by

Disket Bincang Perbedaan: Menghidupkan Relasi dengan Perasaan Ingin Mengenal

Kabar Damai I Selasa, 10 Agusus 2021

Jakarta I kabardamai.id I  Indonesia adalah rumah bersama yang penuh dengan keanekaragaman. Rumah bersama yang memayungi semua anak-anak bangsa tanpa terkecuali dari berbagai latar belakang suku, etnis,agama, budaya dan aspek primordial lainnya. Oleh karenanya, semua elemen bangsa harus memiliki komitmen bersama untuk menjaga dan melestarikan tamansari keberagaman Indonesia.

Melalui Acara Diskusi Etika (Disket) yang diselenggarakan Indonesian Conference on Religion And Peace (ICRP), Sekar Aprilia Maharani, seorang content writer mengemukakan bahwa Perbedaan itu bukan permasalahan karena perbedaan adalah satu ruang untuk saling mengisi. Sehingga jika makin banyak perbedaan maka kita akan semakin kaya.

“Ketika orang berbeda ngobrol bareng maka kita bisa banyak mendapatkan masukan yang berbeda. Ketika kita mengenal banyak perbedaan maka referensi kebangsaan kita akan semakin banyak dan kaya,” ujar Sekar Aprilia Maharani, membuka acara Disket via zoom meeting, Kamis (05/08/2021).

Bangsa indo adalah bangsa yang majemuk, dan itu saling bertalian membentuk satu persatuan. Pemersatu kita adalah Pancasila dan bineka tunggal Ika. Bung Karno bilang perjuangan mereka lebih Mudah karena  melawan penjajah sedangkan kita lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Dimana konflik lebih banyak karena perbedaan.

Dari apa yang selalu dikatakan Gusdur bahwa semakin besar ilmu kita maka semakin besar toleransi kita, seharusnya anak bangsa menerapkan ajaran Soekarno dan Gus Dur terseut.

Baca Juga: Disket Bukan Robot Pewujud Mimpi: Pentingnya Millenial Belajar Parenting

Sama pendapat dengan Sekar, Abdul Azis Said, mahasiswa pegiat keberagaan juga berpendapat bahwa, “Kita perlu memandang perbedaan sebagai sumber daya yang bisa kita olah dan petik manfaatnya. Satu lagi bagaimanapun, sejak kita lahir kita udah nempel satu identitas. Yang membuat kita beda karena adanya identitas yang berbeda. Jadi memikirkan perbedaan kita nggak penting,” terang pria yang akrab disapa Azis ini.

Setiap orang lahir dengan identitas yang berbeda jika itu diperdebatkan maka akan  terlalu membuang waktu. Sehingga,  daripada memperdebatkan tentang perbedaan lebih baik manfaatkan hidup yang lebih damai dan menghargai satu sama lain.

“Karena setiap individu tentunya dilahirkan dengan identitas yang macam macam. Kalau kita masih membicarakan perbedaan atas nama identitas maka akan sangat banyak konflik. Dari perbedaan kita gak bisa mengotak-ngotakan diri sendiri,” lanjut Azis.

Ditanya perihal bagaimana cara  memberi pemahaman bagi mereka yang ego terhadap perbedaan. Sekar menjelaskan tentang bagaimana untuk kita merawat keberagaman dengan fokus terhadap hal yang menyatukan kita, karena masih banyak kejadian yang tidak menghargai perbedaan.

“Misalnya di kampus, seperti kita sering mengalami konflik hanya karena perbedaan horizontal seperti beda organisasi dan beda pemikiran. Padahal seharusnya kita fokus pada konflik vertikal seperti kebijakan kampus tapi kita lebih banyak memfokuskan pada hal yang gak seharusnya kita prioritaskan,” papar Sekar.

Sekar melanjutkan bahwa UKM kemahasiswaan sering terjadi  pengkotak kotakan. Berarti anak muda pun masih belum bisa menghargai perbedaan. Cara menghargai perbedaan yang pertama adalah menyadari kemudia menerima baru kita lebih peduli dengan perbedaan yang ada. Jika kita memiliki perbedaan maka kita bisa mencari peluang untuk menyatukannya.

Azis menambahkan bahwa cara kita untuk menyadarkan seseorang mengenai perbdeaan adalah kita harus sadar kita lahir berbeda. Kalian itu berbeda setiap orang berbeda, jika sadar kita memiliki identitas berbeda maka kita akan menghargainya. Jadi harus dimulai dari hal kecil.

“Aku sebagai mahasiswa yang menyadari bahwa setiap orang itu berbeda, background aku sendiri adalah pers mahasiswa. Persma adalah masa paling ideal dari seorang jurnalis sebelum terjun ke media yang sebenarnya. Perspektif ku dulu adalah bagaimana seharusnya media menghargai perbedaan. Media itu harus berpihak pada kelompok minoritas. Saat itu bukan hanya perbedaan identitas tapi juga perbedaan gender dan kelas sosial,” terang Azis lebih jauh lagi.

Turut hadir mengikuti diskusi, Clara Okoka mahasiswa asal Papua menceritakan pengalamannya  sebagai alumni peace train, pertama kalinya tertarik dengan peace dan toleransi. Clara lahir dan besar di Papua dengan agama Kristen. Pertama kali tertarik belajar toleransi dan perbedaan ketika mengikuti peace train.

Bhineka tunggal Ika bagi orang luar sangat bagus, tapi terkadang kita merasa kenapa kita dengan banyaknya keberagaman masih tidak menghargai keberagaman itu? Padahal orang luar negeri tertarik dengan slogan kita itu. Perbedaan bukan membuat kita saling mrmbenci. Tapi dengan adanya perbedaan adalah ajang dimana kita belajar.

Menurut Azis, ketika dirinya ada dalam suatu perbedaan disitu membuat dia ingin tahu. Perbedaan adalah kesempatan belajar. Ketika kita ada dalam kelompok individu berbeda disitu saya ingin belajar tentang mereka. tahu perbedaan aja tidak cukup tapi mengenal perbedaan itu paling penting.

Sekar kembali berpendapat, “Ketika saya menerima perbedaan disitu saya bisa membuka diri untuk berbagi. Perbedaan adalah kesempatan belajar. Ketika kita ada dalam kelompok individu berbeda disitu saya ingin belajar tentang mereka. tahu perbedaan aja gak cukup tapi mengenal perbedaan itu paling penting. Ketika saya menerima perbedaan disitu saya bisa membuka diri untuk berbagi.”

Sekar juga menceritakan pengalaman perbedaan  yang dialaminya adalah, ketika dia datang ke desa tertinggal di Kalimantan Barat. Ketika mereka non muslim dan sukunya Dayak, tentu beda dengan Sekar yang muslim dan bersuku melayu.

“Ketika saya datang kesana dan berbicara langsung dengan mereka, meskipun mereka hanya bisa bahasa daerah, namun ketika mereka menyambut kami, mereka tetap menghargai kamim mereka bisa menghargai makanan halal dan haram meskipun ereka berda di tempat yang terisolir mereka masih bisa menghargai perbedaan. Disitulah makna makna kebhinekaan. Dan menjadi pengalaman yang berkesan,” pungkasnya.

Azis terakhir berpendapat, jika perbedaan itu membuatnya penasaran. Kalau kita bertemu dengan teman dari agama lain pasti ada perasaan ingin tahu. Karena pada dasarnya setiap orang punya rasa penasaran.

“Jadi kita perlu tahu cara pandangnya, sehingga rasa penasaran itu yang menarik. Pokonya satu relasi jadi terasa hidup ketika satu sama lain ada perasaan ingin mengenal,” pungka sAzis.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed