by

Desa Piplantri Merayakan Kelahiran Anak Perempuan dengan Menanam 111 Pohon

Kabar Damai | Selasa, 23 Maret 2021

 

India | kabardamai.id | Tanpa mengabaikan berbagai budaya yang menghormati perempuan, stereotip bahwa anak perempuan, termasuk perempuan dewasa, lebih rendah dibandingkan anak laki-laki masih berkembang di berbagai budaya di dunia, salah satunya di India.

Diolah dari informasi yang diterbitkan Bbc.com (22/3), Dusun Piplantri, barat laut India, merupakan salah satu desa di India yang meyakini stereotip tersebut sejak lama. Bahkan termasuk perempuan dewasa yang kemudian menjadi para ibu juga akan lebih senang jika melahirkan anak laki-laki.

 

Sebuah permulaan kecil

Seperti di sebagian besar daerah di India, anak perempuan di sini dipandang sebagai beban finansial keluarga dan diremehkan dibandingkan dengan anak laki-laki, yang biasanya membantu orang tua menghasilkan uang.

Pandangan tersebut kemudian berubah ketika Kepala Desa, Shyam Sunder Paliwal, pada 2007, kehilangan putrinya (17 tahun) akibat dehidrasi. Dusunnya mengalami kekeringan akibat pertambangan marmer di wilayah itu telah menggunduli perbukitan pada 2005 ketika Paliwal menjadi kepala desa.

Merasakan kesedihan yang mandalam mendorong Paliwal ingin mengabadikan ingatan tentang anaknya. Ia dan keluarganya kemudian menanam pohon di dekat pintu masuk desa dan mencantumkan nama mendiang putrinya di dekat sebuah pohon.

Paliwal kemudian berpikir, “mengapa tidak menjadikan ‘ritual’ yang ia lakukan menjadi program yang lebih luas? Jika kita bisa melakukannya atas nama seorang anak perempuan, mengapa tidak melakukannya untuk semua anak perempuan yang lahir? Selain itu, ini dapat sekaligus melakukan penghijauan tanah yang kering.”

Ia pun melaksanakan programnya dan tak lama setelahnya, penduduk desa lainnya mulai mengikuti jejak Paliwal. Hingga kini, setiap kali seorang anak perempuan lahir di Piplantri, penduduk desa menanam 111 pohon untuk menghormati anak perempuan itu dan untuk meregenerasi lingkungan. Angka tersebut merupakan angka keberuntungan bagi umat Hindu setempat.

‘Ritual’ tersebut membuat dusun Piplantri berhasil menumbuhkan lebih dari 350.000 pohon, mulai dari pohon mangga dan gooseberry hingga kayu cendana. Tanaman itu tumbuh di tanah yang dulunya tandus, yang luasnya mencakup sekitar 1.000 hektar.

Ide Paliwal yang sukses ini kemudian menjadi contoh program penghijauan lingkungan di India dan gerakan eko-feminisme yang lebih luas.

Ide ini juga kemudian berkembang ke arah yang lebih prospektif. Selain dengan menanam pohon, orang tua dengan anak perempuan juga menandatangani pernyataan tertulis yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menikahkan putri mereka sebelum berusia 18 tahun dan akan membiarkan mereka menyelesaikan sekolah.

Penduduk desa juga ikut serta membuka rekening deposito tetap untuk setiap anak perempuan sebesar 31.000 rupee (Rp 6,1 juta). Setiap anak perempuan mereka dapat mengakses tabungan itu setelah mereka berusia 18 tahun untuk keperluan pendidikannya atau untuk meringankan biaya pernikahannya.

Selain itu, setiap bulan Agustus selama musim hujan, penduduk Piplantri khusus mengadakan upacara penanaman pohon untuk semua anak perempuan yang lahir dalam 12 bulan sebelumnya.

Tak hanya tentang kelahira, penduduk desa juga menanam 11 pohon setiap kali ada yang meninggal. Semua penanaman dilakukan di atas tanah komunal yang tersebar di desa.

Paliwal memperkirakan bahwa sekitar ada 60 anak perempuan lahir setiap tahun di desa yang berpenduduk 5.500 orang ini.

Pohon-pohon yang tumbuh itu juga kemudian dihormati dan menjadi semacam simbol pengingat kehidupan mereka. Air pun melimpah. Lahan hijau ini juga kemudian menjadi strategi desa untuk memberikan sumber penghidupan bagi penduduknya.

Gadis-gadis dewasa yang memiliki pohon, yang ditanam atas nama mereka, datang untuk mengikat gelang rakhi di sekitar pohon yang muda dan menganggap mereka saudara kandung yang dihormati selama festival Raksha Bandhan.

Tak hanya itu, di salah satu bagian desa, pejabat desa didorong untuk bersumpah di pohon beringin untuk bekerja secara bertanggung jawab dan melindungi lingkungan.

Dengan banyaknya pohon yang tumbuh di Piplantri, permukaan air tanahnya ikut meningkat. Selain itu, perubahan lanskap dan cara pandang telah meningkatkan status perempuan di sana.

Nikita Paliwal (tidak ada hubungannya dengan Shyam Sunder Paliwa;), sekarang berusia 14 tahun, adalah salah satu anak perempuan pertama yang memiliki pohon atas namanya.

Ia bercita-cita menjadi seorang dokter dan bekerja untuk orang miskin. “Kita juga harus berdiri di atas kaki kita sendiri,” katanya.

Nanubhai Paliwal, bibi Nikita, mengungkapkan bahwa dia memiliki dua anak laki-laki. Namun, saat Piplantri mulai menghormati perempuan, dia mulai berdoa supaya mendapat cucu perempuan hingga ia mendapatkan dua cucu perempuan dan pohon ditanam saat mereka lahir.

“Tadinya mereka (anak perempuan) dianggap sebagai beban. Sekarang, menurut kami tidak seperti itu. Kami tak lagi berharap kami harus mendapat anak laki-laki. Ini adalah desa kecil.

Kami bekerja keras, kami menjadikannya istimewa dan dengan cara ini kami mendapatkan pekerjaan dan penghasilan juga,” ujarnya.

Baca juga: Peran Perempuan dalam Kelestarian Hutan Alam

Hubungan yang berkesinambungan antara manusia dan alam

Shyam Sunder Paliwal mengatakan, “Cara kami adalah menciptakan lapangan kerja melalui sumber daya alam. Kami telah mendirikan koperasi perempuan yang membuat produk dari lidah buaya, seperti jus, bahan makanan, dan gel, untuk dijual.”

Ke depannya, mereka berencana untuk mengembangkan produk yang terbuat dari buah gooseberry, bambu, dan madu, yang semuanya telah ditanam sebagai bagian dari upaya penghijauan desa.

Reboisasi yang berkesinambungan akan mengimbangi degadrasi yang dibawa oleh pabrik atau pertambangan yang dibangun.

“Semakin banyak tanaman hijau akan semakin menghasilkan lebih banyak hujan,” katanya.

Air hujan ditampung dengan mengarahkan limpasan air ke parit, tanggul, bendungan sehingga meningkatkan permukaan air tanah.

Di seberang desa, poster besar yang menunjukkan gambar sebelum dan sesudah, menjadi bukti transformasi Piplantri: dari desa yang kering dan coklat menjadi hijau.

Nimisha Gupta, Kepala Eksekutif badan pemerintahan lokal di distrik tersebut mengapresiasi yang dilakukan Paliwal dan desanya.

“Saya dapat melihat perbedaan besar antara tahun 2007-2008 dan sekarang. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana satu orang dapat mempengaruhi perubahan. Dan skema pemerintah, jika dilaksanakan dengan benar, bisa menghasilkan keajaiban. Tapi tidak semua desa memanfaatkan anggaran dengan baik. Piplantri menjadi contoh kesinambungan mendalam antara lingkungan dengan masyarakat.”

Pada 2018, pemerintah negara bagian Rajasthan mendirikan pusat pelatihan di Piplantri, yang menjadi model percontohan, untuk mengedukasi masyarakat terkait yang dilakukan di desa ini.

Para insinyur, pejabat, dan penduduk dari distrik lain yang mau belajar meniru model cara penampungan air dan penanaman pohon Piplantri berdatangan ke pusat pelatihan itu.

Secara terus menerus, sekitar 50 hingga 60 pengunjung akan datang ke Piplantri dan tinggal di sana selama beberapa hari. Kebanyakan dari mereka datang untuk menghadiri lokakarya di pusat pelatihan.

Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung, Piplantri kini memiliki rumah-rumah yang diperuntukkan untuk melayani para tamu.

 

“Banyak hal yang telah berubah”

Itu yang dikatakan Sangeeta Paliwal (tidak ada hubungannya dengan Nikita Paliwal atau Shyam Sunder Paliwal), seorang ibu dari puteri berusia dua tahun.

12 tahun lalu, setelah menikah, ia pindah ke Piplantri. Ia mengatakan bahwa ia dulu memilik akses pendidikan yang terbatas. Kini, ia menaruh harapan besar pada putrinya.

Ia bertekad agar putrinya harus berpendidikan dulu dan baru memikirkan pernikahan setelahnya. Kini semakin banyak anak perempuan yang bersekolah dibanding 10 tahun terakhir.

Sebelumnya, saat di desanya sendiri, Sangeeta biasa menutupi wajahnya (dengan sari dan tangannya) karena mengikuti praktik konservatif ghunghat (untuk kesopanan perempuan). Semenjak di Piplantri yang berubah, ia tidak lagi melakukannya. Ia meraih dan menikmati hak kebebasannya.

Di desa ini, ia bisa menyelesaikan gelar kuliahnya melalui pembelajaran jarak jauh. Dia bisa mengemudikan mobil, dan dia bahkan sudah mulai bekerja.

Perubahan kecil yang terus-menerus sungguh mampu menciptakan perubahan besar.

 

Penulis: Hana Hanifah

Sumber: BBC.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed