Di Beranda Istana Alhambra (20 – Toledo Menjadi Gerbang Renaissance)

Opini354 Views

Oleh: Dr. Muhammad Najib

Toledo dalam rentang waktu yang panjang berada dalam pengaruh kekuasaan Romawi. Saat Romawi mulai meredup, sebuah bangsa keturunan Jerman bernama Visigoth mengambil alih kendali wilayah Iberia yang berada di Eropa Barat Daya, dan mengendalikan wilayah kekuasaannya dari kota Toledo.

Tahun 711 M, Tariq bin Ziyad dan pasukannya menyeberang dari Afrika Utara melewati Selat sempit Gibraltar menuju Iberia yang kini bernama Spanyol dan Portugal. Pasukan Tariq kemudian di hadang oleh Pasukan Roderic di Guadelete.  Tariq dan pasukannya tidak terbendung, kemudian terus merangsek sampai merebut Ibukota Toledo.

Sejak saat itu, Toledo yang sebelumnya hanya dihuni oleh Komunitas Yahudi dan Nasrani, kini hadir ummat Islam. Kota ini tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan sekaligus menjadi simbol kemajuan peradaban, di saat masyarakat Eropa  masih tertinggal atau terkebelakang, sehingga disebut dalam sejarah sebagai “Masa Kegelapan”.

Whatsapp Image 2022 01 25 At 5.09.32 Am - inilah.com
Sinagog 

Di bawah penguasa Muslim, hubungan komunitas Yahudi, Nasrani, dan Islam sangat harmonis. Sinagog, Gereja, dan Masjid, berdampingan, di sebuah kota yang untuk ukuran sekarang sangat kecil. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Toledo juga menjadi pusat kegiatan ekonomi, Pendidikan, serta pusat kegiatan seni, terutama seni musiknya.

Setelah Tariq berhasil menaklukan wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Andalusia ini, Tariq dan komunitas Berber yang dipimpinnya, sangat berharap ditugasi untuk mengendalikan kota yang sebelumnya digunakan sebagai pusat pemerintahan oleh Visigoth. Akan tetapi Musa bin Nusyair yang menjadi atasannya tidak setuju. Untuk menyelesaikan perbedaan ini, mereka berdua yang sangat berjasa menaklukkan wilayah ini kemudian ke Damaskus untuk meminta nasehat Khalifah sebagai penguasa tertinggi.

Whatsapp Image 2022 01 25 At 5.09.30 Am (1) - inilah.com

A: “Apa alasan Tariq menginginkan Kursi yang sebelumnya diduduki oleh Raja Roderic ?”, Aku bertanya pada Iqbal.

I:  “Istananya sangat mewah, kekayaan yang ditinggalkannya yang lazim disebut sebagai ganimah atau pampasan perang berlimpah, wilayahnya sangat subur jauh lebih subur dari Afrika Utara yang menjadi tempat asal Tariq dan sukunya. Akan tetapi lebih dari itu, menjadi penguasa di wilayah ini tentu sangat prestisius. Keinginan Tariq dan sukunya itu tentu sangat wajar sebagai bagian dari pengakuan pemerintah Pusat di Damaskus atas prestasinya.

A: “Lalu apa yang membuat Musa keberatan ?”.

I: “Sebagai seorang politisi senior, tentu Musa punya banyak kalkulasi yang tidak banyak dijelaskan dalam banyak buku sejarah. Akan tetapi, jika kita mau berspikulasi maka bukan mustahil Musa sangat khawatir bila saat itu Andalusia diserahkan kepada Tariq dan sukunya, dikhawatirkan mereka akan melepaskan diri dari pemerintah pusat di Damaskus”.

A: “Apa yang menyebabkan Kau berpendapat seperti tiu ?”.

I: “Suku Berber merupakan suku asli yang hidup di wilayah Afrika Utara merupakan suku yang berbeda dengan Arab yang dianggap sebagai pendatang. Selain itu, suku Berber baru masuk Islam setelah wilayahnya ditaklukan bangsa Arab, yang belum berlangsung lama. Dengan demikian sangat wajar jika Musa meragukan loyalitasnya”.

Khalifah kemudian memihak pada Musa, membuat Tariq dan sejumlah orang dekatnya dari suku Berber sangat kecewa. Apalagi ada kesan, ditolaknya keinginan mereka sebagai bagian dari hukuman, karena Tariq dan sukunya telah mengambil sebagian kekayaan Roderic sebagai bagian dari pampasan perang tanpa persetujuan Damaskus.

Walaupun Tariq dan para komandan lapangannya dari Suku Berber tetap diberikan hadiah, yang untuk ukuran waktu itu sangat besar, akan tetapi tidak membuatnya terhibur. Kekecewaan inilah yang tampaknya membuat Tariq tidak pernah kembali ke Andalusia.

A: “Apakah penolakan Musa dan Khalifah cukup beralasan ?”.

!: “Tergantung dari sisi mana melihatnya! Dalam sejumlah diskusi yang terdokumentasi, masalah ini selalu menimbulkan pro-kontra. Jadi tidak ada kesimpulan yang bulat”.

A: “Sebagai sejarawan, bagaimana pendapat pribadi Anda ?”.

I: “Di sinilah awal mula retaknya hubungan antara Arab dan Berber, yang dikemudian hari muncul berbagai pemberontakan dari kelompok Berber melawan Dinasti Bani Umayyah yang didominasi etnis Arab. Lebih dari itu, Musa menugaskan anak kandungnya yang bernama Abdul Aziz untuk mengendalikan Toledo dan sekitarnya.”

A: “Jawabanmu tetap bersayap”.

I: “Memang!  Karena masalahnya sangat kompleks, disamping ada alasan rasional, juga bukan mustahil ada conflict of interest pada diri Musa. Akan tetapi, kita tidak boleh gegabah, karena rangkaian peristiwa di dalam sejarah juga mengikuti  hukum sebab-akibat dari berbagai variable yang menjadi penyebab, dan keputusan yang diambil waktu itu hanyalah satu variable saja, yang mengakibatkan berbagai peristiwa yang menyusulnya langsung maupun tidak langsung”.

A: “Jadi kesimpulannya ?”.

I: “Agar jangan menyederhanakan masalah atau agar terhindar dari spekulasi yang berlebihan, itulah pentingnya penelitian sejarah yang lebih spesifik dan lebih rinci”.

A: “Masuk itu barang !”.

I: “Maksudnya ?”.

A: “Kau ingin mengatakan bahwa ilmu sejarah itu penting kan ?”.

I: “Semua orang harus meyakini, bahwa dunia yang digelutinya itu penting!”, kata Iqbal sambil tersenyum.

A: “Kalau boleh Aku berspekulasi, sekiranya Tariq diangkat menjadi penguasa di Toledo, mungkin persatuan Ummat akan tetap terjaga”.

I: “Belum tentu, bagaimana menjelaskan berbagai pemberontakan yang dimotori oleh etnis Berber ? Juga Toledo beberapa kali dikendalikan oleh berbagai kabilah yang berbeda yang berasal dari suku Berber melalui proses adu senjata”.

A: “Ada argumen lain ?”.

I: “Alasan solidaritas atas persaudaraan Muslim saja tidak cukup kuat untuk menyatukan mereka, karena terbukti Penguasa Muslim di Toledo, dalam perlawanannya terhadap pemerintah Andalusia yang berkedudukan di Cordoba, tidak jarang meminta bantuan dari tetangga-tetangga Kristen yang berada di wilayah Utara. Jadi, sekali lagi, kekuasaan itu punya logikanya sendiri”.

A: “Berarti para penguasa di Andalusia pada waktu itu tidak ideal”.

I: “Tidak bisa dikatakan demikian!  Karena semua berpulang pada orang-perorang. Diantara mereka ada penguasa yang berasal dari Suku Berber yang baik dan sukses, ada pula yang buruk dan gagal. Begitu pula yang berasal dari etnis Arab tidak semuanya baik. Terkadang apa yang tidak kita inginkan justru memberikan pengaruh positif”.

A: “Pengaruh positif ?”.

I: “Munculnya hubungan harmoni diantara kelompok etnis ataupun agama yang berbeda yang hidup di Toledo tumbuh karena masalah politik dan pergantian penguasa oleh masyarakat ditempatkan sebagai wilayah di luar mereka yang menjadi urusan elite, sedangkan masyarakat membangun solidaritasnya sendiri untuk survive.

Saat Andalusia masih di bawah Dinasti Bani Umayyah sebagai dinasti yang paling stabil dan paling lama berkuasa, terjadi pemberontakan berkali-kali dari wilayah ini, sebagian diselesaikan dengan senjata, akan tetapi tidak jarang diselesaikan secara politik, dalam arti negosiasi, kompromi, lalu diadakan perjanjian damai.

Begitu juga saat Raja Alfonso VI yang berkuasa atas wilayah Castilia, Leon, dan Galicia mengambil-alih kendali wilayah ini pada tahun 1085 M. Raja Alfonso yang mencintai ilmu, bukan saja tetap menjaga suasana harmonis masyarakatnya yang beragam, akan tetapi mempekerjakan mereka yang berilmu apapun etnis maupun agamanya. Karena itu banyak sekali bangunan-bangunan baru tetap bercorak arsitektur Arab dan Islam. Orang-orang Muslim yang bekerja untuk penguasa Kristen saat itu dikenal dengan sebutan “Mudejar”.

Yang lebih fenomenal, Alfonso membuat program besar-besaran penerjemahan buku dari Bahasa Arab ke Bahasa Latin, dengan mempekerjakan ilmuwan Islam dan Yahudi, disamping para ilmuwan Kristen. Buku-buku warisan penguasa Muslim yang sudah diterjemahkan ini, kemudian disebarkan ke seluruh Kawasan Eropa. Buku-buku ini kemudian diterjemahkan lagi kedalam berbagai Bahasa lokal di Eropa.

Whatsapp Image 2022 01 25 At 5.09.30 Am - inilah.com

Para mahasiswa dari berbagai negara Eropa juga datang secara masif untuk menuntut ilmu ke wilayah ini. Tampaknya, Alfonso VI meniru apa yang dilakukan oleh Khalifah Harun al Rasyid yang dilanjutkan oleh putranya Al Makmun yang membuat Baitul Hikmah di Bagdad, pada akhir Abad ke-8 M. Dengan kata lain, mereka meniru apa yang dilakukan penguasa Muslim di Bagdad tiga abad sebelumnya.

Keberhasilan Alfonso dilanjutkan oleh penerusnya, sehingga Toledo menjadi gerbang ilmu pengetahuan yang kemudian menerangi negara-negara Eropa. Sejak saat itu Toledo tetap di tangan penguasa Kristen, dengan politik yang stabil dan masyarakat yang harmoni terus melakukan perannya sampai munculnya era Renaissance pada abad ke-15 M dan mencapai puncaknya pada abad ke-17 M.

(Bersambung)

 

Sebuah novel oleh Muhammad Najib, Duta Besar Kerajaan Spanyol dan Pendiri ICRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *