by

Dirjen Bimas Katolik Ingin Rangkul Semua Golongan Masyarakat Agama Katolik

Kabar Damai | Jumat, 23 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Dirjen Bimas Katolik Bayu Samudro mengakatakan akan terus merangkul semua golongan terutama hierarki gereja dan gembala agar gerak jalan berkarya dan bekerja senantiasa selalu benar dan terberkahi.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara di Radio Katolinaka yang mengusung tema Wajah Gereja Nusantara, Selasa, 20 April 2021.

“Ini memang menjadi misi utama saya dalam menjadi Dirjen Bimas Katolik. Maka setiap melakukan dinas ke daerah yang dituju adalah Uskup. Saya beserta rombongan akan bertemu dengan  Uskup terlebih dahulu untuk melakukan audiensi dan baru melaksanakan kegiatan. Hal ini perlu karena hierarki gereja bukan sekedar partner tapi adalah mitra utama karena gembala umat Katolik Indonesia adalah uskup,” ujarnya.

Dikatakan Bayu, sebagai umat Katolik ia taat pada Uskup. Maka apa yang diarahkan oleh keuskupan, pastor paroki itu yang menjadi pedoman gerak langkah semua umat Katolik yang ada.

Oleh karena itu, lanjut dia, jika Bimas Katolik ingin melayani atau berkarya untuk masyarakat Katolik maka yang pertama diajak berbicara dan berdialog adalah hierarki gereja.

Dalam bincang radio tersebut, Bayu mengaku menjadi Dirjen Bimas Katolik belum lama disandangnya. Ia baru saja dilantik pada 10 Agustus 2020 dalam lelang terbuka jabatan. Ia berhasil meraij jabatan tersebut menggantikan Dirjen Bimas sebelumnya yaitu Eusabius Binsai yang telah purna tugas.

Kepada Katolikana, Bayu tidak pernah menyangka akan menjadi seorang Dirjen. Namun yang pasti menurutnya, sejak muda ia memiliki cita-cita yang mulia yaitu bermanfaat bagi bangsa dan negara.

“Dulu cita-cita sejak kecil dan remaja berharap dapat ambil bagian dalam membangun bangsa dan Negara. Maka kegiatan-kegiatan yang saya ikuti sejak remaja berdekatan dengan kebangsaan. Menjadi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang dicita-citakan, karena karier saya guru jadi tidak terfokus pada birokrasi dan sebagainya,” paparnya.

Baca Juga : Umat Kristiani (Katolik) dan Umat Muslim:  Saksi-Saksi untuk Sebuah Harapan

 

Ingin Menjangkau Banyak kelompok Katolik

Sebagai lembaga formal dan sangat struktural, Bayu menuturkan bahwa Kementerian Agama dalam bekerja kerap mengalami batasan-batasan. Oleh karena itu, ia ingin mengubah batasan itu dan lebih banyak menjangkau kelompok Katolik yang sebelumnya belum tersapa.

“Kementerian Agama adalah lembaga struktural. Jadi ada dua  urusan besar, yang pertama adalah agama Katolik ,dan yang kedua pendidikan Agama Katolik. Di lembaga yang besar inilah kami berkarya, bertugas secara formal. Maka, urusan agama Katolik ini kita berhubungan dengan hierarki, dengan gereja. Lalu bagian pendidikan agama katolik kita berhubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dibawah kementrian agama,” terangnya.

Misalnya, Bayu memberi contoh,  di agama Katolik memunyai  40 lembaga pendidikan, yang   kalau dalam Islam disebut Madrasah. Lembaga-lembaga itulah yang sering disapa.  Namun, kata dia, di luar itu karena tidak ada regulasi  yang menyambungkan maka tidak banyak tersapa.

“Di situ juga ada ormas-ormas yang tidak tersapa misalnya ormas pemuda Katolik, PMKRI dan Wanita Katolik. Kalaupun ada sapaan sifatnya informal saja. Dalam program saya, merekalah justru menjadi sasaran Kementerian Agama dalam menjalankan misi besarnya yaitu moderasi beragama,” tandasnya.

Karena banyaknya kelompok yang belum tersapa, maka Bimas Katolik berupaya memberikan ruang dan perhatian melalui program-program yang disusun untuk dapat dinikmati oleh orang-orang Katolik.

“Termasuk organ-organ dibawah gereja, kelompok bina iman anak dan remaja dan komunitas yang lain juga kurang tersapa. Bisa jadi karena dibatasi oleh regulasi-regulasi yang ada sebelumnya. Tapi sekarang kita coba menyapa mereka dengan program-program yang kita jalankan.  Misalnya program keluarga bahagia. Program ini akan menyapa keluarga yang tentunya aktif di gereja serta kita akan membawa umat Katolik untuk aktif di kemasyarakatan, aktif di lembaga swadaya masyarakat,” bebernya.

Sebagai tanggung jawab yang diembannya Bayu juga menjelaskan bahwa perhatian akan lebih besar diberikan pada lembaga pendidikan Katolik. Terutama yang mengalami kesulitan dalam penyelenggaraan pendidikannya.

“Dalam bidang pendidikan, banyak lembaga pendidikan Katolik yang terengah-engah dalam menjalankan proses pendidikannya. Di sinilah kami coba jalur untuk memberikan bantuan dalam bentuk anggaran tapi kami juga mengajak mereka untuk berdiskusi, berbagi inspirasi agar mereka tetap semangat menyelenggarakan proses pendidikannya,” terangnya.

 

Melibatkan Banyak Pihak

Berasal dari karier non lembaga pemerintahan yang ada dalam badan Kementerian Agama membuat Bayu mengalami tantangan saat awal menjabat sebagai Dirjen Bimas Katolik ini. Oleh karena itu, ia selalu menyesuaikan diri dan menjalin hubungan baik serta melibatkan banyak pihak dalam bekerja.

“Tantangan tentu saja ada, besar dan bisa saja membuat orang tidak sanggup untuk menghadapinya. Saya punya prinsip bahwa sejauh Tuhan berkenan untuk menggunakan saya sebagai alatnya maka harus semaksimal mungkin menjalankannya. Penyesuaian Dirjen baru bekerja dan tim dalam bekerja yang memerlukan waktu cukup lama, lalu bagaimana mensinergikan Bimas Katolik ini dengan hierarki gereja, keuskupan dan KWI,” ungkapnya.

Terkait  dengan banyaknya gereja yang IMB nya mandeg, Bayu mengungkapkan ada banyak kasus yang tersebar di seluruh Indonesia. Oleh karenanya, pihaknya terus berupaya bersama dengan dukungan banyak pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Lebih jauh, ia mengungkapkan sedang fokus pada percepatan izin pembangunan gereja. Karena sebelumnya belum tersentuh secara intensif, maka memang prosesnya menjadi lama. [ ]

 

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed