kementerian Agama menjadikan penguatan moderasi beragama (MB) sebagai salah satu program prioritas di tahun 2021. Penguatan MB bahkan sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menangah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.

Dilansir dari laman Kemenag, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi menilai penguatan moderasi perlu dilakukan secara sinergis dan berkelanjutan, termasuk melibatkan perguruan tinggi.

“Edukasi tentang moderasi beragama perlu terus didengungkan ke seluruh lapisan masyarakat,” terang Wamenag saat memberikan kuliah umum bersamaan perayaan milad ke-4 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren, Cirebon, Sabtu, 30 Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (30/10).

Kuliah Umum tersebut mengusung tema ‘Transformasi Institut Menuju Perguruan Tinggi Yang Inklusif’.

Wamenag menyampaikan mahasiswa berperan penting dalam mengedukasi masyarakat terkait isu-isu kekinian, termasuk tentang moderasi beragama. Apalagi, tantangan perkembangan zaman juga semakin kompleks.

“Mahasiswa harus punya andil dalam mengedukasi masyarakat tentang indahnya konsep moderasi beragama,” ujar  Wamenag.

Ketua STIT Buntet Pesantren, Fahad Ahmad Sadat menyampaikan bahwa Buntet merupakan pesantren tua di Indonesia. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1700-an.

“STIT Buntet Pesantren masih berumur 4 tahun. Namun sudah mendapat predikat terbaik dalam pendataan akademik. Dalam dua tahun, dosen sudah mempunyai NIDN dan Jabatan Fungsional. Semoga tahun depan sudah masuk Sertifikasi Dosen,” terang Fahad Ahmad Sadat.

Baca Juga: Moderasi Beragama Jadi Kunci Terciptanya Kerukunan

Fahad menyampaikan bahwa STIT Buntet Pesantren saat ini memiliki 22 dosen tetap. Sebanya 14 dosen sudah mempunyai NIDN sebanyak 14 dosen, 9 dosen diantaranya telah memiliki Jabatan Fungsional.

“Ini sudah memiliki syarat untuk akreditasi, menuju Universitas Islam Buntet Pesantren. Dan akan dimerger dengan jurusan keperawatan,” imbuh Fahad Ahmad Sadat.

Ia pun  memohon doa dan dukungan dari para Kyai dan Wakil Menteri Agama, agar STIT Buntet Pesantren beralih menjadi Universitas Islam Buntet Pesantren.

“Mohon dukungannya Bapak Wakil Menteri Agama atas cita-cita besar civitas akademika STIT Buntet Pesantren ini,” pinta Fahad Ahmad Sadat.

Diakhir acara, Wamenag Zainut Tauhid menyerahkan secara simbolis beasiswa kepada 50 mahasiswa berprestasi dengan total bantuan sebesar Rp.100juta.

 

Moderasi Kunci Kerukunan

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan strategi yang ditetapkan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia rukun dan toleran adalah melalui penguatan Moderasi Beragama yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama.

Melansir laman Kemenag, pandangan ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam Webinar Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021 dengan mengusung tema Semangat Membangun Negeri dalam Harmoni Keberagaman Indonesia yang digelar Universitas Indonesia (UI) secara daring.

“Strategi yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia rukun adalah melalui program Moderasi Beragama. Moderasi menjadi kunci terciptanya kerukunan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa, bahkan di tingkat global. Kerukunan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud manakala masyarakat Indonesia memiliki pemahaman dan praktik keagamaan yang moderat,” kata Menag, Kamis, 28  Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (28/10).

“Untuk mewujudkan karakter moderat seperti itu, perlu ada kerjasama semua pihak. Juga perlu dilakukan dengan penuh kesabaran, komitmen, dan aktifitas secara terus-menerus sampai umat beragama yang moderat benar-benar dapat diwujudkan. Budaya moderasi perlu terus dikembangkan agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga selamanya,” sambung Menag.

Dalam webinar tersebut, Menag menyampaikan terima kasih kepada Rektor UI beserta jajarannya, yang memberikan perhatian khusus atas pentingnya kehidupan masyarakat yang harmonis guna mewujudkan Indonesia yang tangguh dan mandiri.

Hal ini, lanjut Menag, sangat penting untuk terus digelorakan dan ditanamkan dalam diri setiap masyarakat Indonesia, khususnya, seluruh warga kampus Universitas Indonesia, mengingat keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat dan bangsa Indonesia.

Menurut Menag, Indonesia adalah bangsa besar. Berbagai suku bangsa, adat-istiadat, budaya, dan agama yang berbeda-beda, hidup di negeri yang sangat indah ini. Sehingga, kerukunan menjadi sangat penting untuk diwujudkan. Keberagaman yang ada itu harus dikelola secara baik, agar semua dapat berkembang dan saling melengkapi dalam mewujudkan kehidupan yang rukun.

“Masing-masing perlu mendapat ruang untuk berekspresi dan bereksistensi. Melalui ruang itulah dapat dibangun kesadaran hidup bersama agar tidak tumbuh egoisme yang menganggap diri mereka sebagai ‘kelompok superior’ dan merasa memiliki privilege. Di sinilah pentingnya negara hadir untuk mencegah timbulnya benih-benih perpecahan anak bangsa,” tegas Menag. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed