by

Cyberbullying, Bagian dari Cybercrime yang Terjadi Akibat Perkembangan TIK

Oleh : Galuh Edelweiss Sayyidina Rosyad

 

Dalam kehidupan manusia yang serba canggih saat ini, terdapat yang namanya kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jika ditelaah satu per satu, yang dimaksud dengan teknologi ialah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Ada pula menurut KBBI, terdapat dua pengertian teknologi, yakni

1) Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau ilmu pengetahuan terapan, dan

2) Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia.

Kemudian, yang dimaksud dengan informasi ialah sekumpulan data atau fakta yang telah diproses dan dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan bermanfaat bagi penerimanya. Sementara, yang dimaksud dengan  komunikasi ialah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, atau gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain.

Ketika kita gabungkan semua pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau yang dalam bahasa Inggris disebut Information and Communication (ICT) adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, penyebaran, dan penyajian informasi yang berfokus pada ketersediaan internet, jaringan nirkabel, dan telepon seluler. Mengutip Tech Terms, TIK mengacu pada teknologi yang menyediakan akses informasi melalui telekomunikasi.

Pesatnya perkembangan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi, terutama di era globalisasi di mana segala hal dapat diakses selama ada internet, munculnya  tindak kekerasan yang dilakukan secara online pun tak dapat dihindarkan. Kekerasan ini lebih dikenal dengan istilah cybercrime (kejahatan dunia maya). Cybercrime merupakan tindak kriminal yang dilakukan oleh pengguna teknologi yang tidak bertanggung jawab. Cybercrime memiliki beberapa ciri khas antara lain :

  1. Bersifat non-violence(tanpa kekerasan);
  2. Sedikit melibatkan kontak fisik (minimize of physical contact);
  3. Menggunakan peralatan (equipment) dan teknologi; dan
  4. Memanfaatkan jaringan telematika (telekomumikasi, media dan informatika) global.

Cybercrime telah terjadi sejak lebih dari satu abad lalu, diawali dengan kegiatan hacking yang dilakukan oleh beberapa hacker. Istilah hacker sendiri mengacu kepada seseorang yang menguasai teknologi terutama komputer. Setelah berlangsungnya aktivitas cybercrime ini, muncul kejahatan lain yang berkembang dari kekerasan di dunia nyata yang cenderung menimpa orang-orang yang lemah. Kejahatan ini disebut dengan cyberbullying.

Bullying atau perundungan sendiri merupakan hal yang familiar di negara kita. Bullying adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan dengan cara menyakiti dalam bentuk fisik, verbal atau emosional/psikologis oleh seseorang atau kelompok yang merasa lebih kuat kepada korban yang lebih lemah fisik ataupun mental secara berulang-ulang tanpa ada perlawanan dengan tujuan membuat korban menderita.

Namun, akibat mudahnya akses terhadap internet serta canggihnya teknologi saat ini, aktivitas bullying dapat dilakukan secara digital di media sosial, platform chatting, platform bermain game, bahkan melalui ponsel. Bullying yang terjadi di dunia maya ini sering kita kenal dengan sebutan cyberbullying (perundungan dunia maya). 

Baca Juga: Cyber Law dan Cyberbullying

Cyberbullying merupakan istilah yang ditambahkan ke dalam kamus OED (Oxford English Dictionary) pada tahun 2010. Istilah ini merujuk kepada penggunaan teknologi informasi untuk menggertak orang dengan mengirim teks yang bersifat mengintimidasi atau mengancam. OED menunjukkan penggunan pertama dari istilah ini di Canberra pada tahun 1998, tetapi istilah ini sudah ada pada sebelumnya di Artikel New York Times 1995.

Ada pula menurut Think Before Text, cyberbullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh suatu kelompok atau individu menggunakan media elektronik secara berulang-berulang dari waktu ke waktu untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut, Perilaku bullying melibatkan kekuatan dan kekuasaan yang tidak seimbang, sehingga korbannya berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterimanya. Jadi, terdapat kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korban, baik dari segi fisik maupun mental. Tidak seperti bullying secara fisik yang terjadi di dunia nyata, pelaku cyberbullying dapat dengan mudah menutupi identitas mereka sehingga mereka merasa lebih bebas untuk menyerang korban tanpa harus melihat respons fisik korban. Meski begitu, cyberbullying ini meninggalkan jejak digital sehingga dapat menjadi bukti ketika ditindak.

Bullying merupakan bagian dari jenis kekerasan terhadap anak. Pada tahun 2015, pemerintah mengeluarkan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Langkah-langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kejadian bullying di sekolah termasuk cyberbullying.

Bullying dapat dikelompokkan ke dalam 6 kategori, yaitu :

  1. Kontak Fisik Langsung

Tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang yang dimiliki orang lain.

  1. Kontak Verbal Langsung

Tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.

  1. Perilaku Non-verbal Langsung

Tindakan melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.

  1. Perilaku Non-verbal

Tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

  1. Cyber Bullying

Tindakan menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat media sosial)

  1. Pelecehan Seksual.

Kadang tindakan pelecehan dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.

Dampak bullying dapat mengancam setiap pihak yang terlibat, baik anak- anak yang dibully (korban), anak-anak yang membully (pelaku), anak-anak yang menyaksikan bullying (saksi), bahkan sekolah dengan isu bullying secara keseluruhan. Bullying dapat membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental anak. Pada kasus yang berat, bullying dapat menjadi pemicu tindakan yang fatal, seperti bunuh diri dan sebagainya. Lalu apa saja dampak bagi korban, pelaku, maupun saksi yang menyaksikan bullying tersebut?

  1. Dampak Bagi Korban
  2. Depresi dan marah
  3. Rendahnya tingkat kehadiran dan rendahnya prestasi akademiknya,
  4. Menurunnya skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisisnya.
  5. Dampak Bagi Pelaku

Pelaku memiliki rasa percaya diri yang tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi yang rendah terhadap frustasi. Memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang lain dan kurang berempati terhadap targetnya. Jika dibiarkan terus menerus tanpa intervensi, perilaku bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal lainnya.

  1. Dampak Bagi Saksi

Jika bullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka para saksi lain yang menjadi penonton dapat berasumsi bahwa bullying adalah perilaku yang diterima secara sosial. Dalam kondisi ini, beberapa saksi mungkin akan bergabung dengan penindas karena takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun dan yang paling parah mereka merasa tidak perlu menghentikannya. Apa saja upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying?. Upaya pencegahan dapat dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak, keluarga, sekolah dan masyarakat.

  1. Pencegahan melalui anak dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar :
  2. Anak mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying,
  3. Anak mampu melawan ketika terjadi bullyingpada dirinya,
  4. Anak mampu memberikan bantuan ketika melihat bullyingterjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman dengan mengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah, orang tua, tokoh masyarakat)
  5. Pencegahan melalui keluarga, dengan meningkatkan ketahanan keluarga dan memperkuat pola pengasuhan. Antara lain :
  6. Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan cinta kasih antar sesama
  7. Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang sejak dini dengan memperlihatkan cara beinterakasi antar anggota keluarga.
  8. Membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta mengembangkan kemampuan anak untuk bersosialiasi
  9. Mengajarkan etika terhadap sesama (menumbuhkan kepedulian dan sikap menghargai), berikan teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan.
  10. Mendampingi anak dalam menyerap informasi utamanya dari media televisi, internet dan media elektronik lainnya.
  11. Pencegahan melalui sekolah/universitas yakni :
  12. Merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada murid/mahasiswa bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan membuat kebijakan “anti bullying”.
  13. Membangun komunikasi efektif antara guru/dosen dan murid/mahasiswa
  14. Diskusi dan sosialisasi mengenai perilaku bully di sekolah
  15. Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif.
  16. Meningkatkan aktifitas diluar jam belajar di lingkungan sekolah/universitas, mulai dari olahraga dan organisasi positif lainnya.
  17. Pencegahan melalui masyarakat,  yaitudapat dilakukan dengan cara membangun kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dimulai dari tingkat desa/kampung (Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis Masyarakat atau PATBM).

Di Indonesia sendiri, tindakan cyberbullying akan diselesaikan menggunakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”) dan akan ditangani melalui jalur hukum. Oleh karena itu, korban cyberbullying dapat melakukan upaya pengaduan untuk mendapat keadilan.

 

Oleh : Galuh Edelweiss Sayyidina Rosyad, Siswi SMAN 1 Pontianak

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed