by

Dewi Candraningrum: Penyebab Marital Rape Karena Adanya Dominasi dan Desonansi

-Kabar Puan-31 views

Kabar Damai I Selasa, 05 Oktober 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Salah satu tahapan dalam berhubungan antar individu adalah ikatan pernikahan. Ikatan ini merupakan ikatan yang sakral dimana mengikat dua individu dengan penuh perbedaan menjadi satu. Melalui pernikahan pula, hak sebagai seorang suami dan istri diatur berdasarkan pada agama dan hukum negara sehingga komitmen yang telah dibuat tidak begitu saja dapat dilanggar satu diantaranya.

Dalam ikatan pernikahan, tentu sebaiknya tidak ada dominasi berlebih diantara satu pasangan yang ada. Kesetaraan dalam pernikahan akan membuat rumah tangga lebih harmonis dan menjadikan ikatan lebih bahagia.

Namun, faktanya hal serupa masih belum dilakukan oleh seluruh pasangan yang telah terikat dalam ikatan tersebut. Laki-laki masih saja kerap dianggap yang paling kuat dan juga benar sehingga apapun keputusannya selalu dijadikan pilihan, sedangkan perempuan hanya menerima hasil keputusan yang ada.

Fakta lain menunjukkan bahwa masih banyak anggapan yang menyatakan bahwa sebagai kepala keluarga, laki-laki memiliki tugas utama untuk bekerja dan memberikan nafkah lahir dan batin, sedangkan istri hanya bertugas melayani suami meliputi tugas domestik dan juga urusan ranjang semata.

Pola patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai sosok paling benar tentu bukanlah suatu hal yang dapat dibenarkan seutuhnya. Terlebih, melalui dominasi yang ada dapat menjadikanya semena-mena dan berdampak buruk dalam ikatan pernikahan yang ada tersebut. Kini, salah satu masalah yang kerap didengar ialah tentang marital rape.

Europe Institute for Gender Equality (EIGE) menuliskan bahwa marital rape adalah penetrasi vagina, anal, atau oral yang bersifat non-konsensual pada orang lain, dengan bagian tubuh atau objek apapun serta tindakan non-konsensual lainnya yang bersifat seksual oleh pasangan dalam ikatan perkawinan.

Hal serupa dijelaskan USLegal yang menyatakan bahwa marital rape adalah tindakan seksual yang tidak diinginkan oleh pasangan yang dilakukan tanpa persetujuan yang biasanya dilakukan dengan kekerasan, ancaman, kekerasan serta intimidasi ketika persetujuan untuk berhubungan seks dihentikan.

Baca Juga: Melanggengkan Patriarki Juga Merugikan Laki-Laki

Dewi Candraningrum, dosen sekaligus penggerak Studio Jejer Wadon menyatakan bahwa perilaku tersebut ialah tindakan yang melanggar.

“Kita lihat mengapa pemerkosaan dalam pernikahan itu ada karena dilanggarnya hak kesehatan reproduksi seksual wanita salah satunya adalah mendapatkan relasi seksual, ketika relasi seksual itu tidak membahagiakan berarti itu telah melanggar,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa marital rape disebabkan karena adanya dominasi dan juga desonansi. Adapun ciri-cirinya antara lain:

  • Ancaman psikologis hingga pemerkosaan terjadi,
  • Hubungan seksual yang dipaksa,
  • Hubungan seksual dengan kekerasan,
  • Hanya diperkosa tanpa hal lain dengan menyebabkan depresi luar biasa,
  • Pemerkosaan akibat gangguan jiwa dari pelaku.

Lebih jauh, Dewi juga memaparkan bahwa dominasi ini kerap dilakukan oleh laki-laki dengan berbagai hal tertentu yang terjadi pada dirinya.

“Biasanya pelaku adalah laki-laki atau suami dengan kepercyaan diri sangat rendah, adanya reproduksi kekerasan dalam diri laki-laki, toxic hypermasculinity, lebih sering pada pasangan dengan status ekonomi dan kekuatan psikologis yang lebih rendah,” imbuhnya.

Lebih jauh, menurut Dewi marital rape dapat menyebabkan dampak tidak baik bagi korban dan juga pelaku. Oleh karenanya, keduanya perlu mendapatkan konseling.

“Dampak bisa berupa depresi, trauma, kepercayaan diri yang rendah, membenci diri sendiri, hingga homicide. Penanganannya bisa dengan jalur hukum tetapi sebelum ituperlu dilakukan konseling untuk memutus kekerasan yang dilakukan pelaku dan memutus kekerasan yang dirasakan korban,” terangnya.

Marital Rape, Tradisi yang Sulit Dihilangkan

Persoalan tentang marital rape juga menarik perhatian Tengku Vriska, ia yang merupakan salah satu penggagas Gerakan Perempuan Pontianak (GPP) menyatakan bahwa korban yang terkena marital rape sebenarnya dapat melaporkan pada pihak terkait karena sudah ada paying hukumnya.

“Sebenarnya sudah ada payung hukumnya dalam pasal 53 mengenai kekerasan dalam rumah tangga,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, marital rape sulit dihilangkan karena seolah sudah menjadi tradisi yang ada sejak lama dan dinormalisasi.

]”Memang banyak yang menormalisasinya dengan norma pernikahan yang secara tidak sadar masyarakat melupakan bahwa kekerasan rumah tangga tidak hanya tentang kekerasan fisik dan psikis tetapi juga hubungan seksual. Hal ini emang masih cukup sulit karena adanya tradisi yang masih sulit dihilangkan,” bebernya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed