Diskriminasi Rasial Terhadap Masyarakat Papua: Nyata dan Penting Untuk Dicari Jalan Keluarnya

Kabar Utama1858 Views

Oleh: Raden Rajendra Raditya Darmawan

Dengan bentang wilayah yang luasnya mencapai 5.193.250 km² Indonesia menjadi rumah bagi 278 juta jiwa penduduk, mewakili 3,51% dari populasi dunia. Setidaknya tercatat ada 300 kelompok etnis terdiri dari 1.331 kategori suku yang tersebar di Indonesia pada sensus BPS di tahun 2010, menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan ragam sosio-kultural.

Unsur kependudukan yang sifatnya heterogen ini tentunya menghadirkan begitu banyak tradisi maupun adat istiadat yang sama-sama menjadi bagian dari kebudayaan nasional sehingga keberagaman corak suku bangsa ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Indonesia, utamanya dalam hal identitas multikulturalis kita.

Namun ibarat pisau bermata dua, keberagaman ini juga menjadi tantangan bagi Nusantara untuk mempertahankan kehidupan damai dalam lingkup berbangsa maupun bernegara. Akan sulit untuk menyatukan tiap individu dari berbagai macam latar belakang sosial kebudayaan karena mengakarnya cara pandang yang etnosentris dan primordialis sehingga menimbulkan fanatisme terhadap kelompok sosial asalnya dan intoleransi terhadap masyarakat di luar etnisnya. Permasalahan ini dapat menyebabkan interaksi kehidupan rakyat Indonesia menjadi rawan konflik dan dibayang-bayangi akan disintegrasi sosial.

Benar saja, ini terjadi pada masyarakat Papua. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari mereka mengaku pernah menerima berbagai komentar rasis dari orang-orang non-Papua. Mereka dipandang sebagai manusia yang tidak begitu paham akan tata krama, dicap sebagai bagian dari kelompok yang rentan melakukan aksi kejahatan, dianggap ‘separatis’ dan ‘radikal’.

Masyarakat Papua terus distigmatisasi yang mengisolir mereka dari golongan-golongan etnis lainnya hanya karena fisik mereka cenderung berbeda dari kebanyakan rakyat Indonesia yang mana karakteristik tubuh mereka tidak lekang dari stereotipe buruk yang mengikutinya. Tidak hanya itu, penindasan yang dialami oleh masyarakat Papua juga mereka dapat dari perlakuan buruk dan semena-mena pihak aparat yang turut menindas mereka.

Pada 16 Agustus 2019, kita dikejutkan dengan kabar pengepungan di Surabaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian di asrama mahasiswa Papua. Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk Papua Barat menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi tepatnya pada sore hari pukul 16:00. Para mahasiswa mengaku bahwa tidak hanya dikepung oleh aparat, mereka juga diserang oleh ormas setempat.

Pengepungan terjadi karena ditemukannya Bendera Merah Putih terjatuh ke dalam selokan dengan keadaan tiangnya bengkok. Alih-alih menginvestigasi kasus tersebut terlebih dahulu, para mahasiswa langsung dipersekusi di tempat dengan ditembakkan gas air mata dan lemparan batu serta mendapat teriakan cacian berbau rasial, salah satunya yang teridentifikasi ialah Komandan Koramil Tambaksari, Mayor NH Irianto namun keterlibatan beliau ditolak oleh markas Koramil Tambaksari dan pihak koramil juga menolak untuk memberi kontak atasan mereka kepada wartawan.

Insiden yang menimpa 43 mahasiswa tersebut menyebabkan lima di antaranya terluka, mereka akhirnya diperiksa oleh Polrestabes pada tengah malam dan tiada seorangpun yang tahu menahu mengenai pengrusakan terhadap Bendera Merah Putih sehingga aksi ini menyulut amarah dan demonstrasi besar-besaran di Papua.

Baca Juga: Diskriminasi Terhadap Perempuan Tionghoa Dorong Ketertarikan Irene Selami Isu Kemanusiaan

Adapun opresi yang dialami oleh masyarakat Papua juga didapat dari persepsi keliru rakyat Indonesia yang berasal dari etnis mayoritas kerap melontarkan berbagai komentar tidak mengenakkan maupun pujian yang menyiratkan hinaan. Seorang mahasiswi kelahiran Papua, Theresia Wellung selama tinggal di Jawa pernah menerima ucapan seperti

“Kamu lumayan cantik untuk ukuran orang kulit hitam.”,

”Lho, ternyata di sana (Papua) udah ada TV sama mobil, bukannya kalian masih tinggal di gubuk, ya?”,

“Kamu kalo di Papua pake baju ga?”, “Orang Papua mukanya sama semua, ya.”, dan segala macam bentuk perkataan bernada derogatif yang bahkan juga ia dapatkan dari anak kecil seperti “Ih, ada orang hitam!” dengan menunjukkan ekspresi jijik.

Perlakuan aparat dan masyarakat mayoritas tersebut sangatlah disayangkan dan bertentangan dengan apa yang menjadi landasan persatuan dan kesatuan kita, yaitu semboyan bhineka tunggal ika yang menjadikan pluralitas Indonesia sebagai kekuatan solidaritas negara.

Multikulturalisme sejatinya adalah kearifan untuk melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga tidak mungkin untuk bahwa keanekaragaman yang ada dalam dinamika kehidupan bernegara adalah sesuatu yang bisa dimusnahkan, diingkari, ataupun ditolak.

Sudah seharusnya opresi sistemik yang dialami oleh masyarakat Papua kita musnahkan secara bersama-sama. Menilik dari salah satu contoh kasus rasisme yang menimpa para mahasiswa Papua di Surabaya–sebagai regulator negeri yang semestinya menjadi pemegang peran utama dalam mendorong nilai persatuan, penting untuk pemerintah melakukan pembenahan moral terhadap struktural lembaga pertahanan dan keamanan negara dengan menekankan pemahaman bahwa pengabdian mereka adalah untuk tiap warga negara tanpa pandang bulu.

Baik polisi maupun tentara harus mengemban tugasnya secara menjunjung keperwiraan dalam hal mengayomi rakyat dengan menjaga perdamaian dan mempertahankan keamanan.

Stigmatisasi rasial terhadap masyarakat Papua di kalangan umum juga harus dihilangkan. Meskipun belum sepenuhnya rakyat nasional serempak untuk menghentikan diskriminasi rasial yang sering mereka lemparkan kepada masyarakat Papua, setidaknya dapat kita nilai bahwa edukasi akan pentingnya bersikap toleran dan menghargai tiap individu terlepas dari apapun etnisitas mereka sudah mampu meraih audiens dalam jumlah besar hanya dengan waktu singkat melalui media sosial.

Seperti yang kita ketahui, meluapnya isu rasisme terhadap Papua ini disuluti dengan eksistensi dari tagar #BlackLivesMatter di berbagai laman tren media sosial atas respons dari kematian George Floyd, seorang laki-laki kulit hitam yang dibunuh polisi Amerika Serikat kala ia ditangkap dengan tuduhan membayar belanjaannya dengan uang palsu.

Aksi kejam tersebut mendapat kutukan dari berbagai macam kalangan dan menimbulkan demonstrasi besar-besaran sehingga tidak lama kemudian, gerakan tersebut memotivasi laman media sosial Indonesia dengan mencuatnya gerakan tagar #PapuanLivesMatter. Gerakan ini membuka mata publik dan menciptakan forum diskusi akan isu rasisme yang diderita oleh masyarakat Papua selama bertahun-tahun lamanya dan menjadi media bagi masyarakat Papua sebagai kelompok yang dimarjinalkan dalam kasus ini untuk menyalurkan aspirasi dan hak-hak kemanusiaan mereka.

Kita juga mengetahui dari pengalaman Theresia tersebut bahwa anak kecil sekalipun sudah mampu untuk menebar ujaran kebencian yang bahkan belum mereka sadari. Sebagai langkah untuk membendungnya, penting bagi stakeholder yang bergerak di bidang pendidikan untuk mencanangkan program edukasi dasar akan toleransi tanpa mengenal etnisitas, minimal dengan menekankan pendidikan karakter di sekolah dengan harapan dapat memberi pemahaman konseptual kepada anak-anak mengenai betapa krusialnya isu rasisme ini dan dampak buruk yang dapat dibawanya terhadap hak-hak kemanusiaan golongan minoritas.

Oleh: Raden Rajendra Raditya Darmawan, Siswa SMAN 1 Pontianak

Sumber:

Worldometer. 2022. Populasi Dunia: Populasi Indonesia.

BPS. 2015. Mengulik Data Suku di Indonesia.

Myers, David G. 2012. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Mahfud, C. (2005). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

CNN Indonesia. 2019. Kronologi Pengepungan Asrama Papua Surabaya Versi Mahasiswa.

BBC News Indonesia. 2019. Cek Fakta Kasus Bendera Merah Putih dan Makian Rasialisme di Surabaya.

BBC News Indonesia. 2020. ‘Hinaan Rasis’ Terhadap Mahasiswi Papua.

Kompas TV. 2020. #PapuanLivesMatter Sempat Mencuat, Sejumlah Tokoh Papua Bersuara.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *