Diskriminasi Terhadap Perempuan Tionghoa Dorong Ketertarikan Irene Selami Isu Kemanusiaan

Kabar Puan139 Views

Kabar Damai I Senin, 7 Februari 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Diskriminasi terhadap perempuan masih marak terjadi, hal ini karena masih melekatnya pola dan pemahaman patriarki yang membuat posisi perempuan ditempatkan pada posisi kedua dalam tatanan sosial masih langgeng hingga kini. Terlebih, jika diskriminasi terhadap perempuan tersebut turut dibumbui oleh isu sara yang akan membuatnya semakin tidak kondusif kemudian.

Atas dasar hal tersebut menjadi salah satu alasan Irene Bougenville Martin, mahasiswi di Institut Teknologi Bandung tergerak untuk melakukan aksi dan terjun pada isu kemanusiaan.

Irene kini adalah seorang content creator dan advokat dibidang feminisme dan kesehatan mental. Ia juga pernah menjabat sebagai Koordinator dibidang Kemanusiaan Federasi Mahasiswa Farmasi Internasional 2020/2021, sehingga ketertarikannya dibidang kemanusiaan dan ketidaksetaraan sangatlah besar.

Menurutnya, isu stigma dan diskriminasi terhadap perempuan etnis Tionghoa di kampung halamannya juga sangatlah besar, terlebih lagi ia juga pernah mengalami kekerasan seksual secara daring, sehingga isu seperti ini sangat dekat dengan hatinya yang menjadi bahan bakar keinginan untuk membantu dan mengedukasi masyarakat serta mengadvokasi mengenai isu ini.

Ia menyadari bahwa isu kemanusiaan masih banyak belum disadari dan diminati, oleh karenanya ia senantiasa berharap agar isu tersebut menjadi isu yang dekat dengan masyarakat luas.

Baca Juga: Tionghoa di Bumi Pertiwi

“Saya ingin teman-teman saya yang masih kurang sadar dengan adanya dan dekatnya isu ini dengan kehidupan kita sehari-hari ikut mengerti akan tanggung jawab anak muda sebagai bystander dan berani untuk berkata tidak terhadap kekerasan seksual, serta bagaimana kita sebagai pendamping maupun korban sebaiknya menyikapi hal seperti ini apabila terjadi,” ungkapnya.

Secara pengalaman, Irene juga pernah mengikuti beberapa konferensi UN Women, UNAIDS, dan WHO saat menjabat sebagai Koordinator bidang Kemanusiaan. Dari sana, ia belajar dan mendapatkan banyak pengetahuan dan memperluas jaringan baru dibidang pemberdayaan perempuan dan kesehatan reproduksi.

Sebagai generasi muda, ia juga sangat terbuka dan senang belajar. “Saya sangat ingin berdiskusi dan berbagi insight, membawa apa yang saya sudah pelajari dan belajar hal baru dengan teman-teman dengan visi misi yang sama dalam skala nasional, serta memperluas koneksi, agar dapat bertindak bersama dalam skala lokal,” tuturnya.

Selain pada isu kesehatan mental, ia juga menyatakan ketertarikannya pada isu transpuan. Menurutnya pula, menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap transpuan menjadi penting dan harus dilakukan.

“Isu transpuan juga merupakan isu yang masih sangat tabu dibicarakan dimasyarakat, sehingga saya sangat ingin melihat suatu isu dari sudut pandang mereka, untuk membantu menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap kaum transpuan, sehingga mereka dapat diterima di masyarakat,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *