Dampak Proxy : Korea Utara dan Korea Selatan, Satu Rumpun yang Terpisah

Kabar Utama657 Views

Oleh: Graceia Kirana

Semenanjung Korea merupakan kawasan pesisir paling strategis di wilayah Asia Timur, memanjang sekitar 1.100 kilometer ke arah selatan daratan Asia kontinental hingga Samudera Pasifik dikelilingi Laut Jepang. Tempat ini menjadi jalur perdagangan dunia, oleh karenanya banyak menjadi rebutan berbagai negara adi daya. Sebelum menjadi sebuah negara sendiri, kawasan ini menjadi tanah jajahan Jepang.

Diantara semua kerajaan Korea yang berkuasa, yang paling terkenal adalah dinasti Joseon yang merupakan sebuah kerajaan yang didirikan oleh Taejo yang berlangsung selama lima abad, dari bulan Juli 1392 sampai Oktober 1897. Secara resmi diganti namanya menjadi Kekaisaran Korea Raya pada bulan Oktober 1897. Didirikan setelah runtuhnya dinasti Goryeo yang beribu kota di Kaesong. Setelah mendirikan dinasti baru, Yi Seong-gye memindahkan ibu kota kerajaannya yang semula di Kaesong, bergeser agak ke selatan di wilayah Hanseong, yang sekarang dikenal dengan Seoul.

Jika dilihat dari petanya, Korea berada di antara dua negara yaitu Jepang dan China. Pada tahun 1894-1895 terjadi pertempuran darat besar pertama dikenal dengan Perang Sino-Jepang Pertama yang terjadi pada 29 Juli 1894 di Seonghwan Korea, antara pasukan Meiji Jepang dan Dinasti Qing, Tiongkok. Rusia pada saat itu memberikan dukungan militer kepada Kekaisaran Qing di Cina selama konflik, yang mengadu dua kekuatan Asia satu sama lain.

Baca Juga: Keberagaman Agama Bukan Penghalang Untuk Hidup Damai

Jepang memotong jalur suplai China untuk garnisunnya di Asan dengan blokade laut, kemudian pasukan darat Jepang dan Korea menyerbu 3.500 pasukan China pada 28 Juli, menewaskan 500 dari mereka dan menangkap sisanya; kedua belah pihak secara resmi menyatakan perang pada 1 Agustus. Pasukan Tiongkok yang selamat mundur ke kota utara Pyongyang dan menggali sementara pemerintah Qing mengirim bala bantuan, sehingga total garnisun Tiongkok di Pyongyang menjadi sekitar 15.000 tentara. Dengan hilangnya Pyongyang, ditambah kekalahan angkatan laut dalam Pertempuran Sungai Yalu, Tiongkok memutuskan untuk mundur dari Korea dan membentengi perbatasannya. Jepang membangun jembatan di seberang Sungai Yalu dan berbaris menuju Manchuria.

Pada tahun 1896, setelah Jepang mengambil alih Korea. Raja Gojong yang memerintah pada saat itu meminta perlindungan ke Kekaisaran Russia, dan selama dalam perlindungan Russia, Raja Gojong mengizinkan Kekaisaran Russia untuk mempengaruhi berbagai keputusan, sehingga paham komunis secara tidak langsung sudah masuk ke Korea. Antara tahun 1919 hingga 1925, kaum komunis Korea memulai pemberontakannya terhadap Jepang, salah satu pemimpin perang yaitu Kim Song Ju.

Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Soviet juga berhasil mengusir tentara Jepang dan masuk melalui Manchuria, Tentara Soviet dan kuasanya mendirikan rezim komunis di wilayah utara garis lintang 38˚ LU, atau paralel ke-38. Tiga minggu kemudian, pada 8 September 1945, Letnan Jendral John R. Hodge dari Amerika Serikat tiba di Incheon untuk menerima penyerahan Jepang di wilayah Selatan paralel ke-38, yang secara kasar membagi dua semenanjung. Soviet mendirikan pemerintahan komunis di Utara, dan Amerika Serikat membantu mendirikan pemerintahan militer di Selatan. Seiring berjalannya waktu, perbedaan ideologi dua negara yang memegang Semenanjung Korea, makin mempengaruhi pola pikir masyarakat asli di sana. Korea Selatan menganut paham kapitalis Amerika, Korea Utara dipengaruhi paham komunis Soviet.

Pada bulan November 1947 PBB mengadakan pemilu untuk memulai demokrasi di Semenanjung Korea, agar ada pemerintahannya sendiri. Tapi pemilu ini bisa dikatakan gagal, karena Soviet menolak sebab bisa melemahkan pengaruhnya di Korea Utara. Akhirnya, pemilu ini hanya terjadi di Korea Selatan, dan Syngman Rhee (Korea: 이승만) menjadi seorang presiden pertama Korea Selatan. Di Korea Utara, Soviet mengangkat Kim Song Ju menjadi pemimpin Korea Utara sebab Ia di besarkan di China lalu dilatih di militer Uni Soviet. Setelah diangkat menjadi pemimpin Korea Utara, Kim Song Ju mengubah Namanya menjadi Kim Il-Sung (Korean: 김일성) yang artinya “Kim yang menjadi Matahari”.

Setelah kedua pemimpin dimasing-masing wilayah terpilih, Soviet dan Amerika sepakat untuk menarik pasukannya dari Semenanjung Korea, tapi ternyata setelah ditinggal Korea Utara dan Korea Selatan mengalami berbagai konflik, terutama di wilayah perbatasan. Perang dimulai pada tanggal 25 Juni 1950, pasukan Korea Utara mengejutkan tentara Korea Selatan (dan pasukan kecil AS yang ditempatkan di negara itu), dan dengan cepat menuju ibu kota Seoul. Amerika Serikat menanggapi dengan mendorong resolusi melalui Dewan Keamanan PBB yang menyerukan bantuan militer ke Korea Selatan. Dengan resolusi ini, Presiden Harry S. Truman dengan cepat mengirim pasukan darat, udara, dan laut Amerika Serikat (NATO) ke Korea untuk terlibat dalam apa yang disebutnya “tindakan polisi.”

Intervensi Amerika membalikkan keadaan, pasukan Amerika berhasil memukul mundur pasukan Korea Utara. Tindakan ini mendorong intervensi besar-besaran pasukan komunis China pada akhir 1950. Perang di Korea kemudian menjadi jalan buntu berdarah. Pada tahun 1953, Amerika Serikat dan Korea Utara menandatangani gencatan senjata yang mengakhiri konflik. Perjanjian gencatan senjata juga mengakibatkan berlanjutnya pembagian Korea Utara dan Korea Selatan pada titik geografis yang hampir sama seperti sebelum konflik, yaitu di wilayah utara garis lintang 38˚ LU (Zona Demiliterisasi). Akhirnya, pada Juli 1953, Perang Korea berakhir. Menurut Departemen Pertahanan Korea Selatan, korban yang jatuh dari pihak mereka sebanyak 990.968 orang, sedangkan dari pihak Korea Utara sebanyak 1.550.000 orang. Secara resmi, Perang Korea secara teknis tidak pernah berakhir. Meskipun Perjanjian Gencatan Senjata Korea mengakhiri permusuhan, gencatan senjata itu tidak pernah memberi jalan bagi perjanjian damai.

Pada beberapa tahun terakhir, kedua negara ini sudah menciptakan kemajuan hubungan negara yang harmonis, seperti membuat acara reuni untuk keluarga yang terpisah antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Atau yang paling heboh yang terjadi tahun 2018, masing-masing pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan bertemu di DMZ, dan ini adalah pertemuan pertama mereka yang melakukan diplomasi perdamaian, puncaknya mereka sepakat untuk bersatu di bawah bendera Unifikasi Korea selama Asian Games 2018. Dua negara tetangga ini juga akan berpawai bersama dalam upacara pembukaan pada 18 Agustus dan upacara penutupan, 2 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sayangnya pada 2020, hubungan mereka memanas lagi karena kesalahpahaman tentang senjata nuklir, Kim Jong-un berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 2018, dua bulan setelah pertemuan impian antara Korsel-Korut. Korea Utara dan Amerika sepakat akan melucuti senjata nuklir milik Korea. Namun pengertian keduanya berbeda. Korea Utara setuju menghapuskan senjata nuklirnya apabila Amerika lebih dulu membinasakan senjata nuklirnya di Korea Selatan bersama senjata sekelas nuklir lainnya. Amerika hanya sepakat pada poin Korea Utara melucuti senjata nuklirnya. Sikap tidak mau saling mengalah ini kemudian menyebabkan kebuntuan pada program denuklirisasi kedua negara.

Perang Korea 1950 berakhir tanpa perjanjian damai, sehingga secara teknis Korea Selatan dan Korea Utara sampai sekarang masih bermusuhan. Sejauh ini ujung dari Perang Korea adalah gencatan senjata, dan upaya-upaya untuk melakukan perjanjian damai selalu menemui jalan buntu. Sebenarnya pada 2018 hubungan mereka cukup baik, akan tetapi karena kesalahpahaman, hubungan mereka memanas kembali. Seharusnya pihak Amerika tidak perlu ikut campur dalam permasalahan hubungan diplomatik Korea, permasalahan ini juga diperparah dengan tidak mau saling mengalah sehingga mengalami kebuntuan. Ini merupakan Dampak Proxy yang menjadikan Korea yang awalnya satu rumpun atau satu negara, terpisah menjadi dua negara yang bermusuhan Korea Utara dan Korea Selatan.

Graceia Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *