by

Di Beranda Istana Alhambra (27 – Nonton Konser Musik)

-Opini-13 views

Oleh: Dr Muhammad Najib

Selesai kuliah seperti biasanya aku membuka HP untuk memeriksa berbagai pesan yang masuk melalui aplikasi WA. “Mau nonton konser musik ?” terlihat dengan nada bertanya dari Sekretaris Dubes  Ibu Nany.

A: “Kok tumben urusan musik ?”, aku balik bertanya.

N: “Kelihatannya Pak Dubes senang dengan kegiatan anda di luar kuliah”.

A: “Kegiatan yang mana ?”, aku pura-pura tidak mengerti, padahal dalam hati aku mulai menyadari bahwa Pak Dubes ternyata mengikuti gerak-gerikku, bisa dari Bu Nany tapi bisa juga dari sopir yang dikirim KBRI untuk mengantarku dalam melakukan berbagai kegiatan di luar kampus. Meskipun aku tidak terlalu faham musik, aku pikir apa salahnya jika aku terima tawaran ini sembari mencoba belajar menikmati musik di Spanyol. Lama aku menanti kok tidak ada respon dari Sekretaris Pak Dubes.

A: “Aku suka dengan musik, sejak kecil aku mengagumi Roma Irama”; komentarku coba memancing.

N: “Ini konser musik klasik”, komentar Bu Nany diikuti gambar wajah manusia tertawa.

A:”Ya musik apapun kan beda-beda tipis”, komentarku berlagak mengerti.

N: “Nih undangannya”, diikuti dengan menyerahkan undangan untuk Pak Dubes dalam Bahasa Spanyol dari Dubes Hongaria.

Karena hanya sebagian yang aku faham dari isi kalimat yang tertera pada undangan tersebut, lalu aku forward ke Iqbal sembari menawarkannya untuk menemaniku. Iqbal tidak meresponnya. Aku penasaran, lalu Aku datangi ruang kelasnya yang hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari fakultasku sesama di fakultas ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

A: “Kenapa kok tidak direspon ?”, tanyaku kepadanya dengan nada kesal.

Q: “Aku tidak suka musik”, katanya tegas.

A:”Cuma tidak suka kan ? Bukan mengharamkan!”, komentarku menegaskan.

Q:”Subhat!”, katanya pendek.

A:”Subhat ? Fatwa dari siapa ?”, komentarku mengejar.

A: “Menurutku musik adalah bahasa universal yang bebas nilai. Ia bisa Halal, kalau digunakan untuk  mendekatkan diri  pada Tuhan”, kataku melanjutkan. Aku teringat pendapat Almarhum Zainuddin MZ, yang mengatakan bahwa dengan Hukum hidup kita menjadi teratur, dengan teknologi hidup kita menjadi mudah, dan dengan seni hidup kita menjadi indah. Jadi seni serupa juga dengan produk budaya lainnya, yang netral nilai. Jika digunakan untuk kebaikan maka ia akan menjadi halal, sedangkan jika dibuat untuk maksiat ia menjadi haram. Bukankah teknologi juga memiliki sifat yang serupa? Jika dibuat untuk merusak alam, merusak manusia, termasuk merusak masyarakat, maka ia menjadi haram”.

Q:”Sudahlah ! Selera orang beda-beda, jangan suka memaksakan kehendak”, katanya dengan nada menasehati.

Q:”Apalagi acaranya di Gereja, Aku merasa keimananku terganggu bila masuk rumah ibadah agama lain”, katanya menambahkan.

Dalam hati, Aku semakin sadar bahwa temanku yang satu ini sangat puritan dan berusaha untuk menjaga setiap sikap, ucapan, maupun prilakunya. Kalau ia toleran kepadaku bagaimana mungkin aku tidak toleran. Aku kemudian berusaha untuk merayunya untuk meredakan situasi yang terlanjur tegang.

Baca Juga: Di Beranda Istana Alhambra (26 – Pengajian Diaspora Muslim Indonesia)

A:”OK, kalau Kau keberatan menemaniku, tolong carikan pengganti”, kataku dengan nada memohon.

Q: “Ada katanya”, sambal sedikit tersenyum.

A:”Siapa ?”.

Q:”Mahasiswa Sastra yang sangat faham musik”.

Kini aku yang terdiam karena melihat mimik wajahnya yang mencurigakan, aku khawatir jangan-jangan dia mau ngadalin.

A: ”Namanya ?”.

Q: ”Silma”.

A: ”Cewek ?”.

Q: ”Masak cowok namanya Silma”, katanya sambil tertawa nakal.

Wah, permainan apalagi ini pikirku meduga-duga.

Q: ”Ia orang Spanyol keturunan Lebanon beragama Kristen Maronit”, katanya sambil melihat responku. Melihat gerak-geriknya aku mencoba untuk bersikap dingin agar dia tidak bisa membaca sikapku sebenarnya, sembari mencoba melihat motivasi di balik tawarannya.

Q: ”Orang bilang kalau dua gadis Lebanon berjalan, maka yang cantik empat. Karena yang dua lagi bayangannya”, katanya.

Walaupun kalimat ini dalam berbagai versinya sudah sering aku dengar sebagai bentuk ungkapan kecantikan gadis-gadis Lebanon. Akan tetapi dalam hati aku jadi penasaran untuk segera mengenalnya.

A:”Boleh, tapi ada syaratnya”, kataku.

Q: ”Apa ?”, kini ia yang penasaran.

Aku harus mampu membalik permainan pikirku.

A: ”Istriku Ipah tidak boleh tahu”.

Iqbal tersenyum sambil menyodorkan tangannya untuk tos tanda sepakat. Aku sambut, sembari mengungkapkan: “Kalau sampai ketahuan, maka Aku akan katakan engkau biangnya”.

Q: “Jangan gitu dong!”, responnya dengan wajah cemas.

Setelah mendapatkan nomor HPnya, Aku dan Silma kemudian berkomunikasi melalui WA, menyepakati janji pada hari H nanti, akan bertemu di halte bus dekat kampus. Aku penasaran, ingin segera melihat wajahnya pada status WAnya. Ternyata yang muncul adalah gambar Gitar Arab yang dalam Bahasa Arab disebut “Oud”. Aku tidak sabar menanti hari H, sehingga terasa jam dan hari bergerak sangat lamban.

Baca juga  Megawati Ingin PDIP Menang Terus dalam Pemilu

Pada waktu yang Kami sepakati, aku berangkat dari rumah dengan pakaian terbaik yang aku miliki. Saat mulai mendekat Halte, aku perhatikan seorang gadis berwajah Arab berdiri sambal memijit-mijit tombol HPnya. Ia berdiri sendiri dan tidak ada orang lain.

Postur tubuhnya semampai, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, sedikit lebih pendek dari tubuhku.

Rambutnya hitam kekuningan. Saat mulai semakin dekat Ku perhatikan bola matanya coklat agak kuning yang dibingkai dengan alis yang hitam dan agak tebal melingkar alami. Aku hanya menduga-duga bentuk bibirnya yang ditutup masker.

Saat berjarak sekitar dua meter Aku mengambil posisi mebelakanginya, sembari menelponnya sambil mengulang-ulang kata: Hola..! Hola..!…Hola..!, yang berarti : “Halo…halo….halo….” dalam Bahasa Spanyol. Silma lalu memegang pundaku, tangannya terasa seperti kapas karena halusnya. Aku lalu menoleh dan secara tidak sengaja beradu pandang.

S: “Kita harus naik taxi, karena tidak ada bus kota yang langsung menuju Gereja Iglesia de San Antonio de los Alemanes ”, katanya dengan menggunakan Bahasa Inggris.

A: “La ba’sa !”, jawabku dalam Bahasa Arab untuk menunjukkan kepadanya bahwa Aku bisa Bahasa Ibunya.

Saat sudah berada di dalam Taxi, Aku coba untuk menyanjungnya  dengan mengatakan : “Bahasa Inggrismu bagus sekali”

S: “Aku mengambil S1 di London”, sambil menyunggingkan senyum yang terlihat dari perubahan bola matanya. Aku tak sabar untuk melihat bibirnya, tapi bagaimana caranya untuk memintanya membuka masker. Aku tahan keinginan itu, khawatir nanti dia salah menilai diriku.

S: “Kau bisa Bahasa Arab ?”, katanya balik bertanya.

A: “Khalil”, yang berarti sedikit jawabku.

S: “Kami di rumah dengan keluarga berbahasa Arab”, komentarnya.

A:”Berarti Kau menguasai paling tidak tiga Bahasa”, komentarku dengan nada kagum.

S: “Ya karena sejak TK sampai SMA di sekolah Kami menggunakan Bahasa Spanyol, disamping dengan tetangga juga menggunakan Bahasa yang sama”, komentarnya.

Kami lalu berdialog dengan menggunakan kombinasi Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, terkadang ia terlihat berpikir keras saat menggunakan Bahasa Arab, berbeda dengan saat menggunakan Bahasa Inggris yang sangat lancar.

S:”Maaf katanya, di rumah Kami menggunakan Bahasa Amiah, sehingga Bahasa Fusha ku tidak terlalu bagus. Kau belajar Bahasa Arab dimana, kok bagus sekali ?”, katanya dengan nada menyanjung.

A: “Aku belajar Bahasa Arab di sekolah sejak SD dan SMP , akan tetapi terputus. Saat aku kuliah Aku kursus di dekat kampus dengan seorang Ustadz asal Mesir, yang tinggal di Yogaya setelah menikah dengan orang Minang”.

Silma nampak antusias mendengar komentar-komentarku, entah apa yang bergerak di pikirannya. Aku lalu melanjutkan: ”Silma memiliki akar kata yang sama dengan “Salam” yang berarti “damai” dalam Bahasa Arab. Di Indonesia nama “Silma” atau “Salma” kadang-kadang ditulis “Salmah”  hanya digunakan oleh Muslimah”.

S:”Di Lebanon seringkali kita tidak bisa membedakan antara Muslim dengan non-Muslim dari namanya, karena nama “Khalid”, “Walid”, bahkan “Abdullah” juga dipakai oleh mereka yang beragama Nasrani. Kita bisa menduga atau memperkirakan dari nama farmnya atau sukunya yang biasanya ditulis di belakang nama seseorang. Kami tetap orang Arab meskipun beragama Nasrani”, katanya menjelaskan.

A: “Kau pernah ke negri leluhurmu ?”.

S: “Beberapa kali, Aku masih punya keluarga di Beirut”.

Taxi mulai menyusuri jalan-jalan sempit di Kota Tua Madrid. Aku perhatikan gedung-gedung tuanya yang terawat baik. Rupanya Silma memperhatikan ku.

S:”Kota ini seperti kombinasi antara London dan Paris. Aku menyukainya”, komentarnya.

A: “Kau beruntung sudah melihat banyak tempat indah di Eropa”, kataku.

Silma hanya tersenyum tanpa komentar. Taxi berhenti di jalan sempit yang bagian ujungnya terdapat bangunan tua.

A: “Kita sudah sampai”, katanya.

Aku bayar sesuai argo yang tertera. “Gracias”, kataku kepada sopir Taxi sebagai bentuk ungkapan terimakasih yang lazim digunakan.

T: “Denada”, kata si sopir membalasnya.

S: “Ini Gerejanya, tapi kenapa pintunya tertutup?”.

Ia kemudian mendekati beberapa orang yang sedang berdiri untuk menanyakan apakah benar konser akan diadakan di tempat ini. Silma lalu menghampiriku, memberitahu bahwa sebentar lagi pintu akan dibuka dan panitianya sudah berada di dalam.

Dalam hati Aku merasa heran, karena Aku pikir namanya konser itu pasti tempatnya mewah dan penontonnya berjubel. Ternyata tempatnya sederhana, hanya gereja tua yang tidak besar pula. Tapi Aku berusaha menutupi keluguanku di depan Silma agar tidak nampak kampungan.

Aku mengikuti saja arahannya, untuk berdiri menunggu bersama para calon penonton lainnya yang rata-rata sudah berusia senja dan nampak seperti pensiunan.

Orang-orang mulai membentuk barisan untuk antre masuk, Silma memberikan isyarat agar Aku berdiri di depannya. Saat pintu dibuka, calon penonton masuk satu-persatu dengan tertib. Aku menunjukkan undangan kepada Panitia, seorang gadis kemudian menyambutku antusias dengan mengatakan: “Ooo….Embajador…!”.

A: “Bukan..bukan…Aku mewakili beliau”, kataku dalam Bahasa Inggris memberitahu bahwa Aku hanya mewakili Duta Besar.

G: “Nggak apa-apa, duta besar atau yang mewakilinya sama saja”, katanya sambil mengantarku untuk duduk di barisan kursi paling depan.

Ada sekitar lima belas baris kursi secara keseluruhan, dimana tiap baris diisi sepuluh orang. Kursi-kursinya seperti kursi gereja pada umumnya, panjang dengan sandaran. Hanya dua baris dari depan yang alasnya ada lapisan kasur tipis berwarna merah, sedang yang lainnya kursi kayu biasa. Silma duduk di sisi Kananku.

Aku perhatikan dinding dan seisi ruangan yang dipenuhi oleh patung dan lukisan yang terlihat sudah berusia sangat tua.

Mungkin Silma memperhatikan tingkah lakuku, ia kemudian menjelaskan bahwa Gereja ini adalah gereja komunitas Hongaria di Madrid yang sudah berusia ratusan tahun. “Kau sudah pernah datang ke tempat ini sebelumnya ?”, kataku menyelidik.

S: “Belum, akan tetapi Aku mengeceknya dari Wikipedia sebelumnya. Sebagai mahasiswa Sastra, Aku juga terdorong untuk mengetahui lebih jauh seluk-beluk komunitas Hongaria di sini, khususnya terkait dengan seni dan musik”.

A: “Apa yang menarik ?”.

S: “Mereka akan menampilkan sebuah keluarga Spanyol keturunan Hongaria yang mendedikasikan diri dalam bidang musik. Seorang kakek dan dua orang cucunya akan memainkan sejumlah alat musik sebagai bagian dari diplomasi untuk lebih mendekatkan bangsa dan negara leluhurnya kepada warga Spanyol”.

A: “Aku kan bukan orang Spanyol ?”.

S: “Itu artinya Kau istimewa atau diistimewakan”.

Setelah semua tamu duduk di kursi masing-masing, seorang Wanita setengah baya dengan pakaian rapi berdiri di depan tanpa pengeras suara mengenalkan diri sebagai Duta Besar Hongaria.

Dengan menggunakan Bahasa Spanyol, Ibu Duta Besar menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh hadirin, dan berharap bisa menikmati musik yang sebentar lagi akan dipentaskannya.

Beliau berharap musik sebagai bagian dari produk budaya dapat berfungsi sebagai bahasa universal dapat mendekatkan dua bangsa.

Seorang laki-laki agak gendut berkacamata muncul dari belakang panggung dengan jas tanpa dasi, kemudian memberi hormat kepada penonton, lalu duduk di balik piano. Tanpa basi-basi ia langsung memainkan tiga lagu berturut-turut. Selama piano dimainkan, suasana hening. Aku mendengarkan irama naik dan turun, terkadang pelan dan lembut, terkadang cepat dan menghentak. Setelah tiga lagu selesai, tepuk tangan panjang terdengar dari penonton.

Aku penasaran, lalu bertanya kepada Silma: “Kau mengenal lagu yang dimainkannya ?”.

S: “Itu lagu-lagu terkenal dari Beethoven yang dengan memainkannya orang bisa mengukur seberapa tinggi ilmu yang memainkannya”.

Ketika Aku akan mengajukan pertanyaan kembali, Silma mendekatkan kepalanya ke kepalaku, lalu membisikkan kalimat dengan suaranya yang halus ke telingaku: “jangan berisik, nanti orang-orang marah”, katanya mengingatkan.

A: “Emangnya kenapa ?”, kataku tak mengerti.

S: “Pertunjukkan seperti ini memerlukan keheningan, agar para pendengarnya bisa berimajinasi saat mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan, pendengarnya akan dibawa seakan berada di puncak gunung melihat burung yang berkicau atau berterbangan, atau di tepi pantai dengan deburan ombak yang berirama”, katanya sambil lebih mendekatkan lagi bibirnya ke telingaku, sampai-sampai hidungnya yang mancung hampir menyentuh pipiku, dan desah nafasnya seakan menelisik pori-poriku terus merayap sampai ke jantungku membuatnya berdenyut lebih cepat.

Seorang pemuda tanggung muncul membawa alat tiup klarinet membungkukkan badannya lalu memberi hormat, dan tetap berdiri. Si kakek lalu kembali memainkan pianonya. Setelah beberapa saat si pemuda meniupkan klarinetnya. Terjadi perpaduan suara yang terasa indah sekali dan sulit digambarkan. Hatiku terasa hanyut di bawanya.

Tiga lagu dimainkan berturut-turut. Tepuk tangan kembali bergemuruh. Hadirin sebagian bahkan berdiri, dan tidak berhenti tepuk tangannya meskipun, si pemuda dan kakeknya sudah turun dari pannggung.

Mungkin karena mendengar tepukan yang tidak berhenti, mereka berdua keluar kembali, dan memberikan penghormatan dengan cara  membungkukkan badannya sembari menyilangkan tangan Kanannya di dada.

Si kakek menunjukkan kearah pemuda dengan menggunakan tangan kirinya, seolah memberikan isyarat apresiasi bukan untuk dirinya, akan tetapi untuk cucunya, sambil menitikkan air mata.

“Sekarang tampilan terakhir”, kata Silma. Disamping kakek dan cucunya tadi, kini muncul pemuda baru yang postur dan wajahnya mirip dengan si cucu, akan tetapi lebih besar dengan sexophon di tangan Kirinya. Mereka kemudian tampil bertiga memainkan tiga buah lagu secara berturut-turut. Tampaknya pemuda yang baru datang ini kakak dari pemegang clarinet, bila dilihat dari wajahnya yang mirip dan postur tubuhnya yang lebih tinggi. Kalau yang lebih kecil duduk di SMP, maka abangnya di SMA aku menduga-duga

Silma menjelaskan dengan antusias lagu-lagu yang dimainkan, nama pencipta, serta inspirasi yang berada dibalik lahirnya lagu-lagu itu. Saat suaranya terdengar agak keras karena terlalu bersemangat menjelaskan berbagai hal tentang lagu yang sedang dimainkan, beberapa sorot mata menatapku dengan pandangan yang tidak suka.

Spontan tangan kananku memegang tangan kirinya, lalu sedikit menekan agar dia merendahkan suaranya.

Ketika tersadar, aku spontan melepasnya dengan perasaan bersalah. Silma memandang kearahku, sambil tersenyum melihat tingkah lakukuku, yang mungkin terasa ganjil di tengah kehidupan masyarakat kota Madrid yang sangat liberal.

Saat pulang, menunggu taxi Kami harus antre. Melihat antrean mengular panjang, Aku usul untuk jalan sedikit ke depan untuk bisa mencegatnya, sehingga bisa mendapatkan taxi tanpa harus antre. Mendengar usulku spontan Silma menolaknya:

“Itu tidak sopan”, membuatku menjadi kaget dengan jawabannya.

“Toh tidak dilihat, kita tunggu di tikungan”, kataku berargumen.

“Kita harus malu pada diri sendiri”, katanya spontan membuatku seperti di tampar.

Setelah mendapatkan taxi, Kami duduk di kursi belakang berdampingan. “ngomong-ngomong, Kau sepertinya sangat paham musik”.

“Sejak SMA Aku belajar musik dari kakek, ia seorang penyanyi sekaligus pemegang gitar. Ia pengagum Ummu Khalsum, seorang biduanita asal Mesir. Ia datang ke Spanyol sebagai pemusik, kemudian menetap di sini karena menyukai negri ini dan keramahan masyarakatnya, yang tidak beda dengan masyarakat Lebanon.

Menurut kakek dulu orang Spanyol belajar musik dari orang Arab, juga belajar filsafat, sain dan teknologi, termasuk selera makan dan tata busana.  Jadi sejak Dinasti Muaawiyah sudah terjadi asimilasi budaya diantara kedua bangsa.

Dan jangan lupa, sekolah musik pertama di Daratan Eropa menurut Filip Almansour Holm dari Soderton University, Swedia, bersamaan dengan munculnya sekolah serupa di Bagdad dibawah Dinasti Abbasiyah, saat dipimpin Khalifah Harun Al Rasyid. Di sekolah musik ini diajarkan bagaimana menggunakan berbagai macam instrumen musik, sampai olah vokal.

Dalam perkembangannya, para sufi menggunakan musik sebagai bagian dari ritual agar lebih dekat dengan sang Khaliq untuk mengkatkan spiritualitas dan sarana menghaluskan jiwa.

Aku kemudian mengikuti jejak Kakek sebagai seniman yang menggeluti musik. Saat SMA, Aku sering pentas, baik bersama group maupun sendiri. Di Spanyol musik tradisional yang merupakan campuran musik Arab dan Spanyol asli, kini digalakkan. Hal inilah yang membuatku mendapatkan beasiswa”.

A: “Suaramu pasti bagus”.

S: “Tidak mengecewakan pendengarlah”, katanya merendah.

A: “Kau juga cantik”, kataku memberanikan diri memujinya. Memuji dalam tradisi dan budaya Arab disebut Mujamalah, yang artinya memberikan apresiasi. Orang yang kurang suka memberikan pujian dianggap kurang bisa mengapresiasi kelebihan orang lain. Ini termasuk kategori bachil atau pelit. Jadi Bachil bagi Orang Arab tidak hanya dalam pengertian kurang mau berbagi dalam masalah duit.

S: “jangan berlebihanlah”, katanya sambil tersipu.

S: “Kau suka musik Timur Tengah ?”.

A: “Suka sekali, Aku pengagumi Majda Roumi dan Fairuz”, kataku dengan menyebut dua penyanyi legendaris asal Lebanon.

S: “Dari mana Kau mengenal Majda dan Fairuz ?”, katanya dengan nada penasaran

A: “Dari Youtube”.

S: “Apa lagu dari Majda yang Kau suka ?”, dengan nada menyelidik

“Kalimat, dan Beirut”, jawabku spontan.

S: “Kalau Fairuz ?”, dengan nada masih mengejar.

“Al Bint El Chalabiya dan Nassam Alayna”, jawabku mantap

Tanpa terasa taxi sudah sampai pada halte tempat Kami berangkat. Sebelum berpisah Aku sempatkan bertanya: “Kau sudah punya pacar ?

S: “Belum”.

A: “Kenapa ?”.

S: “Belum ada yang cocok aja !”.

A: “Ma’a salamah”, kataku dengan Bahasa arab sambil melambaikan tangan, tanda perpisahan.

“Ilal lika”, jawabnya dalam Bahasa Arab yang artinya sampai jumpa.

(Bersambung)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed