by

Demokrasi Lingkungan Hidup dan Keadilan Iklim dalam Pandangan Islam

Kabar Damai I Sabtu, 06 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sejak awal bulan November sampai dengan tanggal 12 November 2021, berbagai kalangan masyarakat di dunia internasional ikut serta memperhatikan perhelatan konferensi dunia mengenai krisis iklim atau yang sering disebut Conference of the Parties (COP) ke-26 yang saat ini diselenggarakan di Glasgow, Inggris. COP adalah pertemuan yang melibatkan sekitar 197 negara di dunia untuk membicarakan berbagai langkah strategis untuk menyelesaikan krisis iklim. COP bertemu setiap tahun, kecuali para pihak memutuskan sebaliknya. Pertemuan COP pertama diadakan di Berlin, Jerman pada bulan Maret 1995.

Parid Ridwanuddin, Dosen Universitas Paramadina Jakarta, menjelasakan alasan menapa isu krisis iklim dibicarakan oleh para pemimpin dunia setiap tahun, tetapi krisis iklim di planet bumi yang menjadi rumah kita terus memburuk? Pertanyaan ini penting menjadi refleksi kita Bersama. Di dalam laporan yang diterbitkan pada bulan agustus 2021 lalu oleh panel antar pemerintah tentang perubahan iklim (IPCC), disebutkan bahwa kondisi planet bumi dengan memburuk dengan indikator sebagai berikut:[3]

a. Suhu permukaan global 1,09C lebih tinggi dalam sepuluh tahun antara 2011-2020 dibandingkan 1850-1900.

b. Lima tahun terakhir adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850.

c. Tingkat kenaikan permukaan lautbaru-baru ini nyaris tiga kali lipat bila dibandingkan dengan tahun 1901-1971

d. Pemanasan ekstrem termasuk gelombang panas “hampir pasti” telah menjadi semakin sering terjadi dan semakin intens sejak 1950-an, sementara peristiwa pendinginan semakin jarang dan tidak terlalu parah.

Salah satu akar dari krisis iklim adalah kuatnya pandangan antroposentrisme yang sampai kini dianut dalam berbagai hal, termasuk dalam konsep demokrasi. Demokrasi yang dianut dan dipraktikkan di banyak negara di dunia perlu dikritik karena mengandung sejumlah kelemahan sebagai berikut, yaitu: pertama, demokrasi selalu dipahami sebagai kedaulatan manusia dengan slogan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

“Pandangan ini perlu dikoreksi karena alam tidak masuk di dalam konsep demokrasi. Hal ini penting dipertimbangkan karena rakyat atau masyarakat atau manusia tidak dapat hidup atau berdaulat tanpa topangan sumber daya alam yang memadai seperti pangan, air, dan udara.” terang Parid dalam khutbah salat Jumat virtual yang diselenggarakan oleh Public Virtue, Jumat (06/11/2021).

Baca Juga: Menjaga Keterbukaan dan Ruang Demokrasi di Tengah Pandemi

Kedua, dari sisi praktis, demokrasi telah mengalami reduksi, terutama dalam model demokrasi representatif. Ada banyak persoalan dalam hubungan antara yang mewakili dengan yang mewakili. Kecil kemungkinan seorang wakil rakyat bisa menyuarakan aspirasi para pemilihnya secara utuh. Pada praktiknya, kepentingan individu politisi atau kepentingan partai politik yang lebih dominan dari pada kepentingan rakyat. Berbagai deretan kasus korupsi baik di pusat maupun di daerah, menjaid bukti bahwa hubungan antara “wakil rakyat” dengan “rakyat yang diwakili” perlu dilihat kembali secara kritis.

Pada titik ini, Henryk Skolimowski, seorang filosof dari Polandia, pada tahun 2006 telah bagaimana mencari cara mempertahankan kekuasaannya daripada menerapkannya untuk kemaslahatan umum.

Dengan demikian, konsep demokrasi kita selama ini punya persoalan secara konseptual dan penerapannya karena tidak mempertimbangkan kedaulatan non manusia, dalam hal ini kedaulatan alam serta lebih mendorong pemegang kekuasaan lebih fokus bagaimana mencari cara mempertahankan kekuasaannya daripada menegakkan keadilan sosial-ekonomi dan keadilan sosial-ekologi. Persis disinilah kita perlu merumuskan cara pandangan baru mengenai demokrasi yang substansial dan tidak antroposentris.

“Demokrasi itulah yang kita sebut dengan demokrasi lingkungan hidup atau ekokrasi yang dapat mendorong keadilan iklim. Demokrasi lingkungan hidup atau ekokrasi adalah pengakuan terhadap (kekuatan) alam sekaligus pengakuan terhadap kehidupan (seluruh spesies dan keanekaragaman hayati) itu sendiri, mengobservasi kelemahan alam, mendesain dengan alam bukan melawan alam, membuat sistem yang berkelanjutan secara ekologis, penghormatan terhadap alam bukan penjarahan terhadap alam. Demikian definisi yang dikemukakan oleh Henryk Skolimowski,” beber Parid.

Bagaimana Islam melihat persoalan demokrasi lingkungan ini? Di sini akan dikemukakan beberapa poin yang digali

dari pandangan Islam, terutama yang berasal dari sumber-sumber utama, yaitu al-Qur`an dan hadits.

Pertama, mengkritik bias antroprosentrisme dalam demokrasi dan mengajukan demokrasi lingkungan hidup, kita perlu melihat bahwa kehidupan ini berharga. Flora, fauna, keanekaragaman hayati, serta makhluk-makhluk abiotik, yang dinilai tidak memiliki nilai ekonomi seperti gurun pasir, penting dihormati karena mereka memiliki nilai pada dirinya sendiri. Lebih jauh, di dalam pandangan Islam seluruh makhluk hidup di dunia ini bertasbih, memuji Allah dengan caranya masing-masing.

Dalam kaitan ini, di muqaddimah disebutkan sebuah ayat yang artinya, “Dan tidak ada seekor binatang pun di muka bumi juga burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan semuanya merupakan umat-umat seperti kalian juga,” [QS. al-Anʼam: 38].

Mengomentari ayat ini, Quraish Shihab di dalam “Tafsir al-Misbah” mengatakan,

Ayat ini menarik perhatian manusia untuk memperhatikan dunia hewan dan menyatakan bahwa hewan memiliki persamaan dengan manusia. Persamaan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah keserupaan dalam banyak hal, diantaranya hewan juga hidup, beranjak kecil hingga besar, merasa, tahu, memiliki naluri, dan lain-lain. Bahkan sebagian dari hewan-hewan itu memiliki masyarakat dan bahasa atau cara berkomunikasi antara satu sama lain sebagaimana manusia. Pernyataan al-Qur`an bahwa hewan-hewan itu adalah umat seperti manusia menuntut antara lain perlakuan yang wajar terhadap mereka.[4]

Di dalam ayat lain  disebutkan,  “Apakah  kamu tidak memperhatikan bahwasanya kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan [juga] burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui [cara]sembahyang dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan,” [QS. al-Nur: 41].

Menurut Parid, dua ayat di atas menjelaskan bahwa keberadaan alam dan berbagai keanekaragaman hayati di planet ini memiliki eksistensinya yang penting dihormati. Dan oleh karena itu, semua makhluk memiliki hak untuk hidup. Tidak adil memandang bahwa hanya manusia lah yang memiliki hak untuk hidup dan berkembang. Pada titik inilah penting ditegaskan bahwa kehidupan di alam ini memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya. Bentuk aktualisasinya bukan dengan melayani keserakahan manusia, tetapi menjadi dirinya sendiri.

Dalam kaitan ini, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menegaskan bahwa Rasulullah Saw. melaknat siapapun yang menjadikan makhluk hidup sebagai target Latihan memanah, menembang dan target latihan senjata lainnya.

Kedua, mengkritik bias antroposentrisme demokrasi dan mengajukan demokrasi lingkungan hidup, kita perlu mempertimbangkan bahwa kehidupan di planet bumi saling terkait satu sama lainnya. Dengan kata lain, kehidupan itu sesungguhnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya. Kesalingtergantungan inilah yang menciptakan keseimbangan.

Pada titik ini, al-Qur`an menegaskan, “Dan Allah telah meninggikan langit serta menciptakan keseimbangan di planet ini. Maka janganlah kalian menghancurkan keseimbangan itu,” [QS. al-Rahman: 7 – 8].

“Keseimbangan ini kita temukan dalam kehidupan bahkan dalam hal yang sederhana. Contohnya, manusia memproduksi karbondioksida dan membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sebaliknya, pohon dan tetumbuhan memproduksi oksigen dan membutuhkan karbon dioksida. Ketika banyak pohon hilang di hutan-hutan Indonesia untuk membangun sebuah proyek, maka akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan. Dan akhirnya bencana ekologis seperti banjir dan longsor yang dating tanpa tahu kapan akan berakhir,” jelas Parid menerangkan lebih jauh.

Keseimbangan atau kesalingterkaitan berbagai makhluk di planet ini diilustrasikan oleh Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama dari Turki yang wafat pada tahun 1960, laksana hamparan huruf-huruf. Sebuah huruf takkan memiliki makna apapun jika tidak dikaitkan dengan huruf-huruf yang lain. Dengan demikian, manusia adalah hanya satu huruf diantara hamparan atau deretan huruf-huruf lain yaitu aneka ragam makhluk biotik maupun abiotik di planet ini. Manusia tidak boleh jumawa dan merasa paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lain karena keberadaannya akan punah jika tidak ada pohon-pohon yang menghasilkan oksigen atau menampung air hujan sehingga menjadi sumber air bersih yang memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Ketiga, mengkritik bias antroposentrisme demokrasi, kita perlu meninjau ulang konsep khalifah di dalam ajaran Islam yang terlanjur dipahami dengan kaca mata antroposentristik.

Konsep khalifah sudah saatnya dilihat dengan kacamata antropik. Artinya, manusia sebagai khalifah memiliki tugas untuk menjaga, memimpin, dan memelihara keseimbangan kehidupan.

Di dalam demokrasi lingkungan hidup atau ekokrasi, manusia harus “aktif mendengarkan dan aktif mempertimbangkan” aspirasi alam, berbagai spesies flora-fauna, serta berbagai keanekaragaman hayati. Pada titik inilah, relasi antara “yang mewakili” dengan yang diwakili tidak berhenti pada manusia, tetapi lebih luas.

Pada titik ini, Rasulullah Saw. menegaskan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya kehidupan di planet bumi ini indah, cantik, dan manis. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalam planet ini. Maka Allah akan melihat dan meminta pertanggungjawaban terhadap bagaimana kalian bekerja memperlakukan bumi ini,” [HR. Muslim].

Kembali kepada krisis iklim yang terus dibahas dalam forum COP dari tahun ke tahun.

“Krisis ini tidak akan dapat diselesaikan jika para pemimpin dunia, termasuk pemimpin kita di Indonesia tidak mau meninjau ulang berbagai hal yang paling mendasar. Selain perlu meninjau ulang konsep pembangunan yang bercorak ekstraktif-developmentalistik, juga perlu meninjau ulang konsep dan praktik demokrasi yang selama ini berjalan,” pungkas Parid.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed