by

Dibalik Bendera Setengah Tiang, Refleksi Hari Berkabung Daerah Kalbar dan Harapan Agar Lebih Nasionalis

-Opini-11 views

Oleh: Rio Pratama

-Disana, terbaring jasad-jasad yang tidak berdosa. Mereka generasi terbaik Kalbar yang gugur dengan iringan duka cita. Namun, tetes darahnya bukan sebatas sia-sia. Itulah bukti cinta pada daerah dan juga negara,”- (Rp)

Kalimantan Barat merupakan daerah tingkat II di Indonesia. Provinsi yang dibelah oleh luasnya Sungai Kapuas ini terus maju dan berkembang dari waktu ke waktu. Pola kehidupan masyarakatnya juga baik karena semua suku dan etnis serta agama ada disana. Namun, terlepas dari Kalimantan Barat kini tersimpan sejarah kelam yang menjadi duka bagi sebagian besar masyarakatnya.

Perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan bengisnya penjajahan terjadi dibanyak daerah. Satu diantaranya dilalukan oleh para pejuang daerah di Kalimantan Barat. Melalui tetes keringat, air mata bahkan darah mereka lakukan guna mencapai tujuan bersama, kemerdekaan agar terbebas dari penderitaan dan kekejaman.

Sejarah mencatat, 28 Juni 1944 lalu telah terjadi peristiwa besar yang menyayat hati dan perasaan masyarakat Kalbar. Telah gugur ribuan generasi terbaiknya diganyang kekejaman Jepang. Berbagai kalangan cendikiawan dan generasi terdidik dan berpengaruh diculik, diperlakukan tak manusiawi, dibunuh dan dikuburkan secara masal di Mandor, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Trisno dan Politik Kebhinekaan

Pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh tantara Jepang terhadap masyarakat di Kalbar sebenarnya telah terjadi sejak tahun 1942 hingga 1944. Namun, puncaknya terjadi pada 28 Rokugutsu 2604 atau 28 Juni 1944.

Surat Kabar Borneo Shinbun menuliskan banyaknya jumlah korban pada peristiwa Pembantaian Mandor Berdarah, yaitu mencapai 21.037 korban. Para korban tersebut kemudian dikuburkan dalam sepuluh makam secara masal. Tempat pemakaman tersebut kini dikenal sebagai Makam Juang Mandor.

Hari Berkabung Daerah

Menjadi sejarah kelam bagi masyarakat di Kalimantan Barat sekaligus sebagai bukti perjuangan Bangsa Indonesia membuat Peristiwa Mandor Berdarah sudah sepatutnya selalu dikenang, dihormati dan dihargai, didokumentasikan serta dilestarikan. Oleh karenanya, upaya pemerintah dalam rangka memperhatikannya haruslah dilakukan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1964 yang merupakan Pengganti Pemerintah Sementara (PRPS) Tahun 1964 mengatur tentang Pemberian Penghargaan/Tunjangan kepada Perintis Pergerakan kebangsaan/Kemerdekaan sepatutnya menjadi landasaran bagi pemerintah didaerah memberikan apresiasinya melalui peraturan daerah. Mengingat perjuangan para pejuang daerah Kalbar yang terdampak langsung kejamnya fasisme Jepang membuat pemerintah daerah turut membuat peraturan tersebut.

Setiap tanggal 28 Juni, di Kalimantan Barat diperingati sebagai Hari Berkabung Daerah. Hal ini karena tanggal 28 Juni adalah merupakan puncak dari peristiwa Mandor Berdarah. Pemerintah Kalbar juga telah membangun kembali dan meresmikan makam masal tempat berbaring para pejuang Kalbar pada 28 Juni 1977 yang lalu dan menjadikannya sebagai agenda ziarah setiap tahunnya.

Peringatan Hari Berkabung Daerah di Kalimantan Barat selalu menjadi momentum yang haru biru. Apalagi mengingat bahwa satu generasi terbaik telah habis dibantai oleh kekejaman kejam dan dikuburkan secara tidak manusiawi. Instruksi untuk mengibarkan bendera merah putih setengah tiang juga menjadi hal yang selalu kentara baik dalam lingkup masyarakat maupun elemen pemerintahan.

Kalimantan Barat telah kehilangan generasi terbaik. Para cendikiawan, keturunan raja dan orang berpengaruh dan terdidik telah direnggut oleh Jepang. Namun, itu adalah bukti perjuangan dan juga kesetiaannya pada negara.

Melalui peristiwa tersebut, sejatinya menjadi refleksi bersama agar generasi kini menjadi generasi yang lebih nasionalis dan jiwa patriotik. Senantiasa meneladani para pejuang tentang cinta tanah air dan terus berkorban.

Rio Pratama, Aktivis Perdamaian dan Reporter Kabar Damai

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed