by

Dialog Khusus: Pancasila di Mata Milenial

Kabar Damai I Rabu, 02 Juni 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Peranan pancasila sebagai dasar negara sangat sakral, kedudukannya sangat penting dalam kehidupan bernegara. Menerapkan pola hidup sesuai dengan Pancasila sejatinya harus dilakukan agar sesuai dengan pedoman bernegara. Walaupun sudah ada sejak 1 Juni 1945 lalu, hingga kini Pancasila masih tetap relevan seiring dengan kehidupan berbangsa.

Semua orang punya perspektifnya masing-masing tentang Pancasila, termasuk dengan para milenial. Dua siswa SMA Negeri 1 Pontianak, Rahmad Aziz Wirayuda dan Fahim Zuhudan dalam program dialog khusus RRI Pontianak memaparkan tentang perspektif Pancasila bagi para milenial. Selasa, (1/6/2021).

Menurut Fahim, penerapan ideologi pancasila dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya melalui ucapan namun dalam tindakan dalam bentuk produktifitas yang membanggakan diri sendiri maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hal serupa diungkapkan juga diungkapkan oleh Wira.

“Sejarah pancasila sejatinya menjadi dasar pemikiran terutama bagi para pemuda, tidak cukup hanya mengetahui sejarah saja melainkan harus diimplementasikan melalui tindakan dalam kehidupan sehari-hari layaknya musyawarah, gotong royong dan lain sebagainya,” tandas Wira.

Baca Juga: Membumikan Pancasila di Kalangan Milenial

Perihal penerapan pancasila, Fahim dan Wira menyoroti masih kurangnya milenial yang bangga akan nilai pancasila itu sendiri, masih banyaknya milenial yang kerap mengambil dan menikmati budaya dari luar menjadi salah satu permasalahannya.

Wira menegaskan, “Penggunaan produk dan budaya dari luar ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian berpengaruh menjadi sebuah kebiasaan. Padahal, Indonesia sendiri memiliki produk dan budaya yang tidak kalah untuk diterapkan.”

Pengetahuan tentang budaya Indonesia harus semakin ditekankan pada para milenial. Penambahan kuantitas pengetahuan ini harus dilakukan agar cinta terhadap produk sendiri dapat semakin besar.

Walaupun demikian yang turut menjadi kabar baik ialah masih banyak pula anak muda yang bangga dan menerapkan pancasila saat ini. Fahim mencontohkan, ia dan rekannya menerapkan hal tersebut melalui karya. Membuat filem tentang kebudayaan daerah khususnya tenun Dayak pernah ia lakukan menjadi salah satu cara yang dilakukan sebagai bentuk cinta tanah air dan bangga akan nilai pancasila.

Kembali pada pengalaman pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Fahim dan Wira mencontohkan dapat dilakukan dengan hal apapun dalam konteks kecil. Menjaga silaturahmi dan gotong adalah contoh yang paling kerap mereka lakukan.

Berhubungan dengan toleransi dan pancasila, kedua siswa SMAN 1 Pontianak ini memberikan contoh konkretnya dalam kehidupan bermasyarakat. Fahim mencontohkan kerukunan antar umat beragama di Pontianak yang beragam namun dapat hidup berdampingan dan rukun tanpa adanya adanya gesekan.

“Dalam lingkup kecil seperti misalnya di SMAN 1 Pontianak sendiri, toleransi antar umat beragama ini sangatlah baik dalam penerapannya melalui kegiatan keagamaan masing-masing,” papar Fahim

Lebih jauh, selain dalam konteks beragama Wira menyoroti kebiasaan untuk saling membantu satu sama lain tanpa memandang latar belakang.

Sebagai milenial, Fahim dan Wira menyatakan bahwa pancasila sangat penting perananannya. Mereka juga terus berupaya untuk menerapkan dan mengaplikasikan nilai pancasila pada diri sendiri dan juga lingkungan. Melalui penerapan ini, diharapkan pola dan perilaku baik serta cinta dan bangga akan tanah air akan semakin menggelora pada pribadi masing-masing.

Penulis: Rio Pratama

Editor: Ai Siti Rahayu

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed