by

Dark Tourism, Konsep Kunjungan Mengenang Tragedi Alam dan Perbuatan Manusia

Kabar Damai I Rabu, 14 Juli 2021

Bali I kabardamai.id I Istilah “dark tourism” dimaknai sebagai wisata sejarah atau budaya dengan berkunjung ke destinasi terjadinya tragedi masa lalu. Tujuannya adalah mengenang nilai luhur pun mengasah rasa akan peristiwa yang telah terjadi. Lengkap dengan unsur kesejarahannya.

Dilansir dari BeritaBali.com, jaringan SuaraBali.id, istilah dark tourism diunggah di akun Instagram resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 9 Juli 2021. Diartikan sebagai kunjungan ke lokasi-lokasi tragedi, perang, bencana, hingga kematian.

Di Indonesia, ada destinasi-destinasi dark tourism yang memiliki kisah kelam, seperti Museum Tsunami Aceh. Bangunan dan lokasi simbolis untuk mengenang korban tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004.

Baca Juga: Lokakarya Membuat Canang, Upaya Mengenalkan Budaya Bali di Tokyo

Museum seluas 2.500 meter persegi ini memiliki sebuah ruangan yang dipenuhi ukiran nama-nama para korban. Serta “lorong tsunami”. Berupa bidang menurun serta alur yang melengkung, bersuasana gelap dan dialiri air yang terus-menerus merembes di dindingnya.

Musium Tsunami Aceh, Sumber Foto: ANTARA

Ada pula ruangan gelap yang dipenuhi kotak paralelogram berwarna oranye. Lantas diberi kaca reflektif yang memantulkan setiap bayangan benda yang ada di tempat itu.

Kotak-kotak paralelogram ini memiliki layar tampilan di atasnya, yang menampilkan berbagai momen saat tsunami menerjang 15 tahun lalu. Di antaranya, foto dua lelaki sedang menarik seseorang dari dalam air.

Tugu Peringatan Bom Bali

Destinasi berikutnya adalah Tugu Peringatan Bom Bali. Yaitu lokasi untuk mengenang peristiwa bom Bali pada 2002.

Monumen dilengkapi papan nama korban dan bendera-bendera berbagai negara korban.

Tragedi bom meledak ini terjadi di Jalan Legian, Kuta pada Sabtu malam, 12 Oktober 2002. Bom yang mengguncang Paddy’s Pub dan Sari Club itu menewaskan lebih dari 200 orang, sedangkan 200 lebih lainnya luka berat maupun ringan.

Dua bom pertama meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali dan ledakan selanjutnya terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, Jalan Hayam Wuruk 188, Denpasar.

Peristiwa yang disebut Bom Bali I ini dianggap sebagai salah satu aksi terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.

Peristiwa Bom Bali I ini juga diangkat menjadi film layar lebar dengan judul “Long Road to Heaven”. Pemainnya antara lain Surya Saputra sebagai Hambali dan Alex Komang, serta melibatkan pemeran dari Australia dan Indonesia.

Museum Sisa Hartaku, mengenang bencana erupsi Gunung Merapi pada 2010. Warga setempat mendirikan museum berisi sisa-sisa perabotan rumah sebagai saksi bisu bencana alam itu.

Museum yang berlokasi di Desa Wisata Petung, Sleman, Yogyakarta dahulu adalah rumah yang ditinggali Riyanto dan keluargany

Mengenang Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam merupakan salah satu bencana besar yang dialami Indonesia. Kejadian yang terjadi pada tanggal 26 Desember ini merenggut 227 ribu korban.

Melansir kontan.co.id (13/7/20), gempa bumi dengan kekuatan 9,1 skala Richter dan ketinggian tsunami hingga 30 meter ini begitu dahsyat. Karena itu, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Pemerintah Kota Banda Aceh dan Ikatan Arsitek Indonesia membangun Museum Tsunami Aceh dan meresmikannya pada tahun 2008.

Tujuan pembangunan museum ini adalah untuk mengenang becana tersebut sekaligus menjadi pusat pendidikan dan evakuasi jika bencana gempa dan tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh terdiri dari dua lantai. Lantai 1 merupakan area yang berisi rekam jejak mengenai tsunami mulai dari pra tsunami, saat tsunami dan pasca tsunami. Pengunjung juga bisa melihat foto-foto peristiwa, artefak jejak tsunami dan dioramanya. Di lantai ini juga terdapat sumur doa yang berisikan nama-nama korban yang tertulis rapi.

Sementara itu, lantai 2 merupakan area yang berisi media-media pemberlajaran seperti perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D dan toko souvenir. Beberapa alat peraga yang ditampilkan di lantai ini antara lain rancanagn bangunan yang tahan gempa dan model diagram patahan bumi.

Eksterior museum ini mengekspresikan keberagaman budaya Aceh dengan ornamen dekoratif berunsur transparansi seperti anyaman bambu. Tampilan interiornya akan menggiring Anda pada perenungan atas musibah dahsyat yang diderita warga Aceh sekaligus kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan dan kekuasaan Tuhan.

Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yaitu Badan Rekontruksi dan Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia.

Jika Anda berencana untuk liburan di Banda Aceh seusai pandemi, pastikan untuk memasukkan Museum Tsunami Aceh kedalam list destinasi yang harus Anda kunjungi.

Kunjungan Anda ke Museum Tsunami Aceh tidak akan sia-sia karena bangunan museum ini sarat dengan nilai kearifan lokal dan didesain dengan konsep memimesis kapal dan dari luar jauh terlihat seperti cerobong sehingga unik untuk direkam dalam kamera Anda.

Penyunting: Ahmad Nurcholish/dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed