by

Di Beranda Istana Alhambra (25 – Jejak Al Muwahidun di Andalusia)

-Opini-39 views

Oleh: Dr Muhammad Najib

Kisah Al Muwahidun berawal dari seorang ulama bernama Ibn Tumart yang berasal dari Kabilah Masmuda yang merupakan bagian dari Suku Berber yang hidup di pegunungan Atlas di Maroko bagian Selatan.

Ibn Tumart sempat menimba ilmu di Andalusia, kemudian melanjutkan studinya ke Bagdad.

Di Bagdad Ibn Tumart mendalami Theologi Al Ash’ariyah dan pengaruh Al Ghazali sangat kuat pada dirinya.

Ibnu Tumart sangat ketat memegang prinsip Tauhid. Karena itu ia memilih nama gerakkannya: Al Muwahidun yang arti harfiahnya adalah “Pengikut Tauhid”.

Setelah kembali dari Bagdad, ceramah-ceramahnya dinilai kontroversial karena mengkritisi banyak hal dari kehidupan masyarakat yang sudah dijalaninya turun-temurun.

Ibnu Tumart juga tidak segan menyerang penguasa Al Murabitun yang dinilainya terlalu toleran dan kompromis dalam berbagai kebijakannya. Akibat dari sikap radikalnya, Ibnu Tumart kemudian terusir dari komunitasnya di Bejaia.  Ia kemudian mendirikan tenda di luar kota, di suatu tempat bernama Mellala.

Di tempat pengasingannya ini, Ibn Tumart didatangi oleh Al Bashir yang dikemudian hari menjadi ahli strateginya, dan Abd Al Mu’min Al Gumi yang dikemudian hari menjadi penerusnya.

Pada tahun 1120 M, Ibn Tumart mendeklarasikan Negara Berber di Tinmel yang merupakan daerah pegunungan Atlas. Ibn Tumart meninggal dunia pada 1130 M, dan posisinya digantikan oleh Abdul Mu’min. Pada tahun 1147 M, Al Muwahidun mengambilalih kekuasaan Al Murabitun, kemudian memindahkan pusat kekuasaannya ke kota Marakesh.

Dari kota Marakesh, Abdul Mu’min mendeklarasikan dirinya sebagai Khalifah yang mandiri. Dengan kata lain, ia melepaskan diri dari Khilafah di Bagdad, sekaligus membedakannya dari Al Murabitun yang sebelumnya menempatkan dinastinya sebagai bagian dari Khilafah di Bagdad.

Pada tahun 1159 M, Al Muwahidun sudah menguasai seluruh wilayah bekas kekuasaan Al Murabitun di wilayah Afrika Barat Laut, bahkan memperluasnya ke Timur, melingkupi seluruh wilayah Afrika Utara sampai ke perbatasan Mesir.

Baca juga  Kementerian PUPR Lakukan Uji Beban Jembatan Permanen Wai Kaka

A: “Apa kesamaan dan perbedaan antara Al Murabitun dan Al Muwahidun ?”, Aku bertanya pada Iqbal”.

I: “Persamaannya; Pertama, sama-sama berasal dan bertumpu pada kabilah-kabilah Berber. Kedua, sama-sama puritan dan kaku dalam memahami ajaran agama. Perbedaannya, Al Muwahidun lebih puritan”.

A: “Maksudnya, Al Muwahidun lebih rigid dalam pemahaman keagamaannya, membuatnya lebih tidak toleran kan ? Atau Lebih ektrim kan ?”, kataku untuk menegaskan.

I: “Janganlah gunakan istilah-istilah itu, karena istilah yang Kau gunakan berkonotasi negatif. Kita harus bisa menghargai konstribusi setiap kelompok yang berjasa terhadap perjuangan Islam”.

Baca Juga: Di Beranda Istana Alhambra (24 – Jejak Al Murabitun di Andalusia)

A: “Menghargai adalah satu hal, tetapi mengkrisi adalah hal lain sebagai upaya kita mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu, agar dalam menghadapi masalah saat ini dan dalam mengamalkan ajaran Islam kedepan, Kita tidak terus mengulang-ulang kesalahan yang pernah dilakukan para pendahulu. OK ! Sekarang bagaimana kelanjutan ceritanya hingga Al Muwahidun menguasai Andalusia ?”.

I: “Dengan direbutnya Ibukota Marakesh, maka wilayah kekuasaan Al Murabitun di Andalusia tercerai-berai, ibarat anak ayam kehilangan induk,  kemudian kembali menjadi taifah-taifah atau emirat-emirat yang kecil-kecil, sehingga menjadi lemah dan mudah diadu-domba.

Tahun 1212 M, saat Muhammad III, dari Dinasti Al Nasriyah dikalahkan oleh aliansi Kerajaan Kristen Castile, Aragon, dan Navarre, pada Perang Las Navas de Tolosa di Sierra Morena, yang menyebabkan wilayah kekuasaan Muslim di Andalusia ini tergerus, mendorongnya untuk menyebrang ke Andalusia.

Pada tahun 1146 M, Al Muwahidun sudah menguasai seluruh Andalusia, mereka kemudian memindahkan ibukotanya ke Sevilla. Sampai saat ini masih bisa dilihat peninggalannya dalam bentuk Istana Al Muwarak yang kini disebut Alcazar oleh orang Spanyol. Mereka juga membangun Masjid yang menaranya kini masih bisa dilihat yang disebut dengan Giralda pada 1184 M.

Saat kekuasaan Al Muwahidun beralih  dari Al Mu’min ke tangan Abu Yacob Yusuf, keluar perintah untuk mengusir penduduk Yahudi dan Nasrani, sehingga mereka mengungsi ke Portugal, Castile,  dan Aragon.  Abu Yacob kemudian mendapatkan gelar Al Mansur karena berhasil mengalahkan Raja Castile Alfonso VIII dalam Perang Alarcos pada 1195 M.

Pada tahun 1212 M, Muhammad Al Nasir yang menjadi penerus Al Mansur mengobarkan Jihad melawan Kristen untuk memperluas wilayahnya di Andalusia ke Utara, berhadapan dengan koalisi Kerajaan Kristen: Castile, Aragon, Navarre, dan Portugal, pada perang Las Navas de Tolosa di Sierra Morena. Al Muwahid harus menelan pil pahit dan menderita kekalahan besar, dan Sang Khalifah gugur.

Al Nasir kemudian digantikan oleh putranya yang masih berusia sepuluh tahun bernama Yusuf II bergelar Al Mustansir.

Pada saat ini secara de facto kekuasaan berada di tangan keluarganya, yang kemudian bernegosiasi terus-menerus dengan kerajaan Kristen di sekitarnya. Karena posisinya lemah, membuat Dinasti Al Muwahidun harus membayar upeti kepada kerajaan-kerajaan Kristen di sekitarnya agar tidak diserang.

Akibat pengelolaan kerajaan yang tidak bagus, dan rakyat semakin menderita, Al Muwahidun mengalami perlawanan dari dalam. Pada tahun 1215 M, muncul pemberontakan dari Marinids yang merebut sebagian wilayah Al Muwahidun di Afrika. Kemudian pada tahun 1224 M, Sang Khalifah Muda meninggal, konon akibat kecelakaan yang tidak bisa dikonfirmasi.

Puncaknya, ibukotanya Sevilla jatuh ke tangan Portugal pada tahun 1247 M. Khilafah Al Muwahidun yang sudah tidak berdaya berakhir ditandai dengan terbunuhnya Idris Al Wathiq sebagai Khalifah terakhir oleh seorang budak pada tahun  1269 M.

Baca juga  Waspadai Hujan Disertai Petir di Sebagian Jakarta pada Selasa

A: “Menurutmu apa kesalahan yang dilakukan Al Muwahidun sehingga tidak berusia panjang, meskipun Kau nilai berjasa ?”, Aku kembali bertanya dengan nada tinggi.

I: “Karena penerus Al Mansur masih muda dan belum siap menerima  tongkat estafeta ayahnya”.

A: “Hanya itu ?”.

I: “Terjadi intrik diantara para petinggi di Istana yang membuat sebagian besar kebijakan Kerajaan lebih berorientasi pada interes pribadi, keluarga, atau kelompok”.

A: “Hanya itu ?”, Aku terus mengejar.

I: “Menurutmu apa ?”, Iqbal balik bertanya dengan nada yang tidak kalah tinggi.

A: “Menurutku, akibat ideologinya yang tidak toleran”.

I: “Apa hanya itu ?”, Iqbal balik mengejar.

A: “Intoleransi terbuka dalam bentuk pengusiran, menyebabkan eksodusnya penganut Yahudi dan Nasrani meninggalkan Kerajaan Islam menuju kerajaan-kerajaan Kristen di sekitarnya. Hal ini menjadi amunisi tambahan bagi kerajaan Kristen, karena diantara mereka pasti tidak sedikit merupakan sumber daya unggul, disamping jumlah penduduknya yang semakin besar. Pada saat itu, jumlah penduduk sangat mentukan disamping kualitasnya”.

I: “Buktinya, Al Mansur dan putranya bukan saja bisa bertahan dari berbagai bentuk serangan kerajaan Kristen, juga dapat memperluas kekuasaannya walaupun tidak signifikan”.

A: “Kalau dilihat sebagai hubungan sebab-akibat secara langsung pendapatmu benar, akan tetapi jika dilihat dalam rentang yang panjang jelas pendapatmu salah”.

I: “Melihat sejarah tidak bisa dilihat dengan kacamata ‘Hitam-Putih’ atau ‘Benar-Salah’. Setiap pendapat harus diuji kesahihannya. Karena itu, lebih baik dikatakan bahwa antara Kau dan Aku berbeda pendapat, atau sepakat dalam ketidak sepakatan”.

A: “Setuju kataku, sambil mengulurkan tangan”. Iqbal menyambutnya dengan menggenggam tanganku, kemudian memeluk tubuhku dengan sangat erat.

(Bersambung)

 

Sebuah novel oleh Muhammad Najib, Duta Besar Kerajaan Spanyol dan Pendiri ICRP

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed