by

D.P: Potret Perundungan di Barak Militer

Kabar Damai I Jumat, 10 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I  Disutradarai oleh Han Jun Hee dan diadaptasi dari Webtoon populer berjudul D.P.: Dog Days karya Kim Bo Tong, ‘D.P.’ menawarkan kisah yang tidak biasa. Ia memasukkan realitas suram melalui sisi gelap dunia militer bersama tragedi-tragedi kejam yang tidak semuanya sempat terjangkau oleh bayangan penonton.

Bertotalkan 6 episode, drama ‘D.P.’ menyajikan kisah wajib militer dari seroang pemuda yang semula bekerja sebagai kurir pesan-antar makanan bernama An Jun Ho (Jung Hae In).

Selama menjalani masa pendidikan militer yang ditujukan untuk membela serta melindungi negara itu, Jun Ho mencuri perhatian seorang sersan bernama Park Beom Gu (Kim Sung Kyun) sehingga ia dijadikan bagian dari Tim D.P. atau Deserter Pursuit di Angkatan Darat.

Tim tersebut merupakan pasukan yang memiliki misi menangkap para tentara pelaku disersi, sebuah pengingkaran tugas yang ditempuh dengan meninggalkan dinas ketentaraan secara diam-diam. Sempat dipasangkan dengan senior yang tidak berdedikasi, An Jun Ho akhirnya dipertemukan dengan sosok senior yang jauh lebih berpengalaman darinya untuk mengemban tugas yang bukan ditujukan bagi sembarang orang itu.

Dia adalah Han Ho Yeol (Koo Kyo Hwan), lelaki yang dari penampilan luar terlihat sangat tidak bisa diandalkan, namun ternyata dia menjadi sosok yang berada di balik meningkatnya keterampilan Jun Ho dalam melakukan investigasi. Dalam setiap episode yang berdurasi dari 45 hingga 55 menit itu, penonton diajak untuk ikut mengumpulkan petunjuk, lalu menjalinnya sebagai sebuah jawaban agar dapat menemukan keberadaan persembunyian sang target.

Dari satu misi ke misi selanjutnya tingkat kesulitan itu pun semakin meningkat sehingga menjaga rasa penasaran bertahan untuk selalu mengikuti kerja sama tim di antara Jun Ho dan Ho Yeol.

Secara garis besarnya, masa-masa ketika An Jun Ho menjalani wajib militer sekaligus menjadi bagian dari Tim D.P. tentu bukanlah perjalanan yang instan untuk ditekuni dan dikuasai.

Meskipun terbatas dihadirkan dalam 6 episode, penonton dapat merasakan dan memahami suka duka yang dilalui oleh sang tokoh utama dalam mengemban tugasnya, mulai dari pergolakan batin dalam menentukan mana langkah yang benar dan salah, hingga keterampilan penyelidikan yang terus menerus terasah semakin tajam.

Baca Juga: Call Me by Your Name: Ketika Cinta Terhalang Norma

Karakterisasi yang kuat dari setiap tokoh juga tidak kalah berhasil dalam membuat penonton betah menyaksikan ‘D.P.’. Sang tokoh utama mengalami perkembangan karakter yang terbilang menakjubkan. An Jun Ho yang pada awalnya digambarkan sebagai sosok misterius, tertutup, dan kerap dihantui oleh trauma masa lalu, mempelajari banyak hal selama melaksanakan tugasnya dan membuatnya sedikit demi sedikit berdamai dengan bagian terkelam dalam hidupnya yang dulu.

Karakter seperti An Jun Ho menjadi terasa sangat tepat untuk dipasangkan dengan Ketua Tim D.P., Han Ho Yeol, yang menghadirkan sifat berkebalikan, tetapi keduanya mirip dari segi prinsip. Ia seolah menjadi kehangatan yang membuat sisi-sisi dingin An Jun Ho mulai mencair secara perlahan, ditambah lagi dukungan dari karakter Park Beom Gu sang sersan yang menyempurnakan kehebatan tim satu ini.

Dalam 6 episode, ‘D.P.’ seolah sedang bercerita dengan sungguh-sungguh tentang sisi gelap dari dunia wajib militer di Korea Selatan. Pada paruh awal, penonton akan diberikan suguhan gambaran tentang sosok tentara yang memiliki kekuatan “orang dalam” ataupun koneksi yang berpengaruh untuk membuatnya berada di zona aman dan serba menguntungkan selama menjalani masa wajib militer. Beranjak pada kisah yang semakin ditegangkan oleh konflik investigasi dan penangkapan para tentara yang melakukan disersi, potret-potret yang lebih kelam semakin terekspos. Perpeloncoan dan perundungan menjadi konflik paling mendominasi di sini sebagaimana kasus satu itu merupakan hal yang tidak asing lagi untuk didengar dari ranah kemiliteran di dunia nyata.

Atas nama senioritas, segala bentuk kekerasan yang mengusik fisik dan mental, bahkan pelecehan seksual, menjadi tindakan yang lazim dilakukan dari generasi ke generasi. Junior yang mengalami hal itu dari seniornya akan membalaskan dendam pada juniornya yang mendatang, sudah seperti sebuah lingkaran setan tanpa ujung, seperti sebuah tradisi yang terlanjur mendarah daging. Mereka yang masih berhati nurani pun seolah ditempatkan pada posisi yang serba salah, bila membela dihukum lebih berat, tapi membiarkan dianggap tidak peduli pada keselamatan teman sendiri. Itulah juga yang dialami oleh An Jun Ho. Ketika nuraninya dihadapkan pada gambaran dehumanisasi tersebut, Jun Ho hanya bisa terus terperangkap dalam konflik batinnya yang tergambar dari kepalan tangan.

Sentimen-sentimen yang dihadirkan oleh drama ‘D.P.’ juga meluas pada ranah-ranah lain yang masih bersinggungan dengan dunia militer, seperti gesekan dengan pihak kepolisian, peran media dalam memutarbalikkan fakta untuk menjaga nama baik institusi negara, hingga kekhawatiran keluarga. Pondasi cerita yang kokoh dan mendetail dengan ketegangan konflik yang terus meningkat itu merupakan sisi terbaik dari ‘D.P.’ untuk menjangkau predikat sebagai drama Korea terbaik di sepanjang tahun 2021 hingga hari ini.

Kehadiran D.P. sangat menarik, apalagi saya menontonnya ketika kita dihebohkan dengan perundungan dan kekerasan seksual di KPI. Jujur, ketika saya membaca rilis yang panjang itu, hati saya ikut ngilu. Yang lebih sedih lagi, saya tahu tidak bisa melakukan apa-apa selain membagi berita tersebut dan berharap publik melakukan hal yang sama karena kita tahu kasus seperti ini ajek diremehkan.

Yang membuat saya muak adalah ulah netizen yang dengan santainya berkomentar, seperti, “Laki bukan sih, kalau dipukul yang ngelawan dong,” atau “Apaan, sih cemen banget jadi laki,” dan segala macamnya. Perundungan dan kekerasan mental seperti ini tujuannya kompleks dan dikerangkai oleh relasi kuasa yang timpang. Kita tidak bisa langsung menghakimi karena kita bukan korban. Karena itulah menonton D.P. sangat mencerahkan karena semua korban perundungan dalam serial ini berasal dari berbagai latar.

Dalam sebuah adegan yang sangat memilukan, seorang korban perundungan dengan air mata mengalir bertanya kepada pemimpin/ orang yang bertanggung jawab atas base wajib militer, “Kalau kamu memang tahu saya disiksa oleh senior saya, kenapa kamu tidak melakukan apa-apa?”

Tentu saja pemimpin tersebut hanya diam.

D.P. dapat disaksikan di Netflix.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed