by

Childfree dalam Perspektif Islam

-Kabar Puan-13 views

Kabar Damai I Kamis, 9 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Fenomena childfree beberapa waktu terakhir menyita perhatian masyarakat seiring dengan pernyataan beberapa tokoh yang memilih untuk tidak memiliki anak. Hal ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat karena sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa tujuan utama dari pernikahan ialah guna mendapatkan keturunan.

Ustadzah Fatimatuz Zahro atau yang dikenal pula dengan Ning Imaz dari Lirboyo turut memberikan pandangannya terhadap fenomena childfree ini melalui perspektif Islam. Hal tersebut diunggah dalam kanal NU Online.

Menurut Ning Imaz diawal pemaparannya, childfree adalah sebuah pilihan untuk tidak memiliki anak.

“Childfree adalah pilihan seseorang pasangan untuk tidak memiliki anak, berkomitmen diawal pernikahannya bahwa mereka ingin hidup berdua saja,” ungkapnya.

Childfree menurut Ning Imaz dalam Islam tidak sampai pada taraf haram. Namun, yang perlu diperhatikan ialah jangan sampai menganggap childfree sebagai jawaban dari sebuah kekhawatiran semata.

“Adapun meninggalkan anjuran untuk memperbanyak umat nabi tidak sampai pada taraf haram, hukumnya hanya meninggalkan sebuah anjuran yang sebenarnya sangat diutamakan,”.

“Oleh sebab itu, untuk  fenomena ini, kita sebagai umat Islam harus mempertimbangkan dalam setiap aspek. Jangan menganggap bahwa childfree menjadi jawaban atau solusi dari hal-hal yang dihadapi seperti trauma tertentu ataupun merasa tidak sanggup mendidik anak-anak,” jelasnya.

Baca Juga: Apa Itu Childfree? Pilihan untuk Menikah Tanpa Memiliki Anak

Ia juga menuturkan, sekalipun memiliki anak tidak dianjurkan, namun syariat juga memiliki keringanan yang mana keringanan tersebut ditekankan pada kemaslahatan. Sehingga jika seseorang belum siap memiliki anak atau ada faktor yang memberatkannya sehingga syariat tidak langsung mengharamkan seseorang untuk tidak memiliki anak.

“Oleh karena itu, hukum alat kontrasepsi diperbolehkan karena jika seseorang dirasa tidak mampu memiliki banyak anak dalam mendidik, tarbiah atau takdimnya maka orang tersebut boleh membatasi jumlahnya,” tuturnya.

Menurutnya pula, yang menjadi titik perbedaan adalah jika childfree sudah diniatkan dari awal dan dijadikan prinsip hidup bahkan sudah ada komunitasnya bernama childfree community itu tidak sesuai dengan Islam sehingga ketika hendak bergabung harus benar-benar menimbangkannya dari banyak sisi tidak hanya mengikuti tren atau tidak hanya dijadikan solusi dari permasalahan yang ada tanpa adanya upaya dari diri sendiri untuk mengobati trauma dan belajar lebih banyak, menyiapkan diri lebih baik. Karena bagaimanapun juga memiliki anak ada unsur ibadah, bukan hanya sekedar lumrah yang dilakukan manusia.

Manusia diharuskan untuk lebih bijaksana untuk menyikapi fenomena ini, meskipun dalam fiqihnya diperbolehkan namun anjuran tersebut kebolehannya jangan disalahhgunakan, sehingga jika menguatkan iman kepada Tuhan dan meyakini bahwa memiliki anak menjadi bagian dari perintah agama maka hendaknya hal tersebut mengandung unsur pahala dan mengandung unsur ibadah sehingga kehidupan dapat lebih bermakna dan signifikan sehingga memiliki lebih banyak kemanfaatan yaitu dalam hal beribadah dan kemasyaratan.

“Trend childfree kali ini, kita harus betul-betul menyikapinya dengan bijaksana, jangan langsung diikuti tanpa menimbang matang meskipun dalam kacamata fiqih bukan hal haram,” pungkasnya.

Penulis: Rio P

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed