by

Doa Lintas Agama, Haul Bung Karno dan Gemar Membaca

Kabar Damai I Selasa, 22 Juni 2021

Blitar I kabardamai.id I Pemerintah Kota Blitar mengadakan doa lintas agama memperingati Haul Ke-51 Bung Karno (presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno), Minggu, 20 Juni 2021.

Bertempat di area Pusara Makam Bung Karno, perwakilan enam agama yakni Budha, Hindu, Kristen, Katolik, Khonghucu dan Islam secara bergantian melantunkan doa-doa dengan khusyuk.

“Agenda ini memang adalah satu kebiasaan atau bahkan bisa dibilang sebagai tradisi yang selalu secara rutin dilaksanakan oleh Pemkot Blitar, kami menyebutnya dengan Doa Lintas Agama,” ungkap Tri Iman Prasetyono Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar.

Dilansir dari TIME Indonesia (20/6), Tri Iman mengatakan jika sebelum Pandemi, doa lintas agama dilakukan secara serentak atau mengumpulkan perwakilan jemaah ke enam agama di waktu yang sama. Namun kali ini, perwakilan enam agama melantunkan doa secara bergantian.

Baca Juga: Kursus Pancasila dan Doa Lintas Agama Peringati Bulan Bung Karno 2021

“Namun karena tahun ini masih berada di masa Pandemi, pelaksanaan doa lintas agama harus dirubah sesuai dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19,” jelasnya.

Tri Iman mengutarakan, perwakilan  setiap agama yang mengikuti agenda ini dibatasi maksimal 15 orang saja. itu agar jarak antar orang dapat diatur sehingga tidak saling berdekatan atau berkerumun. Pembacaan doa juga dibatasi hanya setengah jam bagi masing masing agama.

Sebelum pandemi, Disparbud Kota Blitar tidak membatasi jumlah peserta yang datang ke lokasi. Bahkan, pengunjung atau wisatawan yang ada di Makam Bung Karno diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Meski begitu, pelaksanaan doa lintas agama tetap berjalan dengan lancar dan tidak menghilangkan nilai-nilai inti atau subtansinya,” tambahnya.

Rangkaian acara peringatan haul Bung Karno, dimulai acara khataman Al Qur’an, baru kemudian dilanjutkan dengan doa lintas agama. Sore nanti, akan dilakukan pembacaan tahlil dan yasin di IstanaGebang.  Kemudian dilanjutkan dengan pengajian agama secara virtual di Balai Kusumo Wicitro malam nanti.

“Untuk acara pengajian Haul Ke-51 Bung Karno nanti akan diikuti secara terbatas oleh Forkompinda Kota Blitar. kegiatan tersebut akan juga disiarkan secara virtual oleh Diskominfotik Kota Blitar,” urai Tri Iman.

Wali Kota Blitar Ajak Warga Teladani Perjuangan Bung Karno

Dalam sambutannya, Wali Kota Blitar Santoso mengajak seluruh masyarakat terutama di wilayah setempat agar meneladani perjuangan Bung Karno sekaligus dijadikan referensi untuk diimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

“Melalui momentum Haul ini, kita menunjukkan hati, berdoa dan bersimpuh kepada Allah agar arwah Bung Karno diterima di sisi-Nya karena perjuangan dan pengorbanannya untuk Indonesia,” kata Santoso, Wali Kota Blitar, dikutip dari suaraindonesia.com (20/6).

Menurut Wali Kota Santoso, peringatan Haul Bung Karno sangat penting bagi semua kalangan lantaran selain memahami tentang jejak sejarah juga bisa dijadikan gambaran hidup. Mengingat, gebrakan yang dilakukan beliau untuk bangsa sangat luar biasa maka perlu dicontoh.

“Ada beberapa gagasan Bung Karno yang masih mencuat sampai saat ini yakni terkait gagasan Bung Karno yang telah melahirkan pancasila, Tri Sakti, dan jejak perjuangannya melawan kolonialisme,” imbuhnya.

Terakhir, Wali Kota Santoso berharap, adanya peringatan Haul Bung Karno ini dapat memberikan semangat dan warna baru khususnya bagi masyarakat Kota Blitar untuk menjadi yang lebih baik.

Sebagai informasi, rangkaian prosesi Haul Bung Karno pada Minggu (20/06) pertama kali diawali dengan acara khatam Alquran di Makam Bung Karno, doa lintas agama di pusara Bung Karno, pembacaan tahlil dan yasin di Istana Gebang dan ditutup dengan acara doa dan salawat di Balai Kusumo Wicitro.

Gemar Membaca

Merayakan Bulan Bung Karno adalah merayakan perjuangannya untuk Indonesia. Terlepas dari itu, kita pun sudah sepatutnya merayakan berbagai teladan yang telah diberikan oleh Bapak Bangsa ini.

Salah satunya, seperti diulas rmol.id (2/6), adalah menghidupkan kembali kegemaran membaca seperti yang biasa dilakukan Bung Karno.

Pertama kali Bung Karno jatuh hati pada dunia yang disuguhkan dalam buku ketika dia mondok di kediaman HOS Tjokroaminoto. Saat itu dia sedang menempuh pendidikan HBS (setara SMA) di Surabaya. Dalam otobiografi berjudul “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, dia mengaku diberikan banyak buku milik Tjokroaminoto yang dianggapnya begitu berharga.

Dia juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan di Surabaya dan melahap buku-buku politik. Di tempat itu dia mendapatkan kepuasan batin, menggantikan kekecewaannya terhadap pergaulan dan kondisi masyarakat yang terkungkung penjajahan dan kemiskinan.

“Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputusasaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira,” tulis Soekarno, dikutip dari laman Historia.

Buku telah membuka pandangan Soekarno. Dia pun mulai aktif menuangkan gagasan-gagasan tentang kesetaraan dan kemerdekaan.

Menurutnya, dia telah menulis 500 karangan lebih di majalah Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam, dengan menggunakan nama pena “Bima”, seorang tokoh pewayangan yang artinya “Prajurit Besar”.

Sepanjang hayatnya, Bung Karno tak berhenti menuliskan buah pikirannya. Banyak karya tulisan lahir dari tangannya. Di antaranya “Lahirnya Pancasila” (1945), “Sarinah” (1951), dan yang paling terkenal kumpulan tulisan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” Jilid 1 (1959) dan Jilid 2 (1960). Dalam buku-buku tersebut Soekarno selalu memberikan rujukan nama pengarang beserta judul bukunya.

Pada karya “Sarinah”, contohnya, Bung Karno mencatat sumber kutipan hingga 224 orang rujukan. Hal ini menjadi bukti kegilaan Bung Karno dalam membaca.

Melalui buku, dia memperkaya keilmuannya dan berhasil menguasai berbagai ilmu dari ideologi, politik, sosial dan ekonomi. Dia juga mampu menguasai banyak bahasa. Bahkan memiliki koleksi buku berbahasa Belanda, Jerman, Inggris, dan Prancis.

Meski koleksinya mencapai puluhan ribu buku, Soekarno mengingat dengan akurat tentang koleksi bacaannya, sekaligus tempat menyimpannya.

Koleksinya juga beragam. Bung Besar ini tak hanya membaca bacaan bertema berat, tapi juga bacaan populer semisal majalah terbitan Amerika, Vogue dan Nugget.

“Dari kegemaran membaca buku, lahirlah pemikiran dan gagasan-gagasan besar Bung Karno yang masih relevan hingga saat ini. Di antaranya tentang pendirian Lemhannas dan pentingnya pemahaman geopolitik Indonesia,” kata Ketua DPR RI sekaligus cucu Bung Karno, Puan Maharani, pada peresmian patung Soekarno di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Kamis, 20 Mei 2021.

Lebih luas, monumen Bung Karno ini bisa menjadi pengingat semua masyarakat Indonesia atas perjuangan mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya. Dari situ kemudian menumbuhkan kesadaran generasi muda soal tugas untuk mengisi kemerdekaan dengan kontribusi positif sesuai bidang masing-masing demi kemajuan bangsa. [TIME Indonesia/suaraindonesia/rmol.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed