by

Diaspora RI di Australia dan Slovenia Teguhkan Komitmen terhadap Pancasila

Kabar Damai I Rabu, 9 Juni 2021

Wina I kabardamai.id I Kemajuan teknologi memudahkan kehidupan manusia, tetapi dapat juga disalahgunakan untuk memengaruhi cara pandang dan pikiran masyarakat. Kemajuan teknologi informasi dan media mendekatkan apa yang jauh. Tapi disrupsi informasi juga berpotensi menjauhkan apa yang sudah dekat, mengganggu kedekatan sosial antar masyarakat.

Demikian disampaikan Dr. Darmansjah Djumala, Duta Besar/Wakil Tetap RI di Wina dalam sambutannya pada pembukaan webinar dalam rangka peringatan hari lahir Pancasila yang diselenggarakan oleh KBRI/PTRI Wina pada 6 Juni 2021 di Wina.

“Untuk itu, diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia harus bijak dan waspada terhadap meningkatnya rivalitas ideologi transnasional yang bisa merenggangkan ikatan sosial dan kebersamaan kita sesama bangsa Indonesia,” ungkap Dubes Djumala, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id pada Senin, 7 Juni 2021.

Baca Juga: Kepala BPIP: Pendidikan Pancasila Dapat Tantangan Besar di Era Disrupsi Informasi

Diskusi virtual yang dihadiri sekitar 53 peserta dari Austria, Slovenia dan kawasan sekitarnya itu, mengangkat tema “Pancasila & Diaspora: Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Masyarakat Indonesia di Austria dan Slovenia.”

Diskusi menghadirkan Prof. Yudian Wahyudi, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menyampaikan Kata Pengarahan Kunci dan dua narasumber utama yaitu Prof. Adji Samekto, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi BPIP serta Dr. Listiyono Santoso, Lektor Kepala Universitas Airlangga.

Dalam kata pengarahan kunci, dengan mengutip pidato Presiden pada perayaan hari lahir Pancasila 1 Juni, Kepala BPIP mengatakan saat ini Pancasila tengah menghadapi tantangan persaingan ideologi global.

“Namun demikian, Pancasila sudah memiliki legitimasi dengan dicakupnya nilai-nilai agama, dan sudah menjadi kesepakatan bersama sebagai ideologi Negara. Negara Indonesia yang berideologi Pancasila ini memang sudah mendapatkan pengakuan dunia internasional. Untuk itu diharapkan agar diaspora Indonesia terus menggali sejarah dan warisan budaya termasuk pemikiran Pancasila di dalam berbagai forum,” tegas Prof. Yudian.

“Hal itu penting karena sejak reformasi, Pancasila cenderung dipinggirkan dalam wacana publik. Diaspora Indonesia harus mampu menimba ilmu pengetahuan dan kembali ke Indonesia berkontribusi bagi negeri tanpa kehilangan jati diri keindonesiaan,” sambungnya.

Menumbuhkan Semangat dan Wawasan Kebangsaan

Sebagai narasumber pertama, Prof. Adji Samekto menyoroti kedudukan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan negara, yaitu sebagai dasar negara, filsafat dasar bangsa, pemersatu bangsa, landasan demokrasi politik dan ekonomi Indonesia, serta sumber segala hukum negara. Bagi diaspora Indonesia yang hidup dalam lingkungan sosial yang beragam dalam suku, ras, agama dan ideologi di luar negeri, mereka dituntut mampu menumbuhkan semangat dan wawasan kebangsaan yang menjadi pedoman nilai dalam pergaulan internasional.

“Saat ini Pancasila menghadapi tantangan, antara lain hilangnya Pancasila dalam wacana publik pascareformasi, melemahnya pengarusutamaan Pancasila dalam pendidikan, serta berkembangnya paham dan ideologi yang tidak bersumber dari budaya bangsa,” tutur Prof. Adji.

Rivalitas, eksklusivitas, dampak pasar global, dan perkembangan teknologi informasi seperti media sosial, menjadi tantangan dalam menyebarluaskan semangat kebangsaan seperti termaktub dalam Pancasila.

“Masyarakat terus berkembang dengan nilai-nilai baru. Tantangan kita adalah bagaimana dengan perubahan yang kompleks itu kita tidak meninggalkan nilai dan wawasan kebangsaan. Tapi sebaliknya justru mensinergikannya dengan nilai keindonesiaan dengan mempertimbangkan aspek budayanya,” lanjutnya.

 

Produk Jenius Bapak Bangsa

Narasumber kedua, Dr. Listiyono Santoso, Lektor Kepala Universitas Airlangga, menyampaikan bahwa, “Pancasila merupakan nilai abstrak universal, namun harus menjadi sesuatu yang konkret dan dapat terimplementasi secara obyektif seperti dalam landasan kebijakan politik RI yang mengamalkan lima sila dalam Pancasila dalam satu kesatuan utuh. Juga secara subyektif menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan pembelajaran dan pembiasaan yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia.”

Dalam paparannya, ditekankan bahwa Pancasila merupakan produk genius dari Bapak Bangsa yang harus diapresiasi secara luar biasa.

“Ulama kita pada masa itu legowo menerima Pancasila sebagai dasar negara dan tidak mereduksi nilai keagamaan mereka. Negara melampaui bangsa, agama, dan kesukuan,” jelas Dr. Listiyono.

Terkait peran Diaspora Indonesia, Dr Listiyono mengatakan bahwa para pendiri negeri, yang saat menimba ilmu di luar negeri, turut memikirkan masalah kebangsaan. “Saat ini diaspora dapat turut membangun citra positif, melakukan alih pengetahuan dan ilmu, membawa masuk investasi, dan menjadi jembatan hubungan Indonesia dengan dunia Internasional,” tutur Dr. Listiyono.

Namun ditegaskan oleh Dr. Listyono bahwa “nation state building kita masih belum selesai,” karena masih ada kelompok kecil yang mempermasalahkan Pancasila dan ingin memaksakan kehendaknya di Indonesia.

“Dalam konsep negara bangsa Indonesia, kita punya empat warisan yang harus dijaga, yaitu UUD 1945 sebagai dinding, Bhinneka Tunggal Ika sebagai realitas isi, Pancasila sebagai fondasi, yang menopang atap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”

Pada sesi tanya jawab, beberapa hal yang mengemuka dan menjadi pembahasan antara lain terkait pentingnya mempertimbangkan kembali untuk menghadirkan pelajaran mengenai Pancasila dalam kurikulum pendidikan, peran akademisi dalam memperkokoh pemahaman masyarakat terhadap Pancasila ke depan, adanya ideologi transnasional yang perlu disikapi bersama, dan mengenai pentingnya mengadakan acara serupa di berbagai kesempatan dalam rangka memperkuat pemahaman masyarakat umum terhadap arti penting Pancasila dalam kehidupan bernegara rakyat Indonesia. [medcom.id/WIL]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed