by

Dhitta Puti: Guru Harus Menerapkan Lima Corak Pendidikan yang Berdasarkan Pancasila

Kabar Damai I Rabu, 2 Juni 2020

Jakarta I kabardamai.id I Pendidikan karakter secara formal adalah pendidikan yang sistematis dan terencana untuk mendidik, memberdayakan, dan mengembangkan peserta didik agar dapat maksimal dalam membangun karakter secara pribadi. Sehingga, individu dapat tumbuh menjadi individu yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bangsa, dan negara.

Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang ditujukan untuk memberi bimbingan dalam hidup, tumbuhnya jiwa raga anak agar bawaan lahiriah setiap individu dan pengaruh lingkungannya membuat pribadi mereka menuju adab kemanusiaan. Maksudnya adalah pendidikan diperuntukan untuk membentuk manusia agar menjadi beradab dan memanusiakan manusia

Doni Koesoema, Pemerhati Pendidikan dan Anggota BSNP, berpandangan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk membangun dan membentuk penyempurnaan diri secara komprehensif, guna membentuk kemampuan diri individu.

“Pendidikan karakter itu yaitu intervensi sosial dalam Pendidikan anak agar anak mempunyai moral yang baik, Kalau bicara keindonesiaan maka kita bicara secara universal yaitu kemanusiaan. Nilai moral ini adalah nilai yang mempersatukan di tengah perbedaan, karenanya semua agama harus mendukung pendidikan karakter ini,” terang Doni dalam Diskusi Hari Lahir Pancasila bersama Yayasan Cahaya Guru, Selasa (01/06/2021).

Pendidikan karakter beda dengan Pendidikan agama, pendiddikan karakter adalah bagaimana kita bersikap ditengah perbedaan. Pendidikan karakter penting karena proses belajar yang dilakukan di sekolah bukan hanya untuk pengetahuan tapi juga sikap.

“Dalam konteks ini maka berbeda dengan kurikulum 2013 karena seharusnya sikap dan pengetahuna tidak boleh dipisah, karena Ketika seorang belajar maka akan belajar pengetahuan dan sikap secara bersamaan,” lanjutnya.

Baca Juga: Gerakan Gotong Royong Bangun SDM Indonesia Unggul Melalui Guru Penggerak

Pendidikan sikap tidak bisa dibatasi ruang kelas, namun bisa diimplementasikan dalam kelas.  Dalam proses pedidikan secara utuh dia harus memiliki pengalaman belajar materi, dan pengalaman bagaimana dia belajar sebagai manusia.

Lebh lanjut Doni menegaskan “yang diolah adalah pengalamannya, baik di dalam maupun diluar kelas. Disinilah pentingnya Pendidikan karakter agar manusia bisa tumbuh secara utuh, dan membaktikan hidupnya kepada nilai pancasila dan keagamaan. Sehingga nilai Pancasila dan agama  menjadi bagian satu sama lain.”

Menurut Doni yang menganut agama Katolik, Kekatolikan dan Indonesia dirinya  tidak bisa dipisahkan karena niliai- nilai katolik dalam dirinya diwujudkan dalam kehidupan keindonesiaannya secara pribadi. Seingga Pendidikan keagamaan dan karakter keduanya tidak bisa dipisahkan.

“Kita berkumpul sebagai warga negara Indonesia, kita lahir sebagai WNI. Katakan Pancasila adalah dasar, maka Pancasila adalah dasar masyarakat Indonesia dalam berperilaku, dan mereka terikat dengan Pancasila. Ketika seseorang lahir di Indonesia maka yang muncul adalah ke Indonesiannya, barulah atribut lain masuk, contoh saya lahir sebagai WNI dan agama saya katolik,” beber Doni.

Siapapun yang ada di Papua dia lahir sebagai WNI yang memiliki kultur berbeda. Dalam konteks ke Indonesiaan konflik etnis tidak boleh terjadi. Jadi kita harus menenamkan prinsip  Indonesia dulu, baru kepercayaan dan budaya tertentu. Indonesia menyatukan kita, sehingga Pancasila menjadi fondasi dan menjadi landasan negara.

Doni juga menenrangkan bahwa seorang guru ketika memberikan pengalaman belajar mereka harus mengajak berefleksi, dalam setiap pembelajaran dan perlu menananamkan satu nilai Pancasila, cukup satu nilai saja.

“Nilai-nilai seperti kemandiriian, disiplin, tepat waktu boleh kita terapkan, tapi yang utama dalam Pendidikan karakter adalah nilai moral universal, yaitu menghormati budaya, kepercayaan, dan prinsip berbuat baik terhadap sesame. Jadi harus lebih dalam yang ditanamkan dalam pembelajaran.”

Boleh kita menerapkan Pendidikan untuk tepat waktu, tetapi hal yang seperti itu bersifat sangat individual. Padahal dalam Pendidikan karakter yang utama adalah  nilai moral yang artinya bagaimana berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Maka cukup satu nilai dalam pembelajaran yang kemudian dari awal sampai akhir di refleksikan.

Dhitta Puti Sarasvati, Dosen Universitas Sampoerna sekaligus Koordinato Gernas Tastaka juga menambahkan, apapun pelajarannya seorang guru harus menghargai manusia seagai makhluk tuhan yang berharga. Seorang guru harus menerapkan lima corak Pendidikan yang berdasarkan Pancasila.

“Yang pertama Ketuhanan yaitu, memperlakukan manusia istimewa karena manusia ciptaan tuhan yang terhormat, sehingga guru harus hormat pada siswa sendiri. Guru dihormati karena guru adalah manusia, sehingga manusia saling menghormati, guru dan siswa harus saling menghormati, bukan hanya siswa yang menghrmati,” tambah Dhitta.

Kemudian sejalan dengan Pancasila sila-ke 2 yaitu, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, pendidikan itu sifatnya manusiawi, manusia sebagai subjek bukan objek sehingga pendapatnya murid atau siswa itu penting dan harus didengarkan.

Lalu Persatuan Indonesia, artinya seorang guru dan siswa harus berwawasan kebangsaan dan menumbuhkan karakter kebangsaan, sebelum berbicara kebangsaan kita jadi orang Indoneesia dulu. Berwawasan kebangsaan adalah membangun kehidupan yang manusisawi antar sesame bangsa Indonesia. Pada akhirnya kita saling menghargai semua latar belakang.

“Sila ke-4 kerakyatan adalah dasarnya Pendidikan Indonesia harus demokratis dengan adanya dialog, musyawarah, di kelas harus ada perbedaan pendapat,  guru tidak boleh merasa paling benar itu adalah budaya demokratis. Jangan samapai guru mendoktrin untuk dirinya di hormati,” ungkap Dhitta lebih lanjut.

“Pendidikan juga harus berdasarkan keadilan dan perwujudan dari keadilan sosial itu sendiri. Jangan sampai kita membedakan siswa. Selain itu juga keadilan merupakan corak yang harus dibahas secara komunis dan sistemik.”

Di Indonesia sendiri belum terlaksana keadilan sosial, karena akses Pendidikan belum merata sehingga keadilan ini belum terwujud. Kita harus berupaya bergerak ke arah yang mendorong keadilan itu, sehingga setiap anak Indonesia terepenuhi haknya dan terbagi secara adil dan merata.

“Jadi apakah guru sudah memegang nilai Pancasila? Mengenal Indonesia artinya mengenal manusianya, mengenal Indonesia artinya mengenal perbedaan. Kunciya adalah dialog dan interaksi,” pungkas Dhitta.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed