by

Diskriminasi dan Intoleransi Perempuan Bercadar

Kabar Damai I Sabtu, 12 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Diskriminasi dan intoleransi terhadap perempuan bercadar merupakan permasalahan yang terus mengakar sejak dalam pikiran. Tanpa sadar stigma negatif tersemat secara otomatis Ketika seorang perempuan menggunakan penutup aurat tersebut. Perempuan bercadar seringkali diinterpretasikan sebagai individu yang ekstremis, Islam garis keras, atau bakan istri teroris. Diksriminasi tersebut membuat akses perempuan dalam ruang public semakin terbatas.

Dalam feminisme, terdapat dua posisi yang mungkin diambil. Pertama, feminis yang tidak mempermasalahkan jilbab, cadar, niqab, atau hijab percaya bahwa perempuan memiliki otonomi untuk memutuskan apa yang ingin mereka kenakan.

Sedangkan, kelompok feminis yang menolak cenderung berasumsi bahwa ketika perempuan memutuskan untuk mengenakannya, mereka sedang berada di bawah tekanan lingkungan sosial, sehingga keputusan yang diambil bukan keputusan pribadi melainkan karena tuntutan atau paksaan.

Jilbab, Cadar, Hijab dan Niqab

Di Indonesia, kita mengenal penutup kepala yang tidak terlalu panjang, sekitar sebahu atau sepunggung, yang secara umum dikenal dengan sebutan jilbab—meski sebenarnya istilah jilbab dalam bahasa Arab merujuk pada jenis pakaian abaya (gamis). Di Iran, jenis yang digunakan bernama chador, yakni jubah hitam yang menutup seluruh tubuh pemakainya kecuali bagian wajah.

Sedangkan, di Afghanistan, jenis yang digunakan bernama burka, yakni serupa chador, umumnya berwarna biru, namun menutup juga bagian wajah dan ada jaring-jaring di area mata. Mirip dengan chador dan burka adalah niqab yakni jubah hitam dengan bagian wajah tertutup, kecuali di bagian mata.

Baca Juga: Dorin Mehue: Perempuan Papua Simbol Perdamaian Tanpa Pengaruh Kepentingan Pribadi

Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh Majalah Tempo terhadap dua orang perempuan bercadar yang menyerang Mako Brimob pada tanggal 12 Mei 2018, serangan ini merupakan bentuk aksi balas dendam terhadap kematian narapidana teroris. Aksi tersebut menujukan rendahnya pemahaman agama dua orang tersebut. Siska Nur dan juga Dita Siska Namanya, mereka mepelajari agama dari grup Whtasapp dan telegram hingga akhirnya menggunakan cadar.

Perempuan Bercadar Subjek Intoleransi

Dilansir melalui Majalah Tempo pada 3 Juni 2018 (Tempo, 2018). Siska dan Dita mengganggap bahwa Demokrasi merupakan sebuah lingkaran setan sehingga dapat disimpulkan adanya kondisi intoleransi ideologis dalam pemikiran kedua perempuan bercadar tersebut. Banyak narasi ketidaksepakatan terhadap Pancasila yang mereka ungkapkan, menunukan mereka terpapar radikalisme.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2017), perempuan bercadar yang sudah terpapr radikalisme, dapat memberikan pengaruh radikalisme yang sama terhadap perempuan bercadar lainnya.

Dari penelitian tersebut stigma yang dihadapi oleh perempuan bercadar menjadikan mereka berusaha untuk mengakrabkan diri dengan diri dengan orang yang berpemahaman sama dengan dirinya, dan kemudian bersifat inklusif. Padahal pada awalnya penggunaan cadar dimotivasi dengan pemahaman untuk menghindari diri dari bahan objek seksual dan bentuk ketaatan terhadap agama.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Tanra (2015) menejalaskan tentang bagaimana persepsi masyarakat mengenai perempuan bercadar yang cenderung negative. Perempuan bercadar seringkali tidak diterima, dikucilkan, digunjingkan, bahkan seringkali keluarganya sendiri juga mengabaikan kehadiran mereka.

Perempuan bercadar pada akhirnya seringkali bersikap ekslusif, tertutup dan kurang berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Dengan sikap tersebut perempuan bercadar menimbulkan asumsi-asumsi yang lahir di tegah masyarakat tentang kemungkinan perempuan bercadar menutupi perbuatan yang berkaitan dengan aksi terorisme. Padahal perempuan memutuskan menggunakan cadar juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Perempuan bercadar hadir diantara dua kutub yang berbeda, disatu sisi perempuan bercadar merupakan objek dari tindak diskriminasi dan stigmatisasi negative, namaun di kutub lainnya perempuan bercadar juga merupakan subjek dari tindak intoleransi.

Dengan menjadi subjek intoleransi oknum perempuan bercadar  telah melahirkan dan membesarkan simpul asumsi persepsi yang semakin masif di masyarakat. Asumsi ini semakin menguat dengan adanya pemberitaan melalui media sosial. Tentu saja hal terbaik yang harus selalu kita terapkan adalah bagaimana seharusnya sikap intolernasi dihilangkan semenjak berada dalam pikiran.

Intoleransi harus lenyap dari bumi pertiwi yang indah dengan keberagamannya. Perempuan bercadar sebagai objek diskriminasi telah ditempatkan pada tempat inferior. Mereka mejadi kelompok marjinal di dalam negeri nan plural. Diskriminasi sudah seharusnya dibumihanguskan. Indonesia sendiri harus berdiri atas dasar toleransi dengan mencintai keberagaman.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed