by

Cerita Arisdo Gonzalez Soal Penolakan Keluarga Terhadap Orientasi Seksualnya

Kabar Damai | Sabtu, 25 Juni 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Arisdo Gonzalez merupakan seorang aktivis gay dan juga Queer Theologian yang saat ini gencar mengkampanyekan tentang SOGIESC dan kesetaraan melalui platform media sosial. Konten-kontennya juga tidak sedikit berseliweran dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Dalam talkshow babytalk yang dipandu oleh Dena Rachman, Arisdo bercerita tentang bagaimana ia menghadapi penolakan yang dialamatkan kepadanya karena orientasinya seksualnya sebagai seorang gay.

Arisdo diawal ceritanya mendefinisikan bahwa keluarga adalah rumah tempat dapat ia dapat pulang dan merasa aman serta dapat diterima sehingga dapat merasa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Namun, itu semua adalah definisi sebelum keluarganya mengetahui dan menolaknya sebagai gay.

“Keluarga sebagai rumah aman bagiku,” ujarnya.

Sebelum mengaku sebagai seorang gay, penerimaan terhadap dirinya dari keluarga masih aman saja. Namun, terdapat beberapa triger atau tuntutan yang selalu menuntutnya sehingga tidak membuat ia menjadi diri sendiri, misalnya harus terlihat maskulin. Terlebih, keluarganya adalah keluarga batak yang menurutnya sangat patriarkis dan juga heteronormative.

Baca Juga: Laura: Kekerasan Seksual Sangat Mengancam dan Merugikan Perempuan

“Itu sangat mengganggu aku, sampai aku sadar bahwa aku adalah seorang gay dan aku ingin menjadi diri sendiri sehingga respon dari keluarga cukup menggelisahkan. Apalagi terjadi kekerasan baik kata-kata dan pemukulan yang membuat trauma bagiku,” jelasnya.

Ia bercerita, ketika ia melakukan pengakuan bahwa dirinya gay dan lulus dari sekolah teologi di Jakarta dan membuat keluarganya mengetahui bahwa dirinya sudah terbuka dalam aktivisme LGBT membuatnya dipanggil dan dihakimi oleh keluarganya.

Ditolak keluarga membuatnya percaya akan kebersamaan Tuhan yang akan terus menuntun dirinya, hal itu pula yang disampaikan oleh Arisdo pada keluarganya. Setelahnya, Arisdo mengikuti konfrensi internasional dan bertemu aktivis gay internasional dan darisana ia mendapat rangkulan yang baik dari organisasi tersebut.

“Aku mendapatkan keluarga baru dan mendapatkan penerimaan darisana,” tuturnya.

Arisdo melakukan pengakuan bahwa dirinya gay setelah melalui proses panjang, belajar tentang SOGIESC dan melakukan kerja-kerja kesetaraan. Darisana ia memahami banyak hal dan berdamai pada keadaan hingga mantap untuk menjadi dirinya sendiri.

Ditanya mengapa keluarganya sulit menerima ragam seksualitas yang ada pada dirinya. Arisdo menyatakan bahwa faktor agama menjadi penyebabnya. Terlebih keluarganya yang religius serta gereja-gereja suku yang teolognya sangat straight terlebih banyaknya tafsiran yang homophobic yang sangat dipahami oleh keluarganya pula. Hal ini membuat ketika ada yang berbeda dari keluarganya sehingga muncul anggapan salah dan harus segera dibenahi.

Dari keluarga kedua, Arisdo justru mendapatkan tempat dan banyak pelajaran berharga. Ia mengakui diajarkan agar menjadi seorang gay yang baik dan terus dekat dengan Tuhan. Keluarga barunya juga mengedukasi untuk terus berdampak baik bagi lingkungan sekitar yang justru tidak pernah ia dapatkan dari keluarga utamanya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed