by

Ditjen Bimas Islam: Pengamalan Pancasila Tak Dapat Dilepaskan dari Jiwa Keagamaan

Kabar Damai | Kamis, 10 Juni 2021

Jakarta | kabardamai.id | Sekretaris Ditjen Bimas Islam M. Fuad Nasar menandaskan bahwa pengamalan Pancasila tidak dapat dilepaskan dari semangat dan jiwa keagamaan.

Penegasan ini disampaikan Fuad saat berbicara dalam Serial Webinar Kebangsaan yang diselenggarakan PPSN (Pusat Pengkajian Strategi Nusantara), Minggu, 6 Juni 2021. Acara  digelar dalam rangka Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Peringatan 120 Tahun  Kelahiran Bung Karno, Presiden Pertama RI.

“Pengamalan Pancasila dalam tindakan tidak dapat dilepaskan dari jiwa dan semangat keagamaan. Pancasila tanpa agama akan kehilangan makna. Pancasila bukan untuk meminggirkan dan menggantikan kedudukan agama yang dijunjung tinggi dalam perikehidupan bangsa dan masyarakat kita,” tegas M Fuad Nasar, dikutip dari kemenag.go.id (9/6).

Menurutnya, dilansir dari laman resmi Kemenag, dalam pandangan umat beragama, khususnya umat Islam yang terwakili oleh dua organisasi terbesar yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, bahwa dasar negara Pancasila adalah pilihan final dan terbaik karena merupakan perjanjian seluruh elemen bangsa. Dalam pemahaman Muhammadiyah, negara berdasarkan Pancasila merupakan “darul ahdi wa syahadah” (negara konsensus dan kesaksian), sedang dalam pemahaman NU, negara berdasarkan Pancasila merupakan “mu’ahadah wathaniyah” (kesepakatan kebangsaan).

Baca Juga: Diaspora RI di Australia dan Slovenia Teguhkan Komitmen terhadap Pancasila

Mensitir istilah dari Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Fuad mengatakan bahwa Indonesia adalah “darul mitsaq” (negara kesepakatan).

Dijelaskan Fuad, bahwa Mohammad Natsir, pejuang Islam terkemuka dan Perdana Menteri RI tahun 1950-1951 dalam tulisannya yang dihimpun dalam buku “Agama dan Negara Dalam Perspektif Islam” menegaskan kesatuan antara Islam dan Pancasila terjadi pada tingkat ide. Tidak ada pertentangan Pancasila dan Islam, kecuali bila Pancasila sengaja diisi dengan paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam.

“Pancasila akan hidup subur dalam pangkuan ajaran agama Islam. Kita dapat menjadi Muslim yang taat yang dengan riang gembira pula menyanyikan Indonesia Tanah Airku,” kata Fuad mengutip pandangan pahlawan nasional Mohammad Natsir.

“Pancasila adalah dasar yang paling tepat bagi eksistensi negara kesatuan Republik Indonesia. Pancasila merupakan karya bersama milik bangsa,” sambungnya.

Momentum Wujudkan Nilai-nilai Pancasila

Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945  dan Hari Konstitusi 18 Agustus 1945, kata Fuad, adalah momentum yang mengingatkan betapa pentingnya mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan berbangsa, yaitu nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila bukan sekadar jargon dan retorika politik. Untuk itu diperlukan sikap kenegarawanan yang Pancasilais. Sesama anak bangsa harus saling menghargai dan saling mempercayai. Pancasila itu mempersatukan dalam perbedaan, bukan mempertajam perbedaan atau memperhadapkan sesama anak bangsa satu sama lain atas nama Pancasila.

“Pancasila, seperti dikatakan Bung Karno, merupakan suatu dasar yang dinamis dan terbukti benar-benar dapat mempersatukan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Pancasila Ppersatukan Suku dan Agama di Indonesia

Sebelumnya, melansir Antara (1/6), Ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Papua Benhur Tomi Mano mengakui, Pancasila telah berhasil mempersatukan seluruh suku dan agama di Indonesia.

“Bahkan dengan lahirnya Pancasila hingga kini telah kita rasakan terciptanya toleransi dan kerukunan hidup antarumat beragama,” kata Mano di Jayapura, 1 Juni 2021. Dia mengatakan, sila-sila yang terkandung dalam Pancasila sudah sangat tepat dan saling sehingga sampai kapan pun Pancasila tidak tergantikan.

“Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara sudah sangat tepat karena daPapat mempersatukan berbagai perbedaan yang ada,” kata BTM yang juga menjabat Wali Kota Jayapura seraya mengajak semua pihak menjaga dan terus mengawal agar Pancasila tidak tergantikan dengan lainnya.

Saat ini Indonesia masih dalam situasi Pandemi Covid 19. Masyarakat harus memberlakukan adaptasi kebiasaan baru namun tetap berpedoman kepada Pancasila.

“Dalam pandemic Covid ini kalau yang dicanangkan oleh Presiden ini bahwa Pandemi ini virus artinya penanganannya tidak bisa cepat dan sampai saat ini pun Negara-negara lain juga belum ada obatnya. Jadi solusi yang terbaik adalah melakukan adaptasi kebiasaan baru dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara, tetap melaksanakan kegiatan dengan berlandaskan pancasila hanya saja dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru untuk pencegahan Covid,” ujar Kapolres.

Untuk kaum milenial diharapkan tidak saja menghapal sila-silanya tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita bersama menjaga dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kerukunan di antara seluruh elemen masyarakat, ” ajak BTM.

Ia menambahkan, dengan keberagaman yang ada di Indonesia, Warga Negara masih tetap bersatu karena Pancasila.

“Beberapa saya ketemu dengan teman-teman dari Negara Asing bahwa mereka sangat salut dengan Indonesia artinya dengan berbagai macam suku, agama Ras, kita masih tetap bersatu menjadi suatu Negara yang utuh. Jadi kita harus bangga dan bagaimana cara mensyukuri dan mewujudkan kebanggaan itu yaitu dengan jaga erat persatuan dan kesatuan serta bangga dengan produk-produk Indonesia,” pungkasnya [kemenag/antara/rri]

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed