Di Beranda Istana Alhambra (26 – Pengajian Diaspora Muslim Indonesia)

Opini630 Views

Oleh: Dr Muhammad Najib

Gagasanku untuk mengembangkan Diaspora Muslim Indonesia (DMI), mulai mendapatkan sambutan dari berbagai diaspora Indonesia, terutama yang berada di Eropa dan negara-negara kawasan Afrika Utara. Selain itu, gagasan ini yang juga dimaksudkan untuk menjadikan Islam sebagai gerakkan Ilmu mendapatkan dukungan, terutama dari Jerman.

Kesempatan ini Aku manfaatkan untuk mencari sejumlah jawaban mengapa Ummat Islam di Kawasan Afrika Utara, khususnya di wilayah Maroko saat ini tidak mewarisi kemajuan peradaban Islam yang dibangun di wilayah Andalusia oleh Dinasti Bani Umayyah. Padahal pasca Dinasti Umayyah, Andalusia pernah dikendalikan oleh Dinasti Al Murabitun dan Dinasti Almuwahidun yang berpusat di Marakesh, Maroko, dalam rentang waktu yang Panjang.

Aku mengusulkan kepada Rokib yang memimpin DMI di Jerman dan menekuni kitab-kita klasik untuk menjadi pembicara, sementara forumnya dibuat dialog dalam bentuk tanya-jawab, dengan tema: “Mengapa Ummat Islam Tertinggal, melalui Kajian Kitab-kitab Klasik”. Rokib setuju, kemudian dibuatlah flyer yang di-share ke seluruh aktifis DMI di Kawasan Eropa dan Afrika Utara.

Pada Minggu pagi sesuai jadwal yang ditentukan Aku memulai dengan memberikan pengantar, sebagai berikut: Seorang Ulama kelahiran Tus yang kini masuk wilayah Iran, pada Abad ke-11 M, yang terkenal dengan panggilan akrabnya Imam Al Ghazali, menulis sebuah buku yang sangat terkenal berjudul: Ihya Ululum Al Din atau Ihya Ulumuddin, yang menurut sejumlah ulama menyimpulkan kejumudan yang dialami oleh Ummat Islam selama berabad-abad, tidak bisa dilepaskan dari buku ini yang terbukti terus dibaca sampai saat ini.

Bila merujuk pada karya Al-Ghazali yang lain berjudul: Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan Filsafat), menunjukkan ia sedang berpolemik dengan Ulama lain bernama Ibnu Sina yang disamping ahli ilmu agama juga sangat terkenal dalam ilmu kedokteran. Al Farabi merupakan Ulama yang juga dikritisi oleh Ibnu Shina. Akan tetapi Alghazali dikritik balik oleh Ibnu Rush melalui bukunya yang berjudul Tahafut al-Tahafut (Kerancuan di Atas Kerancuan).

A: “Bagaimana kita mendudukkan masalah ini?”

R: “Pertama, kita harus melebarkan dada kita untuk menerima kenyataan bahwa perbedaan itu adalah bagian dari Sunnatullah. Kita lahir dari Ibu yang berbeda, di tempat yang berbeda, dan dibesarkan di lembagap pendidikan yang berbeda, disamping lingkungan dan pengalaman pribadi yang berbeda. Kedua, coba tempatkan perbedaan diantara para ulama secara rasional dan proporsional.”

A: “Maksudnya?”

R: “Ulama adalah manusia juga, tidak ada yang seratus persen benar dan seratus persen salah. Dalam kebenaran mereka terdapat kekurangan, dan dalam kekurangan mereka terdapat kebenaran. Jadi kalau kita mengikuti dengan kacamata positif, maka kita akan menemukan di dalam perdebatan itu, maka  satu dengan lainnya sebenarnya dalam proses saling melengkapi.”

A: “Bagimana mengetahui kelebihan dan kekurangan pendapat atau pemikiran masing-masing?”.

R: “Di sinilah pentingnya ilmu, kajian, dan pendalaman. Bagi mereka yang tekun maka mereka akan menemukannya.”

A: “Cara lain, khususnya bagi masyarakat awam ?”

R: “Waktu yang akan membuktikannya”.

A: “Maksudnya ?”

Baca Juga: Di Beranda Istana Alhambra (25 – Jejak Al Muwahidun di Andalusia)

R: “Kebenaran tidak akan lekang dimakan waktu.  Kini kita bisa melihat, pendapat sejumlah ulama atau ilmuwan dalam bidang apapun, kemudian bisa dibuktikan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, termasuk di bidang sain dan teknologi, yang banyak menyingkap hal-hal yang dulu dianggap gaib.”

A: “Maksudnya, gaib itu karena kita belum mengetahuinya atau belum memiliki ilmu tentang sesuatu?”

R: “Tidak juga, pendapat saya;  ada gaib yang mutlak dan ada gaib yang relatif”.

A: “Apa yang saudara masukkan kedalam kategori gaib relatif?”.

R: “Semua hal yang menjadi bagian dari Sunnatullah, baik yang bersifat fisik seperti antariksa, dunia hewan, tumbuhan, dan hal-hal terkait dengan fisik manusia. Termasuk juga dalam hal ini yang termasuk kategori non-fisik seperti ilmu sosial dan phsykologi”

A: “Lalu yang gaib mutlak ?”.

R: “Seperti masalah Ruh, masalah hidup sesudah mati, dan alam akhirat, sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam Al Qur’an.”

A: “Lalu bagaimana, menjelaskan tentang Mukzizat?”.

R: “Ada hukum Allah yang disebut dengan Sunnatullah yang berlaku bagi semua orang, di semua tempat, dan di semua waktu. Tentu pengertian tempat di sini di Bumi, kalau di ruang angkasa atau di luar bumi tentu memiliki Sunatullahnya sendiri. Akan tetapi, Allah punya hak prerogatif untuk intervensi. Intervensi inilah yang disebut mukjizat.”

A: “Kalau Mukzijat hanya turun kepada para nabi, mungkinkah intervensi Allah juga datang kepada manusia seperti kita.”

R: “Mungkin saja, disinilah pentingnya doa. Tetapi doaa saja tidak cukup, karena Allah mengingatkan doa yang dikabulkan harus didahului dengan ikhtiar yang maksimal.”

A: “Apakah tertinggalnya dunia Islam dibanding Barat,  sebagaimana yang disimpulkan oleh sejumlah ulama karena kemenangan Al Ghazali atas Ibnu Shina dan Ibnu Rush?”.

R: “Dalam perdebatan itu tidak ada yang menang dan kalah, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, bahwa pengetahuan mereka saling melengkapi. Akan tetapi, harus diakuti pengikut Al Ghazali di dunia Islam semakin lama semakin besar, sedangkan pengikut Ibnu Rush dan Ibnu Shina semakin kecil. Padahal di Barat pengikut Ibnu Shina dan Ibnu Rush terus berkembang sampai sekarang. Sebetulnya kelompok Liberal dan Sekuler di Barat saat ini, secara substantial merupakan pengikut Ibnu Shina dan Ibnu Rush.”

A: “Jadi rahasia ketertinggalan kita karena kita mengikuti Al Ghazali, bukan Ibnu Shina dan Ibnu Rush?”.

R: “Kita harus hati-hati dalam menyimpulkan, karena masalahnya tidak sederhana. Yang bisa saya katakana adalah bisa jadi kebanyakan kita keliru memahami pandangan Al Ghazali, kita hanya fokus pada aspek tertentu dari pemikirannya dan abai pada aspek lainnya. Kedua, bisa jadi memang tuntutan keadaan waktu itu, lebih cocok pandangan Alghazali.”

A: “Bagaimana kalau sekarang kita kembali menghidupkan pandangan Ibnu Shina dan Ibnu Rush di Dunia Islam?”.

R: “Kalau kita mau mengejar Amerika, Rushia, China, Jepang, dan sejumlah negara yang maju dalam sain, teknologi, ekonomi, politik, dan militer, maka kita tidak punya pilihan lain. Akan tetapi kalau kita mau mengejar ketentraman bathin dan kebahagian spiritual secara personal, maka lebih cocok mengikuti Al Ghazali.”

A: “Kalau misalnya saya harus membuat rekomendasi kepada pemerintah, apakah kebijakan pemerintah saat ini harus diarahkan ke mazhab pemikiran Ibnu Shina dan Ibnu Rush?”.

R: “Apa-apa yang ektrim itu tidak bagus, jadi harus seimbang antara mengejar kebahagiaan lahir dan bathin, antara dunia dan akhirat.”

A: Agak berbelok sedikit, bagaimana dengan merebaknya sufisme dan tarekat di dunia Islam pasca Al Ghazali?”.

R: “Ini sebenarnya kelanjutan atau implikasi dari pandangan spiritual Al Ghazali.”

A: “Bagaimana dengan ulama yang menganggap tarekat itu bid’ah?”.

R: “Tidak perlu membid’ah-bid’ahkan, apa lagi mengharamkannya. Kecuali kalau mengubah syarat dan rukunnya shalat, atau mengubah aturan zakat yang sudah jelas tuntunannya.”

A: “Bagaimana penjelasannya, agar masyarakat awam memahaminya?”.

R: “Begini! Ada orang yang mengejar dunia habis-habisan, setelah jabatan didapat, harta terkumpul, ia tidak menemukan kebahagiaan yang ia cari, jadi Ibarat matamorgana. Ada orang yang karena faktor-faktor lahiriah yang objektif kemudian memiliki keterbatasan untuk mengejar dunia, lalu memutuskan mengambil jalan pintas dengan mengikuti tarekat untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual, kan tidak boleh dilarang.”

A: “Apakah boleh saya mengaitkan sikap seimbang ini dengan perintah Allah dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi, yang mendorong Ummat Islam agar memilih jalan tengah “Wasathan” dalam istilah Arabnya ?”.

R: “Tentu ! Karena dibalik perintah itu, ada janji Allah untuk menjadikan ummat Islam sebagai Ummat yang unggul jika mengikuti perintahnya. Jadi sikap moderat, toleran, dan melindungi ummat lain apapun suku, bangsa, dan agamnya, bukan saja membuat kita akan menjadi ummat yang unggul, prinsip ini terkait juga dengan janji Allah untuk menjadikan ummat Islam sebagai Rahmatanlilalamin. Sikap moderat dan toleran serta inklusif juga bisa menjadi indikasi rasa percaya diri, sementara sikap intoleran dan eksklusif sebagai indikasi inferior atau tidak percaya diri”

A: “Dengan Bahasa yang popular, bisakah Kau jelaskan makna kata Rahmatanlilalamin dalam Al Qur’an?”.

R: “Rahmatinlilalamin, maksudnya adalah Ummat Islam yang seyogyanya membawa kebaikan bagi alam semesta, bukan saja terhadap sesama ummat manusia, apapun suku atau rasnya, dan apapun agamnya, juga hewan, tumbuhan, daratan, lautan dan udara, secara keseluruhan.

A: “Islam wasatiyah, Islam Tengah, yang moderat dan toleran, sering dikaitkan dengan sikap lemah atau kalahan, bagaimana pendapatmu?”.

R: “Justru sebaliknya, merupakan sikap unggul sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan Khalifahurasyidin. Sikap ini menunjukkan sikap percaya diri atas keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut, bukan sikap ektrim atau emosional yang menggambarkan inferioritas dalam menghadap komunitas lain.”

(Bersambung)

Sebuah novel oleh Muhammad Najib, Duta Besar Kerajaan Spanyol dan Pendiri ICRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *