by

Dialog Islam-Khonghucu Perkuat Kerukunan

Kabar Damai | Senin, 12 April 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Wakil Presiden (Wapres), K.H. Maruf Amin mengemukakan, dialog Islam-Khonghucu merupakan langkah maju merajut kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan paparan kunci dalam acara Dialog Khonghucu-Indonesia bertema “Tuhan dan Ketuhanan dalam Perspektif Islam-Khonghucu”, Sabtu, 10 April 2021.

Dalam acara yang disiarkan melalui kanal YouTube MATAKIN Pusat ini, Kiai Ma’ruf mengakatakan bahwa agama mengajarkan nilai-nilai penting kemuliaan hidup, di antaranya, untuk mengembangkan kedamaian dan kerukunan hidup antar sesama.

Baca Juga : Kemenag: Budaya Dialog Lintas Agama Harus Diarusutamakan Hingga Keluarga dan Lingkungan

Untuk itu, imbuh Wapres, penyelenggaraan Dialog Islam-Khonghucu oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) patut diapresiasi, sebagai wujud sinergi merawat kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Saya mengapresiasi forum Dialog Islam dan Khonghucu sebagai bentuk nyata upaya merawat serta memperkuat kerukunan, khususnya antara umat Islam dan umat Khonghucu,” tutur K.H. Maruf Amin pada peringatan hari lahir MATAKIN yang ke-98, dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Sabtu (10/04/2021).

Upaya tersebut, lanjut Wapres, sejalan dengan arah dan tujuan didirikannya MATAKIN pada 1923 sebagai satu-satunya lembaga agama Khonghucu tertinggi di Indonesia.

“MATAKIN bertujuan untuk mengembangkan umat Khonghucu agar dapat mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, sehingga mampu memperbarui diri dan berpartisipasi aktif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” terangnya.

Hadir sebagai narasumber, tokoh-tokoh dari kedua agama, antara lain, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud, Anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN Pusat Chandra Setiawan, dan Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU) Kris Tan.

 

Kembangkan Sikap Saling Menghormati

Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN Budi S. Tanuwibowo mengemukakan, umat perlu mengetahui perbedaan-perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya semata adalah untuk mengembangkan sikap saling menghormati.

Sementara itu, persamaan-persamaan yang ada dapat dijadikan landasan untuk memperkuat kerukunan umat di Indonesia.

“Jangan lagi bangsa Indonesia dipecah-pecah atau sengaja diretakkan oleh perbedaan-perbedaan, terutama oleh perbedaan agama dan keyakinan. Mudah-mudahan kita semua semakin sadar bahwa agama untuk manusia, untuk kemanusiaan,” ujar Budi, seperti dikutip readers.id (11/4).

Untuk diketahui, Dialog Khonghucu-Indonesia bertema “Tuhan dan Ketuhanan dalam Perspektif Islam-Khonghucu” dipilih MATAKIN sebagai bentuk perayaan hari lahirnya khusus untuk tahun ini, karena dewasa ini berkembang fenomena pergeseran makna Tuhan dan ketuhanan seiring perubahan peradaban manusia.

Selain itu, kedua agama sering dikesankan jauh berbeda. Untuk itu, forum ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam dan Khonghucu di Indonesia sebagai upaya mempererat persaudaraan di antara kedua umat beragama tersebut.

 

Ketua PBNU: Bunuh Diri Tak Sesuai Ajaran Agama

Di acara yang sama, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU, KH. Marsudi Syuhud mengatakan tindakan bunuh diri atau membunuh orang lain bukan ajaran agama. Semua agama mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan.

“Kalau masih ada orang yang meyakini membunuh diri sendiri atau orang lain itu benar, nah itu adalah bertentangan dengan ajaran agama,” kata Marsudi.

Padahal dalam ajaran agama dijelaskan bagaimana sepatutnya para umat memahami nilai kemanusiaan secara sederhana yakni toleransi, menunaikan janji, hingga melaksanakan amanah.

Selain itu, imbuh Kiai Marsudi, umat beragama juga diajarkan bagaimana untuk berlaku jujur secara perkataan maupun tindakan, berbuat baik kepada orang tua, menjaga hak tetangga, menghormati harta benda anak yatim dan orang miskin serta menghindari hoaks hingga fitnah.

Karena itu, perbuatan bunuh diri atau membunuh orang lain tidak pernah menjadi ajaran agama apapun. Justru setiap agama mengajarkan bagaimana umatnya dapat menghargai hidup baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

“Kenapa demikian? Karena sesungguhnya sumbernya adalah satu yaitu dari sumber ketuhanan,” tuturnya.

 

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed