by

Direktur BNPT: Terorisme adalah Fitnah Agama, dan Dibangun Atas Dasar Manipulasi Agama

-Peacetrain-87 views

BrigKabar Damai | Minggu, 25 April 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Terorisme dan radikalisme kini terus menyasar anak muda dan generasi millenial. Terorisme sendiri tidak luput dari sikap intoleran dan radikal. Semua hal itu pada akhirnya saling berkaitan hingga akhirnya bertransformasi menjadi aksi teror.

Hal ini juga yang dahulu dirasakan oleh Mohammad Raihan, mantan narapidana yang pernah menjadi anggota ISIS, dan menetap di Suriah.

“Benar memang, dulu saya adalah pribadi yang eksklusif dan merasa orang lain di luar Islam itu sudah pasti salah. Namun setelah saya hidup dan menetap di sana(Suriah) saya merasa aneh karena bahkan sesama muslim di sana juga disakiti,” cerita Raihan, pada Tausiyah Kebangsaan dalam salah satu rangkaian acara Peace Train Indonesia ke-12, di Kampoeng Percik secara luring dan virtual zoom meeting, Jum’at (23/4/2021).

Alasan Raihan dan keluarga bergabung dengan ISIS karena ingin hidup dalam wilayah kekhilafahan Islam. Selain itu juga karena dijanjikan akan dilunasi hutang, serta diberi rumah jika hijrah ke negara kekuasaan ISIS.

Raihan kemudian menyampaikan pengalamannya, “apa yang dijanjikan itu semua palsu, tidak ada hal baik setelah kami pindah kesana, bahkan orang yang saya sayangi pun, yaitu ayah saya meninggal di sana karena terkena bom di Suriah. Saya berharap saya adalah orang terakhir yang menjadi anggota ISIS.”

Ahmad Nurcholish, pegiat perdamaian pemuda lintas agama memberikan pandangannya dari cerita Raihan. Nurcholish membenarkan bahwa perilaku radikal berakar dari sikap eksklusif dan intoleran.

Baca Juga : Tangkal Radikalisme dan Ekstrimisme, BPIP Gandeng Penyandang Disabilitas

“Radikalisme memang berakar dari sikap eksklusif dan intoleran. Karena itu perlu ada ruang dialog antar orang muda untuk mengenal budaya dan agama orang lain. Jangan sampai sikap eklusif kita membuat kita menjadi cenderung menyalahkan orang lain dan merasa apa yang kita percaya paling benar. Karena pada dasarnya agama itu ramah bukan marah-marah.”

Sejalan dengan pemikiran Ahmad Nurcholish, Jimmy Sormin selaku koordinator gugus tugas pencegahan radikalisme dan terorisme Persektuan Gereja-geraja di Indonesia (PGI), juga membenarkan pernyataan Nurcholish.

“Radikalisme ini bukan hanya ada di Islam sebenarnya, di semua agama radikalisme itu juga ada. Di Kristen, Buddha Katolik juga ada kekerasan yang mengatasnamakan agama, padahal itu hanya bagian dari fanatisme agama. Sudah jelas ini fitnah agama,” papar Jimmy.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, turut hadir untuk mengupas bagaimana akar dari radikalisme.

“Terorisme tidak akan pernah bisa lepas dari radikalisme dan ekstremisme. Radikalisme sendiri merupaka fase menuju terorisme. Radikalisme adalah paham yang menjiwai aksi terorisme ” terang Nurwakhid, kepada peserta PTI 12.

Nurwakhid menjelaskan bahwa apa yang diceritakan oleh Raihan adalah benar, dan jangan sampai Raihan berkecil hati. Karena dirinyapun, pernah terjerumus kedalam paham radikalisme. Bahkan Nurwakhid sempat berpikiran untuk berangkat ke Afghanistan.

“Pemikiran radikal bisa tumbuh pada siapapun, termasuk pada saya yang dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan yang mengerti Islam itu cinta damai, karenanya Raihan tidak perlu berkecil hati,” bebernya.

Melihat kasus Raihan, anak muda harus sadar dan berpikir lebih kritis lagi. Mulai meng-unfollow ustadz atau ulama yang berpemikiran ekstrem, dan belajar untuk lebih terbuka lagi dan mengerti bahwa perbedaan bukan sebuah hal yang salah.

“Radikalisme itu ibaratkan virus HIV/AIDS ketika sudah masuk akan meLemahkan sistem imun. Dan radikalisme melemahkan imunitas ketahanan nasional. Karenanya terorisme adalah politik agama. Bukan jihad atas nama agama, tapi dibangun dengan manipulasi agama.”

Radikalisme atas nama agama adalah sebuah penyakit dalam spiritual karena pelaku adalah seorang manipulator agama. Seolah-olah kekerasan yang mereka lakukan adalah atas nama keimanan dan syariat.

Radikalisme adalah ideologi yang menyimpang. Tujuan dari gerakan mereka adalah mengubah tatanan sosial politik yang sudah mapan. Mereka ingin merebut sistem serta ideologi Pancasila dengan kekhilafahan dengan cara-cara yang inkonstitusional.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed