by

Disket Bukan Robot Pewujud Mimpi: Pentingnya Millenial Belajar Parenting

Kabar damai I Sabtu, 10 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Hampir semua orang tua menginginkan anaknya mempunyai prestasi pendidikan yang cemerlang. Sayangnya kadang mereka tak menyadari bahwa mereka telah menjadikan  anak-anaknya, tak ubahnya seperti robot yang diadu dalam ajang kompetisi.

Tujuan pendidikan adalah kecerdasan dan pembentukan karakter. Tetapi, kenyataannya sekolah kerap hanyalah medium mewujudkan ambisi para orang tua dan guru.  Pendidikan yang didasari ambisi dan tekanan orang tua telah merenggut satu per satu kebahagiaan setiap anak, bahkan hak untuk memilih menjadi siapakah diri mereka di masa depan.

Persoalan ini sebetulnya merupakan rentetan panjang dari masalah kompleks yang melibatkan sejumlah pihak, pihak pemerintah yang menetapkan aturan dan sistem pendidikan, sekolah yang mengabaikan suara siswa, dan orang tua yang egois yang mungkin hanya meniru cara orang tua mereka dahulu. Tinggallah anak yang kemudian kebingungan, antara meyakini rida orang tua adalah kunci keberhasilan namun di saat yang sama merasa tertekan dan ingin menuntut kebebasan.

Baca Juga: Disket Millenial Bincang Perdamaian: Membuka Ruang Dialog Pemuda Lintas Iman

Melalui Acara Diskusi Etika (Disket) yang diselenggarakan Indonesian Conference on Religion And Peace (ICRP), Agidia Oktavia dari PUSAD Paramadina berbagi tentang pengalamannya sebagai milenial mengenai relasi kuasa guru dan orang tua terhadap anak dalam pengembangan diri anak.

Pandangan Dominan Kewajiban Anak Berprestasi

“Ada pandangan dominan kalau seorang anak harus memiliki prestasi yang baik, dimana pendidikan formal jauh lebih diutamakan dibandingkan dengan ekstrakurikuler. Tantangan yang anak muda alami bagaimana anak terpaksa mengikuti sistem yang ada. Padahal banyak hal menarik lainnya yang bisa mereka lakukan,” ujar Agidia, melalui zoom meeting Jumat (09/7/2021).

Bagi Agidia anak adalah titipan, seorang orangtua hanya perlu mengarahkan sedangkan untuk masa depan anak adalah pilihannya sendiri. Namun sebagi perempuan ada konteks untuk mengikuti kepala rumah tangga. Jadi hal yang menjadi kekhawatiran adalah apakah pasangan yang dimiliki bisa demokratis atau tidak.

Karenanya diperluka relasi yang setara antara suami dan istri, dengan mengedepankan cara berkomunikasi dengan pasangan. Sehingga tidak ada dominasi peran antara orangtua, untuk membangun kesetaraan sebagai orang tua.

Millenial Belajar Parenting

Redy Saputro, Koordinator Peace Leader Indonesia yang turut menjadi pemantik kemudia menambahkan menganai gagasanya perihal bagaimana seharusnya millenial mempelajari parenting.

“Kalau menurut saya parenting bukan hanya untuk orang yang mau menikah saja, namun untuk orang-orang yang tidak memiliki keinginan untuk menikah juga harus mempelajari parenting. Bagaimana nantinya kita belajar untuk berkomunikasi dengan anak. Dalam parenting juga kita belajar untuk berbicara dengan baik,” tambah Redy.

Menurut Redy, belajar parenting sangat penting, untuk orang tua membebaskan anaknya memilih agamanya. Karena di Indonesia agama adalah warisan, bukan agama pilihan anak, padahal sesuai dengan Undang – Undang anak diatas 18 tahun bebas untuk memilih agamanya sendiri. Tapi faktanya tidak, karenanya penting ketika akan memulai hubungan dengan orang lain untuk saling mengenal satu sama lain, berkomitmen dan berelasi.

Artinya, masa persiapan sebelum menikah harus diisi dengan kegiatan parenting dengan banyak membaca buku. Sehingga ketika menikah tidak akan ada culture shock.

“Sebagai seorang lelaki, konsep lelaki baru, jadilah lelaki yang berpikir bahwa mengurus anakadalah tanggung jawab bersama. Artinya anak adalah anak kita, sehingga parenting penting bukan hanya untuk perempuan tetapi juga untuk lelaki. Bahwa sebagai orang ttua harus terbuka dan merdeka terhadap anaknya,” terang Redy lebih jauh lagi.

Anak seharusnya diajak untuk berbincang setiap harinya minimal 7-8 menit, berilah kesempatan anak untuk berbicara tanpa orang tua mengomentari agar anak percaya diri. Bukan lagi mengomentari yang dikerjakan oleh anak tapi menasehati apa yang dilakukan oleh anak.

Belajar Parenting dari Anak

Ahmad Nurcholish, Deputy Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) juga memberikan tanggapannya perihal parenting untuk kaum milenial. Menurutnya rumah tangga adalah sesuatu yang sangat kompleks dan dalam perjalanannya tentunya kedua belah pihak diantara pasangan yang menikah akan berubah.

“Jangan pernah takut menikah, nikmatilah lika-liku pernikahan sebagai tantangan. Jika saya ditanya siapa yang mengajari untuk menjadi orang tua yang baik, tentunya jawabannya adalah anak saya sendiri. Anak adalah guru paling autentik dalam mengajarkan kita sebagai orang tua yang baik. Berumah tangga itu hidup berproses, jadi sangat mungkin salah satu dari kita melakukan kesalahan dan hal baiknya bagaimana kita belajar dari kesalahan itu,”  imbuh Ahmad memberikan pandangannya sebagai orang yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed