Doa Lintas Agama dan Solidaritas Untuk Ade Armando

Kabar Utama322 Views

Kabar Damai | Kamis, 14 April 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Penyerangan terhadap dosen dan aktivis, Ade Armando membuktikan tentang adanya cara-cara melenceng dalam proses demokrasi. Demokrasi yang sejatinya harus diperjuangkan dengan cara-cara yang baik justru diwarnai dengan kekerasan bahkan hingga menyebabkan jatuhnya korban seperti yang diketahui oleh khalayak saat ini.

Hal ini turut disayangkan oleh banyak pihak. Berbagai dukungan dan solidaritas juga kemudian hadir dari banyak masyarakat kepada Ade Armando dan juga keluarga atas terjadinya peristiwa ini.

Ribuan orang hadir dalam seri virtual zoom yang juga ditayangkan dalam chanel youtube Cokro Tv dan Gerakan PIS guna menggelar doa serta solidaritas bagi Ade Armando. Rabu, (13/4/2021) malam. Kegiatan ini turut dihadiri oleh keluarga serta ragam tokoh guna bersoldaritas mendukung kesembuhan Ade Armando.

Acara doa bersama dari tokoh agama juga turut dilakukan. Turut hadir Kyia Enha (Nurul Huda) yang memimpin doa secara Islam, hadir pula Pdt. Albertus Patty yang memimpin doa secara Protestan, Romo J. Hariyanto SJ memimpin doa secara Katolik, B, Pinandita Romo Tuwari secara Hindu, Mulyadi WS secara Konghucu serta Engkus Ruswana berdoa mewakili Penghayat Kepercayaan.

Selain itu, tokoh dan aktivis perdamaian juga turut hadir dalam sesi solidaritas tersebut. Mereka ialah J. Kristiadi, Saiful Mujani, Hendardi, Musdah Mulia, Rizal Mallarangeng, Neng Dara Afiah, Nia Sjarifudin, Syafiq Hasyim, Abdul Rohim Ghazali, Hikmat Darmawan, Burhanuddin Muhtadi, Yendra Budiana, Towik serta Guntur Romli.

Baca Juga: Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dari Darurat Kekerasan Seksual

Dari layar zoom, Nina Armando Istri dari Ade Armando mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang terus mendukung pasca terjadinya kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa saat ini Ade Armando sedang dalam keadaan baik dan stabil namun perlu istirahat yang cukup.

Lebih jauh, ia juga mengungkapkan bahwa dari berbagai dukungan yang ada membuatnya semakin yakin bahwa dalam situasi yang sulit seperti saat ini, Ade Armando dan keluarga tidaklah sendiri.

Mewakili Ade Armando, Nina menyampaikan bahwa perjuangan harus tetap dilakukan. Tidak ada alasan untuk takut jika apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran.

Syaiful Mujani: Ade Armando Sosok yang Baik dan Santun

Syaiful Mujani turut berpendapat atas peristiwa yang terjadi pada Ade Armando. Ia merasa sangat terpukul atas peristiwa yang terjadi sahabatnya tersebut pula, sembari meneteskan air mata ia mengungkapkan bersyukur dan mengenal Ade Armando sebagai orang yang sangat baik hingga saat ini.

Menurutnya, terlepas dari gaya Ade Armando yang blak-blakan dalam berbicara, namun kepada teman dan rekan Ade Armando adalah sosok yang santun dan baik hati. Menurutnya, ia tidak pernah mendengar kata yang kasar dari Ade Armando dari berbagai obrolan dari banyaknya pertemuan yang ada.

“Saya merasa susah menerima Kang Ade diperlakukan seperti itu, dia bukan sekedar seorang profesional dan dosen tapi juga teman yang luar biasa baiknya,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ia sangat menyesalkan terjadinya peristiwa yang terjadi pada Ade Armando. Terlebih, Ade Armando yang memang kerap beropini secara tajam namun dalam penyampaiannya dilakukan secara sopan dan juga baik, mengkritik tidak secara personal dan diberikan dengan data dan juga fakta.

Terakhir, ia memberikan semangat dan doanya untuk kesembuhan Ade Armando agar dapat pulih dan berjuang kembali.

“Terima kasih Kang Ade, saya percaya anda akan kembali sehat, pulih dan semakin merasakan pentingnya agenda-agenda perjuangan bersama yang selama ini menjadi perjuangan anda dalam hidup,” tuturnya.

Musdah Mulia: Kekerasan Sebagai Alat Menakuti Penegak Demokrasi

Ia merasa terkejut dengan peristiwa yang terjadi pada Ade Armando. Terlebih karena ia sangat memahami terjadinya kekerasan berbasis agama marak terjadi dan berpotensi menimpa tokoh yang terus memperjuangkan perdamaian dan keragaman.

Melihat potret panjang ini, Musdah Mulia berpendapat bahwa kekerasan demi kekerasan yang terjadi dinegeri ini seperti menjadi sebuah kondisi yang selama ini tidak ditegakkan oleh hukum seperti semestinya serta tidak ada pembelajaran yang dibangun oleh negara juga masyarakat sipil agar kekerasan tidak terjadi kembali.

“Hal ini seperti seolah disemai untuk menakut-nakuti, menjadi sebuah alat agar kelompok penegak demokrasi menjadi takut,” ungkapnya.

Lebih jauh, Musdah juga menuturkan agar sebagai masyarakat sipil berlaku waspada tetap haruslah dilakukan. Ini karena kelompok-kelompok pengacau selalu hidup hingga saat ini walaupun dilakukan dengan gerakan bawah tanah karena gerakan besarnya seperti HTI hingga FPI sudah dibubarkan.

“Kewaspadaan harus tetap dibangun karena kita tidak bisa membiarkan Indonesia jatuh pada kelompok-kelompok yang ingin melenyapkan nusantara ini,” tambahnya.

Dari peristiwa ini, ia menjelaskan ada pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang terjadi pada Ade Armando. Dari hal tersebut, kemudian publik dapat mengetahui mana kelompok yang benar-benar memperjuangkan pluralisme dan kelompok mana yang menyelenggarakan berbagai kegiatan hanya untuk mencari sensasi.

Melihat realita ini pula, Musdah menuturkan bahwa pendidikan dan penguatan literasi agama penting dan menjadi kunci bagaimana menjadikan agama menjadi petunjuk sehingga setiap individu dapat mengembangkan nurani diatas segalanya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *