by

Dian Lestari: Keberagaman Sebagai Tempat Transfer Pengetahuan

Dian Pontianak I Kabardamai.id I Kalimantan Barat memiliki sejarah konflik yang panjang. Hal ini disebebkan oleh beragam faktor seperti satu diantaranya keberagaman yang ada.

Keberagaman memang sejatinya indah dan dapat menjadi penguat dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Namun, karena kompleksnya kehidupan, keberagaman acapkali dapat menjadi sumber perpecahan yang tidak terelakkan.

Koordinator Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) Kalbar, Dian Lestari menyampaikan pemaparan tentang keberagaman identitas dan problemnya kepada panitia dan fasilitator dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Temu Pemuda Lintas Iman (Tepelima) Kalbar ke-3. Dilaksanakan di Sekolah Tinggi Agama Katolik (StakatN) Pontianak. Jumat, (24/4/2021).

Tepelima adalah kegiatan yang dipelopori oleh Komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP) Indonesia dan mitra. Tepelima dilaksanakan pertama kali pada tahun 2018 di Pontianak dan terus berlangsung setiap tahunnya hingga saat ini. Menggandeng Gusdurian, Yayasan Suar Asa Khatulistiwa, serta PMKRI Sungai Raya, Tepelima Kalbar akan dilaksanakan pada 30 April dan 1-2 Mei 2021 mendatang.

Tepelima menjadi ruang jumpa anak muda lintas suku dan agama di Kalimantan Barat. Dilaksanakan atas kesadaran dan keresahan anak muda tentang sejarah konflik yang panjang dan berupaya agar pemuda yang kemudian dapat menjadi juru damainya sehingga konflik tidak kembali terjadi lagi.

Di awal pemaparannya, Dian mengajak peserta untuk menggambarkan identitas yang melekat pada dirinya masing-masing, selanjutnya secara bersama-sama mengulas tentang identitas tersebut. Lebih jauh, ia melebarkan pembahasan tentang keberagaman dalam konteks kemasyarakatan, agama dan kepercayaan hingga keberagaman seksual yang ada.

Dian mengilustrasikan, dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kehidupan beragama. Kerap ada yang melarang untuk bergaul atau mengucapkan hari raya kepada agama lain.

Hal ini dibenarkan dan dialami oleh sebagian besar peserta, namun sisi positifnya kemudian hal tersebut membuat semua berfikir apa alasan yang melatarbelakangi dan kemudian lebih banyak mencari jawaban.

Keberagaman Sebagai Tempat Transfer Pengetahuan

Semakin banyak hal yang beragam akan membuat kita semakin banyak penasaran dan mencari tahu tentang sesuatu yang hendak kita ketahui. Dalam konteks beragama dan berkeyakinan, Dian beberapa peserta membahas perihal Baha’i yang belum lama dikenalnya. Menurutnya, keberagaman dapat memperluas sudut pandang.

“Dulu saya penasaran. Bagaimana Bahai. Ternyata dengan kita memperluas sudut pandang kita, kita bisa belajar. Kalau ruang belajar yang besar ini tidak meningkatkan kreativitas, keberagaman tidak akan menjadi ruang estetika yang indah, yang terjadi malah perang” ungkapnya.

Dalam konteks kesukuan, stigma kerap disematkan pada Suku Madura di Kalbar. Ini menjadi salah satu penyebab konflik yang pernah terjadi dahulu. Suatu ketika, Dian dan rombongan pernah berkunjung ke Kampung Tenun tempat rekonsiliasi korban konflik Madura dari Sambas.

Di sana mereka mendapatkan cerita dan pengalamannya terusir dari rumahnya sendiri. Bahkan, stigma tentang Madura juga masih berkembang hingga saat ini sehingga membuat anak-anak Madura di Kalbar merasa minder. Oleh karena itu, Dian mengajak semua pihak untuk mengubah pola fikir dan merayakan keberagaman.

Baca Juga : Ahdar : Yang Membedakan Laki-Laki dan Perempuan Adalah Amal Solehnya

“Apabila kita memikirkan yang beragam dengan cara yang negative, kita akan cenderung diskriminatif. Penyimpangan dalam memaknai perbedaan menjadi masalah padahal sebenarnya kita bisa merayakan keberagaman itu bersama-sama,” tambahnya.

Sisi Negatif Keberagaman Identitas

Seperti telah dipaparkan diatas tentang keberagaman yang ada, membuat gesekan-gesekan kecil kerap terjadi. Gesekan tersebut bukan menjadi masalah jika dapat diselesaikan dengan solusi terbaik dan penuh dengan musyawarah serta mufakat.

Menurut Dian, yang menjadi masalah dari keberagaman adalah jika ada yang memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi atau kelompoknya saja.

“Berbeda tidak masalaah. Yang masalah adalah ketika dieksploitasi untuk kepentingan politik, ekonomi, SDM/ SDA kelompok tertentu,” tuturnya.

Dian menyoroti permasalah di Poso saat terjadi konflik dulu, menurutnya seorang rekan peneliti yang ia kenal pernah menyatakan bahwa konflik kepentingan kemungkinan disangkutpautkan dengan konflik identitas yang beragam. Tujuannya untuk keuntungannya sendiri.

“Ada masalah besar di Indonesia. Tahun 1997-1998. Soeharto jatuh. Ada kekosongan politik, ada celah untuk masuk untuk menguasai perpolitikan, perekononiam, SDA, SDM. Jangan percaya konflik terjadi hanya karena kita beda budaya danpendapat. Konflik seperti bawang yang berlapis. Ada kepentingan di dalamnya. Itu terjadi juga di Poso. Seorang teman peneliti di Poso, mereka mengatakan, mereka bunuh-bunuhan karena agama. Padahal karena konflik Kakao,” jelasnya

Berdasarkan dari berbagai kasus diatas, yang kemudian mengkhawatirkan ialah ketika stigma, stereotip, prasangka dan labelisasi kemudian terus berkembang dan menyebabkan konflik sosial yang berdampak besar dalam kehidupan.

TOT ini membuka kesadaran para peserta. Bima, mengungkapkan bahwa ia pernah menjadi pelaku diskriminasi. Namun kini ia sadar dan merasa menyesal atas apa yang pernah ia lakukan.

“Pengalaman pernah menjadi pelaku diskriminansi, tapi tidak sadar terhadap apa yang dilakukan karena dilakukan kepda suku-suku. Misal atas satu suku kemudian melabeli norak dan lain sebagainya. Aku berhenti dan aku menyesal menjadi orang seperti itu,” Beber Bima

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed